"Bisakah Kita Bersama?" -Harry untuk Hermione
***
Kisah tentang pahlawan dunia sihir yang berusaha mendapatkan hati perempuan cantik berambut coklat lebat dan cerdas seperti ibunya, Lily.
Tetapi Harry hanya bisa mengukir senyuman disaat ia tahu, b...
"apakah Harry juga menganggapmu sebagai sahabat Hermione?"
"tentu saja!" ujarnya girang "apa kau pikir Harry menganggap ku musuh Luna?" Hermione terkikik kecil diakhir kalimat, bertanya dengan main-main tak menganggap pertanyaan Luna dengan serius
Luna tak perlu menganggapi dengan kata-kata, mengangguk kecil pun sudah cukup baginya, sadar bahwa Hermione memang sama sekali tak peka.
Posisi Ron dan Hermione kali ini menjadi Prefek Gryffindor yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktu berduaan. Itu memang menyakitkan bagi Harry, seharusnya dialah yang mendapat lencana itu. Kebencian berkobar didalam matanya, ia sangat membencinya kenapa Profesor Dumbledore tak menjadikannya sebegai prefek? bagi Harry, Ron hanyalah sebagai pelengkap dalam trio mereka. dan menurutnya Ron belum cukup untuk dijadikan sebagai prefek
Di Ruang rekreasi Gryffindor terdapat seorang lelaki yang sedang menulis sesuatu di perkamennya. Pikirannya tak fokus dengan apa yang ditulisnya. Mendengar suara pintu terbuka tampaklah sebuah pasangan yang di idamkan oleh para wartawan.
Tentu saja. Itu adalah Ron Weasley dan Hermione Granger.
Melihat tangan mereka yang sedang terikat otomatis membuat kecemburuan Harry menyala-nyala. Meskipun ia sudah berkali kali melihat kedua temannya itu bermesraan ia tetap saja cemburu, tak suka melihatnya
Hermione tersenyum ketika pandangannya bertemu dengan mata Harry, dan ia segera berlari duduk disampingnya.
"Hei Harry" sapanya, melihat wajah Harry dari dekat
"Hei" sapanya, menolak berhubungan kontak dengan Hermione apalagi Ron
Keduanya memang tampak dekat, namun memang tak sedekat seperti dulu bagaikan magnet yang berpelukan setiap saat.
Pemilik rambut Weasley itu juga mengikuti Hermione duduk, ia tidak duduk disamping Harry seperti dulu melainkan ia lebih mendekat pada Hermione, pacarnya.
"Hermione, apa kau sudah mengurus masalah yang terjadi ditahun ke tiga tadi?" tanya Ron sengaja agar Hermione tak memperhatikan Harry sepenuhnya. Harry menggenggam penanya erat-erat dan siap mematahannya, ia sudah tau perbuatan Ron yang seperti ini. Sikap Harry yang cemburuan pun juga perlu mendapatkan sedikit kasih sayang.
"sudah Ronald" jawabnya sama sekali tak memandang pacarnya, gadis itu lebih fokus membaca buku yang berada dipangkuan Harry.
Ron pun diam-diam juga suka marah pada hal-hal kecil, sekecil apapun itu mereka selalu mendebatkannya. Hal itulah yang Hermione benci dari sikap Ron yang selama ini disembunyikan oleh publik sekaligus Harry.
"Hermione apa kau sudah mencoba nastar yang dikirim ibuku?" lagi-lagi Ron mempertanyakan hal yang tak berguna apalagi gadis yang ditanya sedang malas membalas pertanyaannya, padahal nastar itu sudah dikirim ibunya beberapa hari yang lalu, bahkan Ron tau ia sudah mencicipinya.
Semua cara akan Ron lakukan demi mendapat perhatian dari gadisnya. Hanya saja cara yang digunakan kadang juga tak mempan untuk mendapatkannya.
Disudut pandang Hermione, Ron memang sangat lucu dan menggemaskan, kadang dia juga sangat tolol tentang beberapa hal yang membuat Hermione membenci kepribadiannya yang buruk;
'cup'
Terdengar suara kecupan yang terngiang ditelinga Harry, yang pasti Ron telah mencium Hermione. Bukan dibibir tetapi dipipi.
"RON!" bentak Hermione yang tak suka kelakuannya secara tiba-tiba. Sedangkan lelaki itu tak menginginkan perhatian Hermione teralihkan oleh apapun selain dirinya.
Kadang Hermione terpaksa menuruti beberapa permintaan bodoh Ron demi mempertahankan hubungan mereka. Meskipun dirinya sendiri tau bahwa dia sedang menjalani hubungan yang tak sehat.
Gadis itu juga kesal sekaligus lelah menghadapi sikap manja Ron yang setiap malam selalu menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah miliknya. Hanya demi mengerjakan tugas pacarnya ia rela mengurangi jadwal tidurnya dan menahan kantuk beratnya.
dan Harry? dia tersenyum dalam diam saat melihat kejadian barusan. Senang akhirnya Ron kena marah Hermione.
"sebentar saja, aku meminta mu meninggalkanku dan Harry sendirian" tegas Hermione yang membuat Weasley itu terkejut, namun dibalik wajah tegasnya ia sedang memakai topeng yang tebal
Ron langsung berdiri dengan marah menghentakkan kakinya dan menatap tajam seperti pisau. Sekejap Hermione sadar bahwa bukan dirinya lah yang ditatap, melainkan seseorang yang disampingnya, Harry.
Mata Hermione langsung tertuju pada wajah Harry, seolah bertanya mengapa tatapan yang Ron berikan seperti itu?
Setelah rambut merah keluar dari ruang rekreasi melewati potret nyonya gemuk, saat itu juga Hermione menyadarkan kepalanya ke bahu lelaki itu.
Tak perlu ditanyakan lagi keadaan hati Harry yang berpacu sangat cepat, ia tak perlu lagi menyembunyikan senyum indahnya. Dengan Hermione yang berada disisinya mampu membuatnya lebih damai dari pada sebelumnya.
"I Miss you Harry..." ucap Hermione, menutup matanya dan menikmati bahu Harry sebagai sandarannya
"aku juga memilikinya Hermione, lebih dari yang kau bayangkan"
Batin Harry tersenyum sedih
"kau kenapa?" tanya Harry, hanya kalimat itulah yang mampu keluar dari mulutnya.
"hanya lelah saja"
Hermione mengambil tangan Harry dari bukunya dan mengaitkan jari jarinya dengan erat. Lelaki itu menatap tangan mereka yang saling terikat, Pupilnya melebar, menatapnya dalam.
Genggaman Hermione yang erat mampu mengguncang hati milik Harry, dan bertanya-tanya apakah dikemudian hari ia masih bisa mengenggam tangannya dan melihat senyumnya yang indah?
Kemudian ia menembuskan napasnya perlahan sembari menerima semuanya dengan tulus-
"Bisakah seperti ini selamanya?"
Ia memberi sedikit harapan pada dirinya sendiri. Meski dirinya tahu bahwa itu tidak akan pernah terjadi sama sekali.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.