Jaffan x Jevan
Jisung x Jeno
______________________
Jaffan
Hari semakin gelap, tapi aku masih di pemakaman, ya benar pemakaman. Tadi pagi aku mendapatkan telepon dari keluargaku, bahwa calon tunanganku mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal di tempat, aku yang sedang di luar negri untuk mengurus pekerjaan tanpa pikir panjang langsung saja melakukan penerbangan kembali ke tanah lahir ku.
Butir butiran bening berjatuhan aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mataku, bagaimana aku harus melalui keadaan ini, bagaimana dengan kedepannya
"TUHAN KENAPA KAU TIDAK CABUT SAJA NYAWAKU MENGGANTIKAN NYAWANYA?!!!"
Aku memandangi batu di atas pusara, aku menyesal mengapa saat kejadian aku tidak bersamanya agar kita bisa pergi bersama, namun nasi telah menjadi bubur, dan aku tidak bisa mengubah apapun.
Malam semakin larut setelah pemakaman Jevan selesai. Aku memilih langsung pulang tanpa menghiraukan panggilan keluargaku yang memintaku menginap di rumah mereka. Aku hanya ingin sendiri malam ini, atau mungkin lebih tepatnya aku ingin bersama pikiranku yang terus dipenuhi oleh sosok Jevan.
Rumah yang biasanya terasa nyaman kini terasa begitu dingin. Tidak ada pesan darinya yang muncul di layar ponselku, tidak ada panggilan darinya yang memintaku untuk segera beristirahat, tidak ada lagi apa pun yang menunjukkan bahwa Jevan pernah menjadi bagian dari kehidupanku selain kenangan yang terus berputar di kepalaku.
Aku menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamar tanpa tujuan. Mataku terasa perih akibat terlalu banyak menangis, namun air mata itu seakan tidak ada habisnya. Setiap kali aku mencoba menutup mata, yang kulihat hanyalah wajah Jevan. Senyumnya, tawanya, caranya menatapku ketika aku sedang mengeluh tentang pekerjaan.
Semua kenangan itu datang tanpa permisi dan menghancurkan pertahanan yang sejak tadi berusaha kubangun. Aku masih tidak percaya bahwa pagi tadi aku berdiri di depan pusaranya. Aku masih tidak percaya bahwa orang yang beberapa hari lalu masih berbicara denganku kini hanya tersisa nama yang terukir di batu nisan.
Tanpa kusadari rasa lelah perlahan mengambil alih tubuhku. Pikiranku masih dipenuhi berbagai penyesalan yang tidak ada ujungnya, namun mataku sudah terlalu berat untuk terus terbuka. Suara hujan yang turun di luar jendela terdengar samar di telingaku sebelum akhirnya semuanya berubah gelap.
______________________
Aku tidak tahu sejak kapan aku berada di tempat itu. Yang kutahu, saat membuka mata, aku berdiri di sebuah taman yang terasa sangat familiar. Langit terlihat cerah dengan angin yang berembus pelan, membawa aroma rumput yang masih segar. Tempat itu mengingatkanku pada taman yang pernah kudatangi bersama Jevan beberapa tahun lalu. Untuk sesaat aku hanya berdiri diam, mencoba memahami apa yang sedang terjadi, sampai sebuah suara yang sangat kukenal membuat seluruh tubuhku membeku.
"Jaffan."
Jantungku seakan berhenti berdetak ketika mendengar suara itu. Suara yang sejak pagi terus kurindukan. Suara yang kupikir tidak akan pernah kudengar lagi. Perlahan aku menoleh ke belakang dan saat itulah aku melihatnya. Jevan berdiri tidak jauh dariku dengan senyum yang begitu familiar. Tidak ada luka di tubuhnya, tidak ada darah, tidak ada apa pun yang mengingatkanku pada kecelakaan yang merenggut nyawanya. Dia berdiri di sana seperti biasanya, seperti Jevan yang selalu kukenal.
Aku tidak mampu mengatakan apa pun. Kakiku bergerak lebih cepat daripada pikiranku. Aku berlari menghampirinya lalu memeluk tubuhnya erat tanpa memberi kesempatan padanya untuk berbicara. Aku takut. Takut jika aku melepaskannya sedikit saja, dia akan kembali menghilang. Aku takut jika semua ini hanyalah ilusi yang akan hancur begitu aku tersadar dari tidurku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jevan
FanfictionKumpulan oneshot, twoshot cerita jn bott, dengan nama Alaska Jevan Lesmana. Typo? Maaf saya masih amatir, bilang saja di kolom komentar. Terimakasih
