Dua Orang Ini Tidak Ada Bedanya

255 28 8
                                    

Vote dulu sebelum baca :)
Enjoy!

•||•||•||•—

Sebuah mobil mewah berwarna abu-abu berhenti di depan sebuah mansion megah. Pintu dibuka dan sosok pria tegap dengan segala kesempurnaannya keluar dengan menggendong ala pengantin satu pemuda. Aslan mengernyit saat memperbaiki posisi Zian, kakaknya ini sangat ringan. Apakah Zian mengatur pola makannya dengan baik saat Aslan pergi, Aslan berani mengatakan bahwa berat badan Zian setara dengan sapu penjaga kebun.

Aslan tidak tahu apabila pemikiran jujurnya didengar oleh Zian, maka pasti Zian akan meninju wajah Aslan lalu mengurung diri di kamar, ngambek.

Pintu dibuka oleh seorang bodyguard, melangkah masuk, Aslan akhirnya bisa melihat pemandangan mansion Lorenzo dari dalam. Ketika dirinya melewati ruang tamu, Aslan mendapati sosok pria yang nampak terlelap dengan posisi duduk di sofa tunggal, sementara laptop di meja ditelantarkan menyala. Pria itu, tentu saja Abercio Franklin Lorenzo. Ayahnya. Aslan berjalan menuju lift lalu menekan tombol yang akan membawanya ke lantai dua, dimana kamar Zian, dirinya dan dua kakaknya yang lain berada.

Sampai di pintu kamar Zian, Aslan terlebih dulu membenarkan posisi Zian agar dirinya bisa menumpu tubuhnya dengan satu tangan dibawah pantat, sebelum membuka pintu tersebut dengan tangan lain. Begitu masuk, warna biru kegelapan langsung memenuhi pandangannya. Itu sama dengan yang ada dalam ingatannya. Suasana di dalam kamar Zian lebih seperti pemandangan malam yang tenang, ada bulan dan bintang-bintang juga di atap-atapnya.

Dibaringkannya lelaki yang lebih tua itu dengan lembut diatas kasur, menarik selimut hingga mencapai dada, dan hal terakhir yang dilakukan Aslan sebelum beranjak keluar adalah membubuhkan ciuman ringan di dahi sang kakak dan berbisik,

"Sweet dream, little one."

~•~

"Ayah .." ternyata, ayahnya bukan orang yang sulit dibangunkan. Terbukti dengan dia mulai bangun ketika Aslan yang kini berlutut menelponnya sembari menepuk pelan pipi tirus itu.

Aslan menghela napasnya. Dilihat lagi, ayahnya nampak kurus meski otot perut dan lengan berkata lain. Apakah berat badannya akan sama ringannya dengan Zian?

Aslan berdiri kemudian pergi mengemasi semua kertas dan laptop untuk dibawanya ke ruang kerja milik sang ayah.

"Aslan? Dah sampai kamu." Aslan melirik ayahnya yang baru setengah sadar lantas mengangguk.

"Ayah istirahat sana, kerjaannya biar Aslan yang beresin. Ayah pasti belum makan, kan? Makan dulu, abis itu langsung tidur." Pemuda itu pasti buta jika tidak menyadari kantung mata hitam yang akan membuat panda merasa iri.

Intonasi yang memercik pada kata-katanya sama sekali tidak memberikan ruang untuk protes. Namun akhirnya Abercio tetap menurut dengan enggan sekaligus lega.

Pria kepala tiga itu menepuk bahu putra bungsunya, "jangan memaksakan diri." Yang dengan semangat langsung dibalas dengusan oleh Aslan. Lihat siapa yang bicara.

Dan, ya. Sisa hari itu Aslan habiskan mendekam di ruang kerja Abercio, dengan segelas es kopi kesukaannya.

~•~

"Hah ... selesai sudah." Setelah laptop di depannya mati, Aslan segera berdiri lalu merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.

Aslan mampu menyelesaikan pekerjaan 'orang dewasa', karena selama empat tahun bersama Opa, Aslan belajar banyak hal. Tugas-tugas perusahaan seperti yang Aslan telah kerjakan ini adalah salah satunya. Selain itu, otaknya yang seperti spons juga banyak membantu. Terima kasih kepada Aslan yang asli.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 04, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Aslan's TransmigrationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang