EX! -Chapter 51-

642 24 0
                                        

Genap empat hari sudah Raline berada di rumah sakit, selama berada di ranjang pesakitan Geva tak henti-hentinya datang menemani kekasihnya tersebut. beberapa kali juga cowok itu membolos sekolah demi menemani Raline yang sendirian berada di rumah sakit. Walau sudah dikasih tahu jika Raline baik-baik saja sendiri tapi Geva tetap keras kepala.

Dan tentang Olin, yang Raline dengar cewek itu sekarang sedang berada di penjara remaja hanya itu informasi yang dimilikinya karena setiap bertanya pasti orang-orang langsung mengalihkan pembicaraan.

"Raka gimana..." gumam cewek tersebut sambil menatap keluar jendela.

Ia tak sama sekali tak tahu bagaimana kabar cowok tersebut, bertanya pada yang lain pun mereka menjawab tidak mengetahui kabar Raka.

"apa gue keluar aja kali ya?" Raline menatap pintu kamar, biasa Ruby akan menempatkan dua bodyguard untuk berjaga di depan pintu kamar. Pria itu benar-benar protektif semenjak kejadian Raline menghilang.

Pada akhirnya cewek itu memutuskan untuk turun dari atas kasurnya dan membawa tiang infus bersamanya. Ini jam istirahat makan siang, biasanya para bodyguard tersebut akan pergi makan di kantin. Ketika tangannya hampir meraih ganggang pintu, pintu bercat putih itu sudah terlebih dahulu terbuka.

"mau kemana?" tanya Ago si pelaku pembuka pintu.

"keluar, bosan gue ada di kamar terus," bohongnya.

Ago mengangguk kecil, ia lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan apakah ada bodyguard yang biasa berjaga atau tidak, setelah memastikan keadaan aman, Ago lalu membukakan jalan untuk Raline.

"gue temenin."

Keduanya lalu berjalan di lorong yang cukup sepi tersebut dengan Ago yang membawakan tiang infus Raline, mereka tak berbicara apa pun tampak menikmati kesunyian diantara mereka. Sebenarnya Raline pun bingung bagaimana harus mencari Raka, ia tak tahu jika cowok itu berada dirumah sakit yang sama atau tidak.

"Raka bukan, sih?" Ago tiba-tiba bersuara ketika mereka masuk ke dalam lift.

Cowok itu lalu menatap Raline yang ternyata sudah menatapnya, "cowok yang lo tanyain waktu itu?"

Raline mengangguk kecil, "lo tahu dia dimana?" kedua mata cewek itu berbinar menantikan jawaban yang keluar dari mulut Ago.

Ago mendongak untuk melihat lantai berapa yang sudah mereka lewati, "dia di ICU." Tangan cowok itu kemudian menekan tombol lain.

Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan Ago berjalan terlebih dahulu, "ayo, gue anter."

Hanya perlu berjalan sebentar sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah ruangan, lewat sebuah kaca transparan Raline melihat kondisi Raka. Cowok itu seperti sedang tertidur lelap dan dilengkapi dengan banyak alat medis.

"dia—"

"mati otak," sela Ago terlebih dahulu.

"tinggal tunggu keputusan keluarganya," sambung cowok disamping Raline.

Raline tak tahu harus berucap apa selain terus memandangi Raka, ia mulai berandai-andai jika dirinya tak kabur malam itu, akankah kondisi Raka tidak seburuk sekarang? Apa yang sudah Olin lakukan sampai Raka berada dalam kondisi yang buruk?

"itu bukan salah lo, Lin," ucap Ago lalu mengajak Raline untuk pergi dari sana sebelum seseorang melihat mereka.

"dia yang lepasin gue malam itu, Go," ucap Raline ketika mereka sudah kembali masuk ke dalam lift.

"he did his best, Lin."

Tak ada percakapan lagi diantara mereka sampai keduanya kembali ke ruangan Raline, cewek itu naik ke atas kasurnya sambil menatap keluar. Ucapan Ago ada benarnya tapi tetap Raline merasa bersalah. Lamunannya buyar ketika Ago menyodorkan buah jeruk yang sudah dikupas oleh cowok tersebut.

EX! [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang