"pain changes people"
Katanya melupakan adalah hal yang mudah. Faktanya mereka tidak akan pernah paham sampai merasakan dan mengalaminya sendiri.
Moving on bukan hanya perihal melupakan melainkan bagaimana caranya berdamai dengan rasa sakit dan menjadi terbiasa.
Tidak perlu buru-buru. Cukup jalani seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah patah hati kemarin tidak selayak itu untuk mendapat energi darimu. Meski terdengar susah untuk dijalani tetapi hidup harus tetap berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang...
...karena kita tidak bisa terus-terusan hidup di masa lalu.
Semuanya butuh waktu dan proses. Sea percaya bahwa dirinya perlahan akan sembuh bersama waktu, setidaknya sampai ia merasakan bahunya ditepuk seseorang.
Sea terperanjat. "Ngelamunin apa, Sea?"
"Ah, sorry gue gak fokus. Tadi sampe mana?"
Ah, Sea baru ingat bahwa masih ada Raka di sampingnya. Ia jadi tidak enak karena sedari tadi cowok itu sibuk memahami materi sementara dirinya malah termenung.
"Baiklah, teman-teman sampai disini dulu bimbel kita kali ini. Jangan lupa istirahat. See you next week, ya," ujar tutor yang berusia 28 tahun itu.
Sea terperanjat. Dilihatnya murid-murid lain telah keluar ruangan. Ia lalu menatap Raka penuh tanya.
Raka tersenyum tipis. "Iya, udah selesai. Dari tadi lo ngelamun terus. Gue jadi takut lo gak fokus materi," ujar Raka.
Sea semakin merasa tidak enak pada Raka. Gadis itu diam beberapa saat. Pikirannya berkecamuk, bergelut dengan memori-memori usang itu. Sea sadar dia tidak bisa terus-terusan seperti ini.
Sea tidak bisa terus hidup di masa lalu.
"Sea? Are you okay?"
"Gue minta maaf. Gue ... cuma agak pusing," jawab Sea yang sesungguhnya hanyalah alibi belaka.
"Gak usah minta maaf. Gue nggak marah kok. Yaudah, ayo gue anter lo pulang," ujar Raka yang kemudian membantu Sea membereskan barang-barangnya. Dia mencangklong ransel Sea ke bahu kirinya.
Sea yang melihatnya tercengang sebentar. Tak sampai satu menit karena Raka segera menarik tangannya pergi.
Mobil Raka mulai menyusuri jalanan. Jakarta di malam hari masih sama. Padat, sesak, dan memuakkan. Beberapa pedagang asongan mulai terlihat di lampu merah, menawarkan dagangannya pada setiap kendaraan, berharap satu saja laku terjual. Namun ada satu hal yang menarik perhatian Sea.
Seorang anak laki-laki yang berdiri tepat di samping mobil Raka dengan sebuah kain lap di tangan kanan dan sabun di tangan kirinya. Sea melihat Raka menurunkan kaca mobilnya.
"Maaf, Mas, mau aku bersihkan tidak, mobil Masnya?" tanyanya dengan seulas senyum penuh harap.
Raka tersenyum kecil. "Adek nggak sekolah? Kenapa masih di jalanan malam-malam begini?"
"Aku sekolah, Mas tapi abis pulang sekolah aku langsung lari ke jalanan buat cari uang."
"Ibu ke mana memangnya?" tanya Raka.
"Ibu juga jualan di pinggir jalan. Tapi hasil jualan Ibu nggak cukup buat menghidupi aku dan adikku, jadi aku juga kerja bantuin Ibu, Mas."
Sea langsung terenyuh begitu mendengarnya. Ia lalu melihat Raka mengeluarkan dua lembar uang warna merah dari dalam sakunya lalu memberikannya pada si anak laki-laki. "Adek nggak usah bersihin kaca mobil, Mas. Ini ambil aja buat beli jajan ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lacuna [ON GOING]
Teen FictionIni tentang Sea, anak perempuan yang menyaksikan kematian misterius papanya di hari ulang tahunnya. Ini tentang Sea, gadis yang kehilangan kekasihnya saat kencan pertama. Tujuan Sea pindah ke Jakarta untuk mencari pembunuh papanya justru membuat ia...
![Lacuna [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/322833592-64-k386583.jpg)