***42. Lamaran Mendadak (End) ***

26 1 0
                                        

Happy reading 😊

...

Seharusnya, sore hari ini Rahma datang ke pernikahan Savyra. Memang tak sopan sebenarnya, sengaja tak datang ketika sudah diundang. Namun, mau bagaimana? Hatinya tidak akan sekuat itu ketika menyaksikan orang yang selama ini ia cinta bersanding dengan orang lain. Kecuali jika hatinya beku, ia pasti akan datang.

Suasana pantai yang sepi, dengan suara deburan ombak tak sedikit pun bisa menghilangkan lara dihatinya. Dalam lamunannya, ia memikirkan bagaimana situasi diantara mereka nanti. Meski ia akan berusaha profesional, tapi tak bisa dipungkiri rasa canggung akan muncul nanti.

Biarlah untuk sehari ia membuat orang panik mencarinya, sehari ini saja ia ingin menenangkan diri dari semua yang menjadi beban dalam pikirannya.

🍔🍔🍔

Di tempat lain, seorang pria dalam balutan setelan jas tampak tersenyum tipis membalas sapaan para tamu undangan.

Matanya mengedar ke segala arah, berusaha mencari keberadaan orang yang sudah ia nanti sedari tadi. Namun, orang tersebut belum tertangkap indra penglihatannya.

"Kan," tepukan pada bahunya membuat pria itu menolehkan kepala miliknya. Seorang wanita cantik dalam balutan gaun pengantin berdiri tepat dihadapannya-Savyra.

Wanita itu penasaran dengan ekspresi sepupunya. Terlihat bingung dan sendu dalam waktu yang bersamaan. Maka dari itu ia menghampiri Arkan.
"Kenapa?" tanya Savyra.

"I'm ok," ucap Arkan ragu.
"Rahma belum datang?" mendengar itu, Arkan hanya bisa mengangguk.

Ia tidak tahu dimana Rahma saat ini, beberapa kali ia telepon. Namun, telepon darinya tidak pernah diangkat. Pesan yang ia kirim pun, tidak ada yang dibalas atau dibaca satupun. Kemana Rahma.

"Coba tunggu beberapa menit lagi Kan," Arkan hanya mengangguk sebagai balasan. "Gue balik ke pelaminan ya, takut suami gue nyariin," detik berikutnya, Savyra pergi meninggalkan Arkan yang masih diselimuti kebingungan.

🍔🍔🍔

Beberapa menit berlalu, dan tidak ada tanda-tanda Rahma datang. Sebuah perasaan sedih dan kecewa tiba-tiba muncul dalam hati Arkan. Padahal ia belum mengatakannya, tapi sudah ditolak saja.

Arkan menghampiri Savyra di pelaminan, ia meminta ijin pergi untuk menenangkan diri. Ia perlu menghirup udara segar, untuk meringankan fikiran nya yang kacau.

Ia akan hubungi Rahma lagi jika fikiran nya sudah membaik seperti semula. Arkan pergi dari gedung tempat Savyra menikah. Melajukan mobil miliknya dalam kecepatan sedang. Arkan mengemudikan mobilnya tanpa tau arah dan tujuan.

Mobilnya hanya berjalan lurus ke depan. Hingga tak terasa, mobil yang ia kendarai mengarah ke sebuah pantai yang terlihat sepi pengunjung. Baguslah, tempat itu bagus untuk ia bisa menenangkan diri, fikir nya.

Arkan mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobilnya. Melepas jas miliknya, dan melepaskan kancing yang terasa mencekik lehernya, arkan juga menggulung lengan kemejanya hingga batas siku.

Setelah memastikan mobil miliknya terkunci, Arkan kemudian berjalan menuju ke pinggir laut. Pria itu berjalan pelan, dengan pandangan yang kosong. Cincin yang ia persiapkan masih berada dalam saku celana miliknya.

Mr. Burger (Akan Di Revisi Total) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang