Retakan yang Senyap

604 74 7
                                        

​Lonceng sekolah sudah lama berhenti berdenting, menyisakan kesunyian yang merayap di lorong-lorong SMA Harapan Bangsa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​Lonceng sekolah sudah lama berhenti berdenting, menyisakan kesunyian yang merayap di lorong-lorong SMA Harapan Bangsa. Di dalam kelas yang separuh gelap oleh bayangan sore, Lee Jeno masih mematung di bangkunya. Pandangannya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan percakapan singkatnya dengan Giselle semalam.

​"Hanya dibaca, ya?" Jeno bergumam lirih, sebuah senyum hambar tersungging di bibirnya senyum yang menyimpan kombinasi antara kegelisahan dan rasa bersalah yang mulai mengakar.

​Ia sadar, debar jantung yang tak terkendali setiap kali memikirkan gadis baru itu adalah sebuah pengkhianatan senyap terhadap seseorang yang selama ini setia di sisinya. Namun, sebelum lamunannya melangkah lebih jauh, sebuah getaran memutus bayangan Giselle.

Nancy ❤️
Jen
Jeno
Sayang...
Bisa jemput sekarang?

​Jeno mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Jemarinya bergerak kaku di atas layar.

Jeno
Sepuluh menit lagi aku sampai.

​Ia bangkit, menyambar jaketnya, dan melangkah cepat menuju parkiran. Di atas motornya, Jeno membelah jalanan kota, namun pikirannya tertinggal jauh di koridor sekolah pagi kemarin. Sesekali ia tersenyum tanpa sadar, mengenang bagaimana Giselle mendongak menatapnya dengan mata bulat yang penuh kejutan. Perasaan ini asing, begitu kuat hingga membuatnya merasa seperti orang asing bagi dirinya sendiri.

​Saat tiba di gerbang, Nancy sudah berdiri di sana. Wajah cantiknya ditekuk, tangannya bersedekap di depan dada.

​"Ini sudah lewat dua puluh menit, Jen," protes Nancy, suaranya tajam namun terselip nada manja yang biasanya membuat Jeno luluh.

​"Maaf, tadi ada sedikit kendala di jalan," dusta Jeno, suaranya terdengar datar di telinganya sendiri. "Ayo naik."

​"Aku lapar. Mau makan bakso langganan kita dulu sebelum pulang," pinta Nancy sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Jeno, sebuah kebiasaan yang tiba-tiba terasa "berat" bagi Jeno sore itu.

​Setibanya di warung bakso, suasana terasa berbeda. Jeno yang biasanya menjadi pendengar yang antusias, kini hanya menatap kosong ke arah mangkuknya yang mengepulkan uap.

​"Jen? Kamu mau sambal yang banyak seperti biasanya?" tanya Nancy, mencoba memecah keheningan.

​Jeno tidak bergeming. Matanya menerawang jauh, seolah jiwanya sedang tidak berada di sana.

​"Jeno!" Nancy melambaikan tangan di depan wajahnya, suaranya meninggi karena cemas sekaligus kesal.

​Jeno tersentak. "Iya, Gis—" Kalimat itu terputus di udara. "Maksudku, Nancy."

​Suasana mendadak membeku. Nancy menurunkan tangannya perlahan, tatapannya berubah tajam, menelusuri setiap inci ekspresi Jeno yang kini terlihat kikuk.

​"Gis? Siapa dia?" tuntut Nancy. Suaranya rendah, namun penuh intimidasi.

​"Kamu salah dengar mungkin," Jeno buru-buru meraih botol sambal, mencoba mengalihkan perhatian. "Sini, biar aku yang takar sambalnya."

​"Jangan bohong, Jeno!" Nancy menepis tangan Jeno dari botol itu. "Panggilanmu berubah. Sejak tadi kamu tidak memanggilku seperti biasa. Kamu bicara seperti kita ini orang asing. Dan soal pendengaranku... kamu lupa kata dokter? Aku bisa mendengar bisikan di ruang sebelah, apalagi nama yang baru saja kamu sebut dengan jelas."

​Jeno terdiam. Kepala tertunduk dalam, rasa bersalah menyergapnya seperti air bah. Ia tahu, berbohong di depan Nancy yang peka adalah usaha yang sia-sia.

​"Maaf..." lirih Jeno, sebuah kata yang lebih tajam dari sembilu bagi Nancy.

​Nancy mendorong mangkuk baksonya hingga bergeser jauh. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia menolak untuk terlihat lemah. "Aku kehilangan selera makan. Aku pulang sekarang."

​"Tunggu, biar aku antar," Jeno ikut berdiri, mencoba meraih lengan Nancy.

​Nancy menggeleng tegas, mundur selangkah. "Tidak perlu. Hubungan kita... cukup sampai di sini, Jeno."

​Kata-kata itu menghantam Jeno seperti tamparan keras. Ia merasa dunianya sedikit berguncang. Nancy, gadis yang tumbuh bersamanya, kini berdiri sebagai orang asing yang terluka karena ulahnya.

​"Baiklah," Jeno menghela napas, menatap Nancy dengan sisa-sisa ketulusan yang ia miliki. "Aku terima keputusanmu. Aku harap... kita masih bisa berteman."

​Nancy berhenti di ambang pintu warung, memunggunginya. Bahunya sedikit bergetar. "Berteman? Mungkin suatu saat nanti. Tapi untuk sekarang, kamu adalah mantan yang paling ingin kuhapus dari ingatanku."

​Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Namun, Jeno tidak membiarkannya. Ia segera menyusul, mencekal pergelangan tangan Nancy dengan otoritas yang kembali muncul, meski hatinya sendiri remuk.

​"Aku yang akan mengantarmu pulang," tegas Jeno. "Tidak ada penolakan, Nancy. Anggap saja ini tanggung jawab terakhirku untuk memastikan kamu sampai di rumah dengan aman."

​Sore itu, di atas motor yang melaju membelah senja, tidak ada lagi pelukan hangat. Hanya ada jarak yang membentang di antara dua punggung yang kini saling membelakangi dalam diam.

RUANG ANTARA KITA | JENSELLE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang