03. SASARAN

4.9K 577 131
                                        

BIJAK DALAM MEMBACA
°
°
°
°
°
°
°
°
°
🌱
••••





Hari Senin selalu datang dengan cara yang sama, terlalu cepat dan seolah menertawakan siapa pun yang berharap akhir pekan bisa bertahan sedikit lebih lama.

Kelas 3-3 terlihat tenang pagi itu. Terlalu tenang, dan murid memilih fokus pada buku dihadapannya masing-masing dan guru di depan yang sedang menulis beberapa materi yang akan dijelaskan.

Alice duduk di kursinya di pojok paling belakang dekat dengan jendela, punggungnya tegak, tatapannya tampak tertuju pada buku dihadapanya.

Ia tampak seperti murid teladan, rapi, patuh, dan hadir sepenuhnya. Namun hanya Alice yang tahu pikirannya yang kini melayang jauh dari ruang kelas ini.

Ada sisa mimpi buruk semalam yang masih melekat di kepalanya, bercampur dengan rasa cemas yang begitu mengusik batinnya, hingga ketentraman itu pecah dalam satu suara.

Brak.

Pintu kelas terbuka dengan kasar, membentur dinding hingga menghasilkan suara yang begitu nyaring.

Hampir seluruh murid 3-3 menoleh bersamaan. Beberapa tersentak, yang lain menatap tidak bersahabat kepada lendra.

Lendra berdiri di ambang pintu.
Kemejanya dikeluarkan, dasinya longgar, dan di tangannya tergenggam sebuah ember kecil berisi cairan berwarna merah pekat

Ia melangkah masuk tanpa izin, tanpa rasa bersalah, bahkan tanpa melirik guru yang kini menatapnya dengan wajah mengeras.

Guru yang sedang mengajar hendak membuka mulut, namun belum sempat mengeluarkan suara.

Byurr.

Cairan bewarna merah pekat kontras seperti cat yang ditambahkan sedikit air itu disiramkan tepat ke kepala Alice.
Suara tumpahan air bercampur dengan pekikan terkejut memenuhi kelas.

"Lendra apa yang kamu lakukan!" Sang guru memekik dengan keras atas tindakan  buruk Lendra.

Rambut Alice basah dan berubah warna, begitupun dengan seragamnya yang berubah warna menjadi merah, buku di mejanya bahkan terkena cairan bewarna itu.

Alice menunduk, menatap halaman bukunya yang kini tak lagi bisa dibaca.

Tangannya bergetar sedikit hendak terkepal karena ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berbahaya jika dilepaskan.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya, menahan dirinya untuk bersikap tenang.

Tatapan Alice bertemu dengan  Lendra. Tidak ada rasa bersalah di sana. Tidak ada penyesalan. Hanya kemarahan mentah yang mencari sasaran.

“Apa yang lo lihat?” tanya Lendra rendah, nyaris berbisik—namun cukup untuk membuat kelas kembali hening untuk mendengar lebih jelas apa yang akan lendra ucapkan setelahnya.

"Lendra keluar dari kelas ini!" Sang guru menarik dengan cukup kuat pundak lendra hingga lendra berbalik menghadapnya.

Lendra berbalik sebentar menatap sang guru yang baru berbicara dengan raut wajah tak bersalah dan kembali mentap ke arah Alice ,  mengabaikan sang guru.

Alice hendak membuka mulut untuk berbicara, siap mengeluarkan kalimat yang sudah lama mengendap di dadanya

Namun Lendra tidak memberinya kesempatan.
Ia meraih pergelangan tangan Alice dan menariknya kasar keluar kelas.

Lendra melangkah mendekat ke arah Toilet yang jaraknya yidak jauh dari kelas 3-3.

“Keluar! Semua keluar!” teriak Lendra begitu masuk.

SAD LIFE (TAHAP REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang