"semua akan baik baik saja."
Seorang anak laki laki berdiri dihadapan diantha. Anak itu menyodorkan saputangannya kepada diantha yang sedang menangis. Saat diantha ingin meraih saputangan itu, yang diantha lihat adalah sebuah senyuman terukir di wajah anak itu.
Seketika diantha terbangun.
'ternyata semua itu hanya mimpi' pikirnya.
"nona! nona!"
Lily berlari menuju diantha sambil membawa handuk dan minuman untuk diantha.
"nona. Tuan memanggil nona ke ruangan kerja tuan"
Diantha pun mengambil handuk yang diberikan pelayan nya itu kemudian membersihkan wajahnya.
"persiapkan pakaian ku lily"
"baik nona"
****
Dibalik pintu ini terdapat ruangan kerja zenius arkenberg, ayah Diantha. Secara perlahan Diantha membuka pintu seketika itu juga aura mencekam sudah mengisi ruangan kerja ayahnya. Mata tajam zenius sudah tertuju ke diantha. Diantha sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
'aku tidak bisa mundur. Semuanya sudah terjadi' ujarnya dalam hati.
"kamu tau apa yang sudah kamu lakukan Antha? "
"Ya ayah"
'Aku tidak bisa menyebunyikan hal ini lagi'
"Kamu tau apa akibat dari melanggar perintah ayah? "
"Iya Aku tau ayah. Tapi Aku harus melakukan ini ay-"
"Untuk apa?! Untuk apa kamu melakukan nya?! Kenapa kamu selalu melanggar perintah Ayah?! "
Untuk pertama kali nya suara ayah meninggi kepada Diantha.
"Maafkan Aku ayah. Tapi Aku harus melakukan nya"
Tanpa disadari Diantha air matanya mulai mengalir. Ini pertama kali nya dia membuat ayah nya semarah itu.
"haaahh...."Diantha berusaha menghapus air matanya yang masih mengalir itu.
"Ha... Sekarang berhentilah menangis. Katakan pada ayah apa alasan kamu melakukan nya? "
Diantha tidak bisa menjawab pertanyaan ayah nya.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang ayah beri kamu satu syarat. Jika kamu berhasil memenuhi syarat itu maka kamu ayah izinkan berlatih pedang".
Diantha pun langsung berhenti menangis.
"Sungguh ayah? Apa itu ayah? Aku akan melakukan nya ayah"
'Akhirnya Aku akan bisa belajar berpedang tanpa harus sembunyi-sembunyi. Tidak sia sia Aku menangis. Hehe'
"Syarat nya yaitu kamu harus bertanding pedang melawan ayah. Ayah beri kamu waktu untuk berlatih selama 2 bulan. Jika kamu menang dalam pertandingan pedang melawan ayah maka akan ayah izin kan kamu berlatih berpedang tapi kalau kamu kalah maka hilang kan lah pikiranmu untuk berlatih bepedang"
"a-Apa?! "
"Ya itu syarat nya"
"Ta-tapi bagaimana Aku bisa menang melawan ayah? "
"Ya ayah tidak tau. Baik lah semua sudah kita diskusikan. Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan ayah"
"Ta-tapi ay-"
"Sudah sudah sekarang kamu keluar"
Zenius menggandeng tangan putri nya yang masih terbata-bata itu keluar dari ruangan.
"Semoga sukses" Ucap Zenius sambil menutup pintu.
"Ay-ayah tunggu bent-A-AYAH!!!!!! "

KAMU SEDANG MEMBACA
The Ephemeral Love of Villaines
FantasyTidak semua villain itu adalah orang yang sepenuhnya jahat. Mereka adalah orang baik yang telah tersakiti. Tapi kenapa 'villain' selalu diartikan sebagai orang jahat. Apakah mereka tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Dan kenapa hanya kisah cinta f...