25. Jangan Luluh

11.2K 1.1K 78
                                        

Bab 22, 23, dan 24 hanya ada di PDF. Bisa juga dibaca di Karyakarsa.

*

25. Jangan Luluh

"Wah, gue kayak lagi hidup di dunia fiksi."

Komentar Selly setelah aku selesai menceritakan semuanya, membuatku mencebikkan bibir. "Lebih tepatnya sinetron. Drama abis hidup gue, ya Allah."

Selly malah ngakak, sampai perutnya yang buncit itu kelihatan bergetar. Saat ini aku sedang berada di rumah Selly. Dia sangat penasaran setelah pagi tadi melihatku berangkat bersama Wisnu. Aku yang sibuk dengan banyaknya pekerjaan, menjanjikan akan bercerita setelah pulang kerja. Dan inilah saatnya. Kebetulan Mas Herman juga sedang lembur, jadi aku bebas membahas apa pun.

"Terus soal yang ke Mahameru, emang kebetulan atau itu sebagian dari rencana dia deketin lo?"

"Katanya, emang udah dua tahunan Mas Krisna bujuk dia buat gantiin ngurus Mahameru," kataku sambil memeluk bantal sofa. "Tapi Wisnu-nya belum bisa karena lagi bantu ayahnya balikin perusahaan yang kurang stabil. Terus tiga bulan sebelum jadi bos kita, katanya dia iseng lihat profil Mahameru di Google. Nah di situ dia lihat muka gue. an dia dibantu Mas Krisna buat kasih info detail soal gue. Termasuk gue yang masih jomlo."

Selly melongo, sementara aku hanya menyengir. Temanku ini pasti syok. Dibanding dia, aku jauh lebih kaget saat kemarin Wisnu menceritakan semuanya. Tidak menyangka jika kenyataannya akan seperti itu. Sangat jauh dari bayanganku. Bahkan sampai sekarang, aku masih berusaha mencernanya.

"Terus tadi pagi lo sama Wisnu berangkat bareng. Kalian udah in relationship?"

"Enggaklah, gila lo," balasku, cepat.

"Kenawhy? Kan udah jelas kalau masalah kalian itu cuma kesalahpahaman yang berlangsung selama ribuan purnama."

Aku berdecak. "Ya kali secepat itu? Gue aja sampai sekarang masih syok. Lagian, gue masih nggak bisa lupa sama perlakuan dia dulu."

"Jadi, mau balas dendam?"

"Nggak, sih. Cuma ... ya biarin dulu kayak gini. Gue juga masih nggak percaya dia punya perasaan ke gue, bahkan bertahan sampai sekarang. Masa hatinya nggak berubah?"

"Heh." Selly menabok lenganku. "Nggak ngaca? Lo juga masih belum move on dari dia, woi!"

Aku kembali menyengir. Jujur kuakui memang itu benar. Aku belum bisa melupakan perasaan kepada Wisnu. Namun masih kurang percaya jika Wisnu merasakan hal yang sama. Maksudku, dia ganteng. Pasti banyak yang suka. Dan aku yakin ada jutaan perempuan cantik dan sempurna untuk membuat dia melupakan wajahku yang pas-pasan. Agak aneh, orang sesempurna Wisnu bertahan menyukaiku selama tujuh tahun tanpa jeda.

Walaupun tetap saja, mengetahui jika dulu perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan, tak ayal aku merasa senang. Bahkan ketika Wisnu mengakui itu saat di apartemennya, dadaku berdebar keras. Debarnya tak berubah, masih sama seperti dulu tiap kali kami berdekatan.

"Tapi kok tadi lo bisa bareng dia?"

"Ya menurut lo?"

"Dia udah ada di depan pintu pas lo buka pintu apartemen? Terus lo nolak buat bareng tapi dia maksa dengan bilang 'ini bukan saatnya keras kepala, Kaia'. Gitu?"

Aku menjentikkan jari. "Tepat."

Selly tergelak. "Gokil, bakat nih gue jadi peramal."

"Itu karena gue ceritain semua-muanya cuma ke elo. Jadi lo bisa menganalisa."

"Ya iyalah cuma ke gue. Siapa lagi buku harian bernyawa lo selain gue?"

Aku hanya menyengir. Memang benar apa yang dia katakan. Sejauh ini hanya Selly yang aku percaya untuk menampung hampir semua isi hatiku.

Way Back To YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang