🪜Perantauan

12 1 0
                                    

..🪣🪣..

05.00 WIB
Loc 📍
Di jawa.

"Huaahh" gue menguap lebar, gue terbangun dari tidur. Di samping gue ada ibu-ibu menggendong anaknya yang sekitar umur dua tahun. Gue liat ibu itu masih terlelap tidur bahkan sampai ngorok.

"Krook" suara dengkuran ibu itu.

Ada-ada aja si manusia bumi masa ngorok di tempat umum? eh ya iya lah kan tidurnya di bus masa ngoroknya harus di halte?

Oke, lupakan soal ngorok.

"Eh udah sampai to" gue ngeliat ke jendela ternyata gue udah sampai di tanah Jawa.

Bus yang gue naiki berhenti tepat di sebuah terminal di kota malang.

Akhirnya gue sampai juga, gue turun dari bus dengan membawa sebongkah baju dan barang-barang lainnya.

Jangan tanya ya kenapa gue bisa sampe ke tanah Jawa, dan mau ngapain merantau sampai ke Jawa.

Jadi gini ceritanya, pas Oppa masih di rumah sakit kemarin gue minta masukan ke Omma enaknya gue kuliah di mana lalu Omma ngasih saran gue buat kuliah di Jawa, di universitas mana pun pokoknya harus di Jawa karena Jawa itu adalah pulau legendaris kata Omma.

Gue sempet binggung waktu itu, tetapi setelah gue searching di google tentang kampus-kampus yang ada di Jawa. Gue akhirnya milih salah satu Universitas Negeri yang ada di Malang.
Bismillah semoga ketrima.

Dan ya, sekitar semingguan kemaren ada pengumuman yang menyatakan gue masuk di Universitas tersebut. Gue girang banget tentunya.

Dan tepat pada hari ini gue memulai perantauan di Jawa.

Gue sempet mikir ntar gue mau tinggal dimana, mau makan apa, gimana nasib gue di sana, gue sebelumnya belum pernah jauh dari keluarga.

Untuk tempat tinggal Omma nyuruh gue tinggal di pondok pesantren, karena kata Omma jika di perantauan pondok pesantrenlah tempat yang paling aman. Selain itu, gue bisa banyak belajar ilmu agama di sana. Awalnya gue nolak tapi karena gue emang dari dulu nggak bisa banget nolak perintah Omma endingnya gue nurut sama apa yang di katakan Omma.


..🪣🪣..

07.00

Loc 📍
Masih di Bumi Jawa, di rumah om Rahman.

"Assalamualaikum" gue mengucap salam.

"Assalamualaikum" gue ulangi salam gue lalu mengetok pintu.

"Waalaikumussalam, eh kamu udah datang Zye?" sapa ramah seorang wanita setelah membukakan pintu.

Aku mengecup tangannya.

"Udah datang Zye?" ucap seorang lelaki dari ruang tengah. Lelaki itu adalah om Rahman adik dari almarhumah Ibu.

"Hehe, iya om" balas ramah gue ke om Rahman lalu mengecup tangannya.

"Ayo silakan duduk!" suruh wanita tadi.

Gue lalu duduk.

"Aldo! Aldo! ini mbak Zyedia udah datang dari Jakarta nak!" Panggil om Rahman kepada anaknya.

Lalu keluarlah anak cowok seumuran gue. Aldo Laksamana Putra, sepupu gue yang memiliki perawakan tinggi dan gagah tapi sayangnya ia berhati snow white. Bencong!

"Iya pak ini aku keluar" ucapnya dari balik layar eh dari balik gorden ruang tengah maksudnya.

"Selamat datang mbak Zye, apa kabar? Lama tak jumpa ya?" Sapa Aldo dengan senyum alaynya yang hampir bikin gue muntah. Ih udah beneran kayak snow white, alus bener ngomongnya. Lalu dia duduk di samping gue.

Cerita di Balik CeritaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang