Pak Adhitama berdiri di balkon dekat kamar Lean. Dipandangnya langit biru disambut burung-burung kecil sedang terbang jauh di angkasa.
"Papa nggak papa kan?" Ibu Rossa datang dan melihat suaminya sedang muram meratapi nasib sang anak yang sampai detik ini tidak ada kabarnya.
Pak Adhitama hanya mengangguk kemudian mereka berdua saling berpelukan."Ayo Pah, kita makan dulu, kamu nggak boleh seperti ini". Bujuk Ibu Rossa, sejak kejadian Lean kemarin, suaminya masih terpukul atas kecelakaan Lean.
"Iya Mah". Jawab Pak Adhitama.
Semua anggota keluarga Lean berkumpul di meja makan, semua hidangan mewah tersedia di sini.
"Eee mengenai posisi CEO gimana ya Pah?". Tanya Gibran sambil mengunyah makanan nya.Pak Adhitama hanya menghela napas.
"Jangan bicarakan ini dulu dong Kak, ini belum tau kepastian kak Lean". Tegas Daniar.
"Sudah-sudah, semuanya fokus, kita lagi menikmati makanan". Istri Pak Adhitama menengahi sedikit kegaduhan tersebut.
....."Udah mandinya? Nih bantal dan selimut, Kamu tidur di sofa." Arin memberikan kedua barang itu pada Lean.
"Bukannya ini rumah ada dua kamar, kok aku suruh tidur disini sih." Tanya Lean.
"Karena kamar satunya udah penuh ke isi barang-barang ku, udahlah tidur disini aja, ini sofa juga empuk kok." Jawab Arin dengan senyum kecil.
"Baiklah tuan putri, udah tidur sana." Lean langsung meletakkan bantal dan memakai selimut tersebut.
"Okk". Arin pergi masuk kamarnya.
Jam sudah menunjukkan waktu pukul 00:25, baik Arin maupun Lean tidak bisa tidur, hanya miring kanan, miring kiri.
Arin kemudian terjaga dan keluar kamar untuk mengambik segelas air.
Arin membuka pintu pelan-pelan, Dia kira Lean sudah terlelap tidur."Nggak biasanya mataku kuat banget jam segini masih belum ngantuk". Celetuk Arin.
Arin kaget, ternyata Lean ada di dapur dan tak disangka Dia sedang memasak mie.
"Ngapain? Laper ya?" Tanya Arin.
"Nggak sih lagi gabut aja, ya laper lah". Lean kemudian menumpahkan semua bumbu mie diatas piring.
"Hisss". Lalu Arin mengambil gelas untuk menuang air.
"Nggak bisa tidur ya, kenapa, pasti terbayang wajah ku, iya kan, emang wajahku tuh ganteng pakek banget".
"Dih, bentar-bentar, kamu emang nggak inget sama sekali tentang dirimu sendiri?".
"Nggak, yang aku inget karena aku kecelakaan lalu kamu ada di samping ku saat di rumah sakit". Lean ingin memberikan mie tersebut pada Arin, dengan garpu.
"Nggak". Arin menolak suapan Lean lalu pergi ke sofa.
"Beneran nggak mau, yaudah aku makan ya". Lean ikut pergi dan duduk di sofa.
"Geser". Perintah Arin.Lean menggeser tubuhnya semakin dekat dengan Arin sehingga dengan refleks Dia mencubit pinggang Lean.
"Ihh sakit, katanya geser". Goda Lean sambil tersenyum manis.
"Maksudnya geser ke sanaan gitu". Jawabnya.
"Btw, besok kamu ada acara keluar?".
Tanya Lean disambut anggukan Arin."Kalau kamu ada laptop, boleh aku pinjem?"
"Boleh, tapi jangan dirusakin, emang buat apa sih". Tanya Arin penasaran.
"Ya, ditinggal kamu seharian kan, mending aku main game atau apa gitu". Jawab Lean.
"Ya, besok. Mungkin aku bakalan lama, jadi kamu jangan kemana-mana, nanti hilang, aku yang repot". Arin berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya."Siap cantik".
...."Nih bayaran buat kamu". Zafir memberikan amplop coklat pada seorang wanita di parkiran kantor Lean.
"Baik Pak". Jawab wanita itu.
Di seberang, ada Gibran yang berada di mobil hitam mewah dan memakai kacamata yang sedang menunggu Zafir
.
"Gimana, beres?". Zafir masuk kedalam mobil tersebut."Tenang Pak Gibran, semua beres". Gibran kemudian keluar mobil disusul Zafir.
Wanita tersebut ternyata orang suruhan Gibran yang secara tidak langsung mengulur waktu Lean untuk pergi dengan Daniar. Saat Lean berada di toilet, Zafir memotong kabel rem mobil Lean.
.....Saat Gibran dan Zafir sampai di lift, Hima datang menemuinya.
"Pak Gibran, apakah hilangnya Pak Lean, ada sangkut pautnya dengan Bapak?" Tanya Hima.
"Kamu jangan sembarang nuduh tanpa ada bukti, dan saya nggak akan main kotor apalagi soal jabatan".
Dengan muka kesal, Hima pergi meninggalkan keduanya."Gibran bukan hanya merebut posisi itu, tapi Papa, Mama dan Jihan".
"Jihan Pak". Celetuk Zafir. .
"Yaa.. Jihan yang bergitu saya cintai malah memilih Lean, nyatanya apa, Lean tak pernah mengganggap Jihan, Dia hanya berpura-pura mencintai nya karena itu adalah permintaan ayahnya Jihan, akhirnya Jihan meninggal bunuh diri". Cerita Gibran dengan penuh amarah.
"Saya siap membantu pak Gibran". Ungkap Zafir.
.....Sepanjang perjalanan, Arin tidak tau harus melamar kerja dimana. Ia ingat dulu waktu kuliah, Dia sering makan di warung Bu Ayu. Dia berpikir akan berkunjung kesana.
Sesampai di warung tersebut, Arin terkejut karena warung itu telah berubah menjadi sebuah restaurant yang sangat keren dan ini berubah 180°.
Arin masuk ke dalam, Ia mencari apakah ini masih milik Bu Ayu. Benar saja, ada Ibu-ibu Yang keluar dari ruangan.
"Bu Ayu". Sapa Arin.
"Arin, apa kabar? Udah lama tidak ketemu".
"Sehat Bu, wah Arin ikut bahagia ya, sekarang udah jadi restaurant aja". Puji Arin.
"Ini semua berkat kerja keras anak Ibu, Jamal".
Jamal, setau Arin, Bu Ayu hanya punya satu anak, perempuan namanya Hana, yang sering bantu-bantu dulu.
"Arin pindah kesini lagi, karena Arin pengen memulai lembaran baru di sini".
"Iya Nak, oh iya kamu kerja dimana".
"Nah, itu dia Bu, Arin lagi cari pekerjaan".
"Ya, kalau kamu mau, Ibu mau nawarin kamu kerja buat jagain usaha Ibu di coffee shop. Karena Ibu sudah percayakan restaurant ini ke Jamal".
Arin sebenarnya bingung mau ambil pekerjaan ini, satu Arin tidak terlalu paham akan meracik kopi, kedua Dia tidak terlalu passion di bidang ini.
"Bagaimana ya Bu".
"Nanti Ibu ajarin gimana-gimananya, yang penting kamu mau dulu, nanti kita langsung ke sana".
Arin mengangguk, kemudian mereka langsung meluncur ke coffee shop teesebut.Setelah dijelaskan perihal kopi oleh Bu Ayu, Hp Arin berbunyi.
"Iya Pak, ada apa?".
"Ini Nak Arin, tadi ada pria minta tolong ke saya, ternyata dapur nya Nak Arin kebakaran, tapi sudah saya padamkan tadi, mas nya pingsan, segera pulang ya Nak".
Arin panik, segera Dia berpamitan dengan Bu Ayu untuk pulang kerumah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lewat Rasa (ONGOING)
RomanceDua orang berbeda dipertemukan lewat rasa dalam canda dan tawa. Seonggoh cinta di berikan pada sang maha cinta, tapi keadaan mematahkan segalanya. "Kenapa kamu berbohong padaku, apa yang selama ini kamu rencanakan Lean, kamu sebenarnya siapa? aku su...