BIJAK DALAM MEMBACA
(SUDAH DIREVISI!)
Wajib baca
°
°
°
°
°
°
°
°
°
🌱
••••
Cella Davitrta siapa yang tidak mengenalnya?
Namanya selalu tertera di setiap informasi sekolah, terpampang paling atas di papan prestasi, dan selalu dibicarakan oleh murid-murid yang iri sekaligus kagum terhadapnya.
Gadis itu berjalan menyusuri taman kota yang cukup ramai sore ini dengan langkah terukur, seolah setiap langkahnya tahu ke mana dirinya harus berhenti dengan tepat.
Rambutnya terikat rapi, pakaian yang dia kenakan begitu rapi dan bersih, dan raut wajahnya terlihat tenang dan menawan, seperti biasa.
Di salah satu bangku taman, Alice duduk menyendiri.
Ia tidak sedang melakukan apa pun. Tidak membaca, tidak bermain ponsel, tidak mengamati sekitar. Ia hanya duduk. Pandangannya kosong, tertuju pada satu titik yang bahkan tidak bisa ia jelaskan sendiri.
Sejak kejadian di kantin ketika disekolah tadi, tubuhnya terasa seperti milik orang lain—ada, tapi tidak sepenuhnya ia kuasai.
“Kenapa?”
Suara Cella datang tiba-tiba, menyadarkan Alice dari lamunannya.
Alice tersentak kecil, lalu cepat-cepat mengembalikan ekspresinya seolah tidak terjadi apa-apa. Kebiasaan lama yang sudah sangat terlatih.
“Gapapa,” jawab Alice disertai Senyum tipis terpasang rapi dibibirnya.
Cella duduk di sebelahnya tanpa banyak basa-basi.
Cella menatap Alice beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang berbeda—bukan luka yang terlihat, melainkan cara Alice bernafas, ritmenya sedikit berbeda dari biasanya dan cella sadar akan hal itu.
Hening menyelusup di antara mereka untuk beberapa saat.
“Gimana lombanya?” Alice akhirnya bertanya, berusaha mengisi kekosongan.
“Menang?”
Cella mengangguk. Pandangannya tetap ke depan, ke arah pepohonan rimbun di hadapan keduanya yang daunnya bergerak pelan tertiup angin. Tidak ada kebanggaan karena kemenangan adalah rutinitas baginya—sesuatu yang diharuskan, dan bukan untuk dirayakan.
“Coba kalau gue pintar,” gumam Alice, suaranya rendah, hampir seperti bercanda. “Gue pasti jadi kebanggaan kedua orang tua gue.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja, seperti kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Senyum miris menyusul setelah perkataannya.
Cella melirik ke arahnya, lalu memutar kedua bola mata pelan. Bukan karena ia meremehkan Alice—justru karena ia muak pada perkataan Alice.
“Gue balik,” ucap Cella sambil berdiri dari duduknya. “Nyokap nungguin.”
Langkahnya terhenti oleh satu pertanyaan sederhana, yang membuat Cella terdiam untuk sesaat.
“Nyokap lo udah balik?” Alice tampak bingung. Karena setahunya, ibu Cella masih berada di luar negeri, sibuk dengan urusan yang tak pernah benar-benar dijelaskan Cella kepadanya.
Cella menoleh setengah badan. Tatapannya tenang, tapi kata-katanya terdengar tajam.
“Anak mereka masih di sini,” ucapnya datar.
Ia berhenti sejenak, memastikan kalimatnya tepat.
“Jadi apa alasan buat mereka nggak pulang?”
Lalu Cella melangkah pergi, tidak ingin mendengar perkataan Alice lagi
KAMU SEDANG MEMBACA
SAD LIFE (TAHAP REVISI)
Novela Juvenil(SEDANG DIREVISI, DISARANKAN UNTUK TIDAK DIBACA SAAT INI HINGGA TAHAP REVISI SELESAI KARENA ADA BEBERAPA PLOT YG DI UBAH, HAVE FUN GUYS..) °°° Kenapa bisa seperti ini?, kenapa alur hidupku begitu menyedihkan?, dan kenapa mamah harus pergi meninggal...
