unalome

154 30 2
                                        

Miyuki berteriak untuk Bakugo di telepon. Yang sangat di ekspektasikan bahwa si tukang sensi itu juga akan balas meneriakinya. Menjauhkan alat telekomunikasinya, ia harap-harap cemas. Namun, tidak ada terdengar suara jelek Bakugo Katsuki di seberang. Ini parah. Si tukang sensi itu sungguhan sakit ternyata. Miyuki menendang pot bunga yang diletakkan dipojok kanan ruangan dekat lorong menuju pantry (untuk penambah aura positif, katanya). Dan tentu saja dia lebih mengeluh dari sebelum ia harus direpoti oleh jurnal pekerjaan Bakugo.

'Si sekretaris umum merepotkan!' serapahnya kesal.

Semua pekerjaan memang sudah finishing, hanya saja, entah mengapa, si GM baru itu menginginkan jurnal tahunan yang biasanya disimpan oleh si sekretaris. Mungkin untuk sebuah analisa, atau mungkin untuk sebuah perbandingan. Miyuki tidak ingin tahu, ia hanya seorang staff pada umumnya. Bekerja pada jam dan job desc yang sesuai, dan tentu saja dengan upah yang sesuai pula.

Selama ia bekerja, si tukang sensi itu memang jarang sekali absen. Pernah satu kali, ia mendapati Bakugo memegang perutnya dan terlihat sangat pucat. Itu adalah bencana pertama, dan untungnya yang terakhir. Bakugo harus mendapatkan perawatan intensif sebab usus buntu dan peradangan lambung.

Miyuki merasa kasihan sebab si tukang banting dokumen itu tidak bisa menikmati sedapnya mapo tofu pedas untuk dua bulan. Tidak hanya mapo tofu, Si tukang teriak itu harus menghindari makanan yang keras, pedas, dan terlalu asam.

Mengetuk daun kaca, Miyuki memperhatikan si GM di ruangannya. Wajahnya yang tampan itu terlihat dingin. Miyuki mendongak untuk berpikir, di ruangan itu terdapat air conditioner 2PK dan dengan ruangan yang hanya berukuran empat kali lima itu sungguhan sudah dingin. Oh, apa itu yang menyebabkan wajahnya begitu kaku seperti kulkas? Miyuki yakin Bakugo boleh saja dipindah ke ruangan GM, sebab si penyuka makanan pedas itu sudah seperti water heater.

Suara Todoroki terdengar lebih berat, seperti menahan sesuatu, pergelangan tangannya terlihat merah.

"Pak, jika anda tidak sehat, saya bisa panggilkan Pak Sasaki," ujar Miyuki. Dia juga sebenarnya ingin pulang. Toh, pekerjaan sudah selesai. Bahkan si Chief juga sudah berpamitan dan mengucapkan selamat Natal dan tahun baru.

Getar ponsel milik Todoroki menjawab usulan Miyuki. Gadis itu segera berpamitan sebab tak ingin mengganggu.

**

Natal benar-benar datang di iringi oleh tumpahan kepingan salju yang begitu halus. Bakugo melewatkan do'a pada malam Natal, tapi kali ini, ia duduk bersama kedua orangtuanya dan juga jemaat lain untuk sebuah Misa.

Kemeja biru langit yang ditutupi sweater rajut menjadi pilihan sang ibu untuk Katsuki. Mereka memakai warna yang cukup senada.

Meletakkan mochi yang ia dapat pada saku, ia menoleh sebab sang ibu memegang tangannya.

"..."

"Katsuki tidak ada yang ingin dibicarakan dengan ibu?"

Untaian udara keluar dari mulut Katsuki. Kerutan di kening juga menunjukkan betapa ia merasa aneh pada ibunya yang tiba-tiba berkata super perhatian dan lembut.

"Memangnya aku ada apa?"

Decakan lidah sang ibu terdengar cukup keras dan disusul dengan cubitan dilengan. Kemudian, sang ibu memutuskan untuk tidak membuka pembicaraan lagi.

Kelap lampu dari pohon natal yang berada di pojok ruang tamu menarik perhatiannya. Di apartemen ia juga punya satu ukuran kecil. Baru seperempat saja yang dihias.

"Besok, aku mau pulang."

"Eeh, tidak ikut saja liburan ke Sapporo?"

"Siapa yang mau ikut dengan dua orang tua kasmaran!"

Two Apples [ TodoBaku ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang