III

224 276 36
                                    

Jiwoo membuka kunci pintu dan masuk ke dalam penthouse dan berjalan ke arah meja dan mengambil fotonya yang tertinggal tadi sore.

Lampu penthouse terbuka. Membuat Jiwoo menoleh ke arah sinar lampu diatas. Mujin masuk dan berjalan membuka kancing kemeja dan dasinya dengan kasar, raut wajahnya yang sangat marah nampak jelas. Ia lalu duduk di sofa dekat Jiwoo dan menyilangkan kedua kakinya dimeja dan menatap sinis ke Jiwoo.

"Hei.. kau tidak boleh sembarangan masuk ke rumah orang! Ayo pergi aku akan mengantarmu dan mengambil uangnya, aku sangat sibuk" ucapnya sambil menepuk paha Mujin yang duduk disebelahnya.

Mujin menyeringai.

"Benarkah tidak boleh sembarangan masuk ke rumah orang? Baiklah.. kau ingin minum sesuatu?"
Mujin mencoba menawarkan minuman berbicara santai.

"Aku tidak ada waktu untuk minum, ayo cepat kita harus pergi!" ucap Jiwoo duduk melambaikan tangan untuk mengajak Mujin pergi.

Mujin menghela nafas panjang, kesabaran yang ia coba tahan sudah tidak bisa ia bendung. Ia menurunkan kakinya dari meja dan duduk tegap menatap wanita didepannya.

"Baiklah.. bagaimana kau bisa masuk kesini? Apa kau mempunyai kunci duplikat? Tidak seharusnya seorang pembantu mempunyai kunci rumah majikannya! Lalu kopi murahan yang kau beli aku tidak suka! Cangkir murahan itu aku juga tidak suka! Kau juga sesuka hatimu mengganti tirai kamarku dengan renda putih, aku sangat membenci itu! Dan vas bunga ini, aku benci bunga! Bagaimana menurutmu?!" ucap Mujin dengan nada tinggi dan menatap tajam ke Jiwoo.

Jiwoo seketika terdiam merasa malu, ludahnya terasa tercekat di tenggorokannya, bibirnya kering dan matanya bergetar, ia menyadari bahwa ia baru saja membuat sebuah kesalahan besar.

Mujin menghela nafas kasar melihat ekspresi Jiwoo.

"Kau dipecat! Ambillah uang ini! pergilah dari sini dan kembalikan kunci itu" Mujin berjalan ke meja kerjanya membuka lacinya mengambil dan menaruh segepok uang euro di atas meja.

Jiwoo yang matanya mulai berkaca-kaca. Ia berjalan menunduk ke arah meja kerja Mujin dan mengambil beberapa lembar saja dan menaruh kunci duplikat yang ia buat sendiri.

"Itu adalah dagangan temanku, jadi aku harus mengambil sedikit, maafkan aku" Jiwoo membungkuk dan berjalan lemas keluar dari penthouse.

Mujin memijat pelipisnya dan menatap Jiwoo yang berjalan keluar, ia menghela nafas kasar. Ia sebenarnya bukan pria yang bisa membentak wanita, namun menurutnya Jiwoo sudah keterlaluan.

Jiwoo sampai dirumah temannya dan menyerahkan uang itu ke Miyoung.

"Kau pergi kemana? Aku pikir kau melarikan diri" ucap Miyoung terkekeh senang dengan uang yang dibawa Jiwoo, uang itu bahkan lebih banyak dari jualan rokoknya.

"Hei Yoon Jiwoo, kenapa kau diam saja?" Miyoung nampak bingung melihat Jiwoo yang biasanya periang ini menjadi murung.

Jiwoo memilih merebahkan tubuhnya dan tidur, merenungi kesalahannya karena ia dipecat, bagaimana ia akan mencari pekerjaan baru lagi.

***

Dikantor Mujin sedang membaca dengan serius sebuah kertas berisi data pribadi Jiwoo.
Taeju mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan Direktur Utama.

"Sajangnim, Tuan Beaudire mengundangmu ke mansionnya besok untuk makan malam" ujar Taeju kegirangan.

Mujin mengepalkan tangannya senang. Tidak sia-sia ia bertindak percaya diri di depan pria kaya itu.
Pria terkaya diprancis yang sempat bermain judi dengannya dan ia tawari berbisnis.

"Bawakan aku data latar belakang pria itu" ucap Mujin ke Taeju.

Mujin melihat data diri pria prancis kaya itu. Ternyata istrinya seorang wanita korea. Mujin mengusap bibirnya dengan jarinya sembari memikirkan sesuatu.

...

Beberapa hari ini Jiwoo melakukan kegiatan rutinnya berkuliah. Ia pulang dari kampus mengayuh sepedanya dan melambaikan tangan ke teman sekelasnya. Sebuah mobil mewah mengikuti Jiwoo dari belakang.

Jiwoo sudah lama tidak melempar koin ke air mancur, ia memutuskan untuk kesana, ia turun dari sepedanya dan berdiri depan air mancur dan ia memejamkan mata sembari melempar koin.

"Doaku masih sama.. pertemukan aku dengan pria tampan dan kaya raya" batin Jiwoo dalam hati.

Ia membuka matanya dan menoleh kesamping. Matanya terbelalak bulat terkejut melihat seorang pria tampan yang tidak asing disampingnya memakai setelan rapi kemeja putih, dasi pink polkadot, jas abu-abu dan celana hitam, ia berdiri melipat tangannya di depan dada menatap air mancur itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Mujin bingung menatap Jiwoo.

"Seharusnya akulah yang bertanya, apa yang kau lakukan disini?!" ucap Jiwoo ketus.

"Ahh.. aku ingin membuat kesepakatan denganmu, apa kau tertarik?" tanya Mujin menatap Jiwoo serius.

"Baiklah, aku akan mendengarkan dulu dan membuat keputusan nanti, ikutlah denganku" Jiwoo mengajak Mujin ke sebuah restoran dekat air mancur, tempat ia bekerja part time dulu dan manager yang memecatnya.

Jiwoo dan Mujin masuk dan duduk di restoran itu.

Manager yang pernah memecatnya cukup terkejut melihat Jiwoo, ia datang dan memberikan menu untuk kedua tamunya.

"Apa aku boleh memesan yang mahal?" tanya Jiwoo girang.

"Lakukan sesukamu" balas Mujin santai.

"Baiklah, bawakan aku makanan termahalmu dalam 5 menit! 5 menit! Tidak boleh lewat.." ucap Jiwoo dengan bahasa prancisnya yang pas-pas an. Mujin hanya terkekeh melihat tingkah Jiwoo.

Manager restoran itu segera berlari ke dapur dan menyiapkan makanan itu.

Sebenarnya Jiwoo hanya ingin balas dendam kepada Manager yang pernah memecatnya itu.

"Apa kesepakatan itu?" tanya Jiwoo penasaran.

"Aku ingin kau membantuku"

"Apa semacam bisnis?"

"Kau pintar juga, semacam itu" balas Mujin.

"Apa yang bisa kau berikan padaku jika aku memenuhinya?" tanya Jiwoo angkuh.

"Apapun yang kau mau?" balas Mujin enteng.

"Bayar kost ku untuk beberapa bulan kedepan" ucap Jiwoo ceplas ceplos.

"Okay" Mujin mengangguk.

"Dia bahkan tidak tau aku sudah menunggak berapa banyak" Jiwoo bergumam dan tertawa sendiri.

"Hanya itu?" tanya Mujin bingung.

"Hmm.. bayar uang kuliahku lalu aku ingin kembali bekerja di penthousemu" ucap Jiwoo.

"Okay, tidak masalah" Mujin tetap santai.

"Kau bahkan tidak terlihat seperti bisa membelikanku sebuah rumah" ucap Jiwoo tertawa meremehkan Mujin.

"Jika kau mau, aku bisa memenuhinya" Mujin menganggap uang bukan masalah baginya, karena ini bisnis besar ini bisa menguntungkan bermilyaran untuk perusahaannya.

"Uang kost,uang kuliah saja sudah cukup dan kembali bekerja. Itu saja.." Jiwoo menjulurkan lidahnya mengejek Mujin.

Mujin hanya menyeringai melihat tingkah wanita aneh didepannya ini.

"Okay! Deal!" balas Mujin cepat.

"Aku Choi Mujin" ucap Mujin menatap Jiwoo.

"Aku Yoon Jiwoo" ucap Jiwoo membalas tatapan Mujin.

Mujin tentu saja sudah tau nama wanita di depannya, karena ia sudah menyelidiki latar belakangnya sebelum membuat kesepakatan ini dan sudah mempertimbangkannya secara matang.

"Ayo kita pergi, aku tidak berselera makan lagi" ucap Jiwoo.

Mereka beranjak dari kursi itu, Manager itu berlari ke arah mereka. Berusaha menjelaskan makanan yang sedang dimasak.

"No no no ! ça fait 5 minutes! ( Tidak tidak tidak! Sudah lewat 5 menit! )" ucap Jiwoo menggerakkan jari telunjuknya dan menggeleng kepalanya bertingkah sombong.

Manager itu hanya bisa terdiam melihat tingkah Jiwoo. Mujin mengeluarkan dompetnya dan menyerah beberapa lembar uang euro ke Manager itu dan menepuk pundaknya. Ia mengikuti Jiwoo keluar dari restoran.

Love in ParisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang