08. Moving On

32 8 1
                                        

"Anak-anak, satu minggu lagi kalian akan menghadapi ujian akhir semester. Bagi yang masih punya tanggungan ke guru-guru silakan segera diselesaikan." Bu Ranti, Wali Kelas XI-IPA 2 bersuara dengan tegas.

Di bangku utara, terlihat Nayara dan Flora sibuk bicara sendiri. Entah apa yang dibicarakan tapi yang pasti perihal kejadian di kantin. Tepatnya Nayara yang mengomeli Flora gara-gara kepergiannya yang tiba-tiba.

"Sialan lo. Gue hampir mati ngadepin Julian tau gak? Lagian kok gue gak nyadar lo tiba-tiba ngilang? Kemana sih, Flo?"

"Itu si Rafael manggil gue. Berhubung lo kaya serius banget sama Julian jadi gue ngibrit aja," jawab Flora dengan cengirannya.

"Gue mau pergi tapi gak bisa. Kaya tubuh gue beku tiba-tiba woi. Sumpah lo tau gak Flo? Sahabat cewek Julian yang namanya Anna tuh kaya gak suka banget deh liat gue. Ketus banget gila." Nayara misuh-misuh.

"Anna? Anna Reehana?"

Nayara mengangguk.

"Kalo yang itu gak usah ditanya lagi. Anna tuh kalo Julian lagi interaksi sama cewek emang agak ketus gitu. Kaya tipe-tipe cewek posesif gitu loh. Padahal bukan ceweknya Julian," ujar Flora.

Nayara memicing. "Tau darimana lo?"

"Rafael lah. Dia kan sekelas sama mereka." Sedetik setelah mengatakan hal itu, tatapan Flora mendadak tertuju pada jaket yang dipakai Nayara. "Jangan bilang punya Julian?"

Dengan malas, Nayara menjawab, "Iya. Mana ngajak dinner lagi."

"Lo setuju?"

"Gue belom jawab sih soalnya si Julian langsung pergi gitu aja."

"Ngeri juga ya Julian sat set sa—"

"Itu yang di belakang bicara terus dari tadi!"

Mampus.

Semua pasang mata kini menatap ke arah Flora dan Nayara. Terkecuali Crystal.

"Coba katakan ulang apa yang Ibu sampaikan tadi." Tatapan nyalang Bu Ranti benar-benar mengintimidasi Flora dan Nayara. Sebenarnya Bu Ranti bukan tipikal guru yang suka marah-marah tetapi jika ada siswa yang bicara sendiri ketika dirinya sedang menjelaskan, maka jangan harap Bu Ranti akan diam saja.

Dengan ragu, Flora menjawab, "Ujian akhir semester, kan, Bu?"

Bu Ranti membetulkan letak kacamatanya. Kelihatannya emosi wanita itu mulai mereda. "Apa kalian punya tanggungan ke guru-guru?"

"Nggak punya, Bu," jawab keduanya kompak.

"Baiklah. Yang lain, apa ada yang ingin ditanyakan?"

"Duduknya bareng kelas dua belas apa tetap, Bu?" Flora melontarkan pertanyaannya.

"Kalian akan duduk bersama kelas dua belas. Dan seperti yang kalian tau, ujian ini akan menentukan kalian naik atau tidak ke kelas dua belas. Jadi, Ibu harap kalian belajar sungguh-sungguh karena sebenarnya yang menjadi musuh terbesar kalian itu adalah diri kalian sendiri," papar Bu Ranti.

"Untuk sistem pemeringkatan masih ada, kan, Bu?"

Pertanyaan itu terlontar dari bangku di belakang Crystal. Siswa berambut kribo dan berkulit putih pucat.

Sekali itu Crystal menelan salivanya. Dia tahu bahwa saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Mengingat saat kelas sepuluh, secara berturut-turut peringkat satu diraih olehnya.
Mungkin itu yang mendasari mereka menatap Crystal seakan peringkat satu akan diraih oleh Crystal lagi.

Tatapan mereka berkata seakan kalau peringkat Crystal turun maka gadis itu akan malu.

Padahal, mereka hanya tidak tahu bagaimana usaha Crystal di baliknya. Bagaimana Crystal mati-matian memenuhi ekspektasi semua orang. Bagaimana perjuangan Crystal mempertahankan peringkatnya.

Lacuna [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang