"Flo, tumben lo pake hoodie ke sekolah?"
Suasana kantin pagi ini tidak seramai biasanya. Mungkin karena UAS telah berakhir dan KBM sudah tidak aktif, beberapa siswa memilih untuk tidak masuk sekolah.
"Gak tau, tiba-tiba gue kedinginan. Cuacanya juga lagi dingin, kan," balas Flora yang sesungguhnya hanyalah alibi.
Nayara ber-oh ria, sementara Sea lanjut melahap mie ayamnya.
"Eh guys kalian tau nggak? Oh nggak sih, Sea udah tau," celetuk Nayara.
"Gue doang nih yang gak tau? Parah lu, Nay," canda Flora sambil menyesap coffee latte miliknya.
"Yailah lu mah. Jadi, kemarin malem itu kan gue ikut mama papa dateng ke acara dinner sama kolega-kolega bisnisnya gitu lah. Siapa sangka gue bakal ketemu Sea, Crsytal, dan juga Jeandra? Gila sih masih gak nyangka," cerita Nayara.
Sea yang mendengarnya mengangguk setuju. "Gue juga gak nyangka bakal ketemu lo," sahutnya.
"Ih kok bisa sih? Udah kaya di film-film aja," sembur Flora.
"Film apaan?" Sea bertanya.
"Ya kan kalo di film itu biasanya mereka yang saling berkaitan itu ternyata emang punya plot twist di akhir nanti."
Selama beberapa detik, Sea dan Nayara saling menatap satu sama lain. Sea mencerna kalimat Flora dalam-dalam, memaksa otaknya untuk menyetel memori waktu di tempat itu. Sea mengingat satu persatu wajah-wajah orang dewasa berdasi itu.
"Ih, Flora kalo ngomong yang bener dong! Lu mah suka ngawur ah," respon Nayara.
"Ya kan biasa gitu, Nay. Kaya gak mungkin banget kita dipertemukan secara kebetulan."
"Ih, Flora! Jangan gitu lah. Gue kok jadi ngeri sendiri," ujar Nayara sambil mengguncang-guncang lengan Flora di sampingnya.
"Curiga kebanyakan nonton drama," sahut Sea. Sepersekon kemudian ia tiba-tiba teringat pada dinner malam itu, yang diadakan oleh William. "Jadi, Pak William itu bokapnya Crystal?"
Nayara melirik Sea lalu mengangguk. "Yup! Sekaligus donatur nih sekolah. Mungkin alasan Crystal gak pernah bener-bener dihukum kalo lagi pake heels ke sekolah tuh ini kali ya?"
"Jadi dia yang nerima donor jantung Arthan," batin Sea.
"Enak bener jadi dia." Flora menyahut. Oh iya, menurut lo pada gimana kalo gue confess ke Kak Bagaskara?" Flora bertanya secara tiba-tiba sehingga membuat Nayara tersedak.
"Apa lo bilang? Yang bener aja!" respon Nayara.
"Ya, kan selagi masih hidup," sahut Flora.
Nayara reflek menepuk bahu Flora. "Ngawur kalo ngomong."
Flora terkekeh. "Ya kan gak salah Nay."
Sea yang memperhatikan keduanya tanpa sadar tersenyum kecil. Kedua gadis itu mengingatkannya pada temannya di sekolah lama.
"Menurut lo gimana, Se? Atau lo pernah confess duluan ke cowok? Too much gak ya?"
Sea terdiam sebentar. Seperti mengingat sesuatu. Setelahnya tersenyum kecil. "Pernah."
"OMG! SIAPA SANGKA!" Nayara merespon dengan muka penuh kaget.
"Iya kan siapa sangka cewek dingin kaya lo pernah confess duluan," timpal Flora.
Sea terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Andai mereka tahu kalau dulu ia adalah gadis ceria. Bahkan, Sea hampir tidak mengenali sosoknya yang sekarang. Seperti ada yang hilang dari dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lacuna [ON GOING]
Teen FictionIni tentang Sea, anak perempuan yang menyaksikan kematian misterius papanya di hari ulang tahunnya. Ini tentang Sea, gadis yang kehilangan kekasihnya saat kencan pertama. Tujuan Sea pindah ke Jakarta untuk mencari pembunuh papanya justru membuat ia...
![Lacuna [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/322833592-64-k386583.jpg)