Kabar yang Terhenti di Udara

185 31 1
                                        

​Tujuh matahari telah terbit dan tenggelam sejak malam badai itu, namun bagi Giselle, waktu seolah membeku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​Tujuh matahari telah terbit dan tenggelam sejak malam badai itu, namun bagi Giselle, waktu seolah membeku. Jeno menghilang tanpa jejak. Tidak ada lagi getaran notifikasi yang bertubi-tubi di pagi buta, tidak ada lagi bayangan pria itu di sudut koridor, dan yang paling menyesakkan tidak ada penjelasan sama sekali.

​Giselle melangkah gontai menyusuri koridor sekolah yang mulai lengang. "Sudah seminggu... dan dia benar-benar menghilang seolah tidak pernah ada," keluhnya lirih. Di satu sisi, ia ingin membenci pria itu karena tragedi yang menimpa Kak Mark, namun di sisi lain, pengakuan cinta Jeno di bawah guyuran hujan terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

​Langkah Giselle terhenti saat seorang pria dengan senyum tenang dan tatapan cerdas menghalangi jalannya.

​"Hai. Kamu Giselle, kan?"

​Giselle mengerjap, menatap pria asing itu dengan dahi berkerut. "I-iya. Ada apa ya, Kak?"

​"Aku Seungmin," pria itu mengulurkan tangan dengan ramah. "Sahabat Jeno."

​Mendengar nama itu, ekspresi Giselle seketika mendingin. Ia menarik tangannya yang baru saja bersentuhan singkat dengan Seungmin. "Oh. Ada perlu apa Kakak mencariku?"

​Seungmin hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang seolah bisa membaca seluruh kecamuk di hati Giselle. "Hanya ingin memastikan sesuatu. Ternyata kamu memang manis, pantas saja Jeno sampai sefrustrasi itu."

​Sebelum Giselle sempat bertanya lebih jauh, Seungmin melirik jam tangannya. "Kalau begitu, aku duluan ya. Kelas Matematika akan segera dimulai."

​Giselle terpaku menatap punggung Seungmin yang menjauh. "Memastikan apa? Kenapa sahabat Jeno tiba-tiba mendekatiku saat dia sendiri menghilang?" batinnya penuh tanda tanya.

​"Jangan melamun terus! Nanti kesurupan penunggu koridor, lho!" Suara melengking Karina, teman sebangkunya, membuyarkan lamunannya.

​"Eh, Rina. Besok temani aku ke mall, ya? Aku butuh udara segar," pinta Giselle, berusaha mengalihkan beban pikirannya.

​"Jalan-jalan? Tentu saja! Aku juga butuh melihat diskon," balas Karina antusias. "Deal!"

​Sore harinya, langit kembali mendung saat Giselle berdiri sendirian di halte bus depan sekolah. Sebuah motor berhenti tepat di depannya, dan sang pengendara membuka helm full-face-nya.

​"Giselle," panggil Seungmin lagi.

​"Kak Seungmin? Ada apa lagi?"

​"Ayo, aku antar pulang. Langitnya sudah tidak bersahabat, sebentar lagi pasti badai," ajak Seungmin dengan nada yang tidak menerima penolakan.

​Giselle sempat ragu. Ia masih ingin menjaga jarak dari siapa pun yang berkaitan dengan Jeno. "Tidak perlu, Kak. Aku bisa naik bus."

​"Naiklah. Anggap saja ini permintaan dari seseorang yang tidak bisa berada di sini sekarang," ujar Seungmin pelan.

​Giselle menghela napas, akhirnya menyerah dan naik ke boncengan motor Seungmin. Sepanjang perjalanan, hanya suara deru mesin dan angin yang mengisi kekosongan di antara mereka. Keduanya terjebak dalam kecanggungan yang berat; Seungmin fokus pada jalanan, sementara Giselle tenggelam dalam pikirannya sendiri, menatap punggung Seungmin yang diam-diam mengingatkannya pada Jeno.

​Motor itu berhenti dengan presisi di depan pagar rumah Giselle.

​"Sudah sampai. Jangan melamun terus, nanti jatuh," tegur Seungmin saat Giselle turun.
​Giselle tersentak kaget. "Eh, kok Kakak tahu rumahku? Aku kan belum bilang alamatnya!"

​"Tentu saja aku tahu rumahmu. Kamu kan adiknya Renjun," ujar Seungmin sembari membetulkan letak kacamatanya di balik visor helm.

​Giselle tersentak kaget, langkahnya tertahan di depan pagar. "Eh, kok Kakak tahu rumahku? Aku kan belum bilang alamatnya sama sekali!"

​Seungmin tertawa kecil, suara tawa yang terdengar tenang namun penuh rahasia. "Aku kenal baik dengan Renjun. Meskipun dia itu sepupumu, tapi semua orang juga tahu kalau kalian sudah seperti saudara kandung yang tinggal satu atap. Jadi, mencari tahu di mana Renjun tinggal itu bukan hal sulit bagiku."

​"Kakak berteman dengan Kak Renjun juga?" tanya Giselle penasaran.

​"Sangat kenal. Lingkaran pertemanan kami lebih sempit dari yang kamu bayangkan, Giselle," jawab Seungmin santai sembari menghidupkan mesin motornya. "Masuklah, hujannya mulai turun. Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik."

​Giselle melangkah masuk ke dalam rumah, namun pemandangan di ruang tengah langsung membuatnya mengelus dada dan beristigfar dalam hati.

​Renjun dan Jaemin tampak tidur pulas di atas sofa dengan posisi yang sangat tidak estetik. Di sekitar mereka, bungkus makanan ringan berserakan seperti habis terkena badai, bantal kursi terlempar ke lantai, dan televisi masih menyala menampilkan siaran belanja yang diabaikan. Rumah itu sukses berubah menjadi kapal pecah hanya dalam waktu beberapa jam ditinggal sendiri.

​"Astaga, Kak! Bangun!" Giselle mengguncang bahu Renjun dengan kesal. Sebagai sepupu yang tumbuh besar bersama di rumah ini, Renjun memang sering bersikap seenaknya, persis seperti kakak kandung yang hobi membuat adiknya naik darah.

​"Hmm... lima menit lagi, Bunda..." gumam Renjun tanpa membuka mata, malah menarik bantal untuk menutupi wajahnya dari serangan Giselle.

​"Aku bukan Bunda! Ayo bangun, bereskan ini semua!" seru Giselle, beralih pada Jaemin yang mendengkur halus di samping Renjun. "Kak Nana! Bangun! Rumah ini sudah seperti gudang barang pecah belah!"

​Jaemin mengerjap, mengucek matanya dengan bingung sembari mencoba mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. "Eh, Giselle... sudah pulang? Kok cepat sekali?"

​"Bereskan sekarang juga sebelum Ayah dan Bunda pulang dari rumah Nenek dan kita semua kena sidang!" perintah Giselle tegas dengan tangan di pinggang.

​Melihat aura "singa" sang adik kesayangannya itu, Jaemin segera bangkit dan kini beralih menjadi asisten Giselle untuk membangunkan Renjun yang tidur seperti beruang hibernasi.

​"Bangun, Jun! Kau mau aku mengirimkan video tidur mangapmu ini ke grup keluarga besar?" ancam Jaemin sambil menggoyang-goyangkan kaki Renjun.

​Renjun langsung terduduk tegak, matanya melotot kaget seolah baru saja tersambar petir. Giselle hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan dua pria dewasa itu. Di tengah kekacauan kecil di rumahnya, rasa penasaran tentang keberadaan Jeno masih berdenyut di sudut hatinya, namun setidaknya untuk saat ini, hiruk-pikuk bersama Renjun dan Jaemin sanggup membuatnya sedikit melupakan luka.

RUANG ANTARA KITA | JENSELLE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang