EX! -chapter 31-

515 30 0
                                        

"gimana bisa kamu ngelakuin hal seperti itu ke anakmu sendiri?" tanya Raymond murka, malam itu ia baru kembali dengan Owen, keduanya dibuat penasaran dengan vas bunga yang ditaruh disamping tangga tiba-tiba saja pecah.

Setelah bibi menjelaskan penyebab pecahnya vas tersebut Raymond langsung menemui Lucy yang tengah beristirahat dikamar mereka. Mungkin hubungannya dengan Raline taklah begitu dekat, tapi Raymond tetap menganggapnya seperti anak kandung sendiri.

"Raline terluka?" tanya Raymond lagi.

"aku enggak tau," jawab Lucy acuh tak acuh.

Mendapat reaksi seperti itu jelas membuat Raymond kembali marah, "dia anakmu Lucy!"

"AKU ENGGAK MENGINGINKAN MEREKA, MAS!" seru wanita itu lalu melempar bantal yang ada dipangkuannya barusan ke lantai.

Wanita itu bangkit dari duduknya dan menatap Raymond marah, "gara-gara keluarga William sialan itu kehidupan kita jadi seperti ini! Coba saja mereka tidak ada mungkin kita sudah membangun keluarga kita dari dulu!"

Raymond menghela nafasnya kasar, "kamu boleh menyalahkan mereka tapi tidak dengan Ruby dan Raline, mereka tidak bersalah!" tegas pria tersebut dan menatap istrinya itu lembut.

Lucy mengalihkan tatapannya, ia selalu lemah dengan tatapan pria dihadapannya ini. Kedua tangan wanita itu dilipat dan ditaruh diatas dadanya.

"selama darah keluarga Demetrys masih mengalir di nadi mereka aku tidak akan pernah berhenti untuk membenci mereka!"

Raymond tak habis pikir dengan pemikiran istrinya ini, pria itu kemudian berbalik badan, membelakangi Lucy yang saat ini masih sangat emosional. Raymond lalu mematikan lampu disampingnya.

"besok aku akan pergi menemui Raline, akanku bujuk dia untuk tinggal disini kembali," ucap pria tersebut lalu menutup matanya dan tidur.

Lucy menatap tak percaya ke punggung lebar suaminya, "kamu sama sekali tak membenci dia? Tidak kah kamu terbayang wajah William setiap kali melihatnya?!" tanya wanita itu kesal dan murka.

"keputusanku sudah bulat, Lucy. Anak William atau bukan, Raline adalah anakku juga sekarang!"

Wanita yang masih berdiri disisi ranjang itu mengepalkan tangannya dengan wajah berkaca-kaca dan bibir bawah yang digigit kesal. Akhirnya daripada semakin kesal, Lucy memilih untuk pergi keluar kamar, malam ini wanita itu akan tidur di kamar tamu.

"jika tau akhirnya kita akan mempermasalahkan ini, mungkin aku akan dengan senang hati membiarkan Ruby membawa Raline pergi waktu itu," ucap Lucy sebelum meninggalkan kamar tidur mereka dengan pintu dibanting keras.

***

"kamu yakin bisa sendiri disini? Aku nginap aja deh, tidur di sofa juga enggak papa," ucap Geva penuh kekhawatiran.

Raline tersenyum kecil, "ada satpam yang setiap dua jam sekali keliling disekitar sini, ada CCTV juga," cewek itu menunjuk CCTV yang terpasang di pagar depan rumah serta pintu masuk rumah.

"enggak usah khawatir," ucapnya menenangkan cowok tersebut.

Tetap saja Geva khawatir, Raline tinggal sendirian di rumah yang sudah dibiarkan kosong selama beberapa bulan. Belum lagi keadaan cewek itu tak sepenuhnya sembuh.

"besok pagi-pagi banget aku bakal ke sini," ucap Geva setelah melalui beberapa pertimbangan dikepalanya.

Cewek itu mengangguk kecil, ia mengantar Geva sampai kedepan pagar. Melambaikan tangannya saat mobil cowok itu melaju meninggalkan depan rumahnya. Raline kembali masuk, memastikan pintunya terkunci rapat dan bersiap masuk kedalam kamar lamanya.

EX! [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang