Tidak ada unsur romantis apalagi modus dalam rangka Awan yang menebengi Langit pulang hari itu. Hanya sekedar kepedulian sosial sebab kawasan kampus sudah mulai terlihat sepi ketika Langit masih setia menunggu di sana seorang diri.
Awan berpikir jika dia memilih mengabaikan Langit, bagaimana kalau misalkan sesuatu terjadi pada gadis itu? Awan adalah orang terakhir yang berinteraksi dengannya. Bisa jadi Awan akan terseret kasus rumit nanti. Dari pada ribet, lebih baik doi memilih mengantarkan Langit pulang saja kan.
Awan si INFP dan sederet imajinasi out of the box nya. Sebuah kronologi yang melatarbelakangi lahirnya scene boncengan ini beberapa saat kemudian.
"Awaann rumah gue yang di belokan bengkel itu yaa!" seru Langit di belakang. Beriringan dengan deru angin yang menerpa wajah.
Untung Awan tidak bolot menangkap sinyalnya. Dia mengangguk sebagai respon.
"Btw, karena kebetulan searah, kita mampir ke kos temen gue dulu ya. Ada titipan buat dia," kata Awan.
"Oh, boleh boleh boleh!"
"Jadi mirip upin ipin."
"Haa???"
"Gapapa."
Langit mengernyit. Dari spion motor bisa dilihatnya kedua sudut bibir Awan melengkung ke atas. Pipi chubby lelaki itu mengembang. Memang apa yang lucu? pikir Langit.
Sebagai jawabannya, tiba-tiba saja Awan ngerem mendadak. Baru sadar ada gundukan jalan yang lumayan tinggi di depan. Akibat itu Langit jadi menabrakkan kepalanya ke helm si pengemudi.
"Ya Allaahhhh kepala gua bocorrrr!"
"Hah? Serius?!"
Panik. Awan bergegas membelokkan stangnya ke pinggir jalan. Tanpa turun dari motor, lelaki itu langsung membalikkan badan. Mengecek kondisi si penumpang. Sementara Langit menunduk sembari mengusap-usap salah satu bagian kepalanya yang terasa benjol.
"Git?"
"Ugh, gapapa kok. Belum bocor ternyata," Langit nyengir. Jempolnya naik sambil tersenyum, "Mantap."
"Sorry, ntar gue lebih pelan-pelan deh bawanya. Lo pegangan di pundak gue aja, biar gak kaget."
Langit mengangguk. Perjalanan pun dilanjutkan dengan kedua tangan Langit bertumpu di pundak Awan. Gadis itu cukup takjub, for the first time dia megang bahu lebar Awan. Literally lebar dan tebal banget. Langit sih nggak heran mengingat Awan memang join UKM taekwondo di kampusnya, tapi tetap saja kaget.
"Badan atlet emang beda ya," gumam Langit kagum. Yang sejujurnya, terdengar oleh Awan. Lelaki itu memilih pura-pura tak dengar.
Hingga akhirnya mereka tiba di depan salah satu kosan cowok. Tak perlu menunggu lama, pintu kamar itu terbuka. Menampilkan Junire yang memakai boxer.
Refleks Awan berkata, "Geble, baju lu pake woy."
"LAAHH ANYINGGG!" balas Junire, ikutan kaget. Doi langsung mundur dan bersembunyi di balik pintu, "gua pikir lo dateng sendirian njirr. Kenapa ada cewe?! Buset dah. MAAP MAAP."
"Gapapa..."
Awan melirik Langit. Dia pikir Langit akan menutup mata seperti sepatutnya seorang gadis jika melihat sesuatu yang abnormal di depannya. Tapi Langit tidak begitu. Dia justru melebarkan matanya besar-besar.
"Eh, Langit kan?" sapa Junire. Gadis itu mengangguk dalam senyum canggung, "Kok bisa barengan? Lo berdua pacaran??"
"Enggak. Cuma kebetulan aja bareng," tandas Awan. Langit juga membenarkan sebagai respon. Setelah itu Awan mengulurkan plastik yang katanya titipan untuk Junire, "Nih, ambil. Gue cabut ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cloud & Sky
FanfictionKepada Awan Xabiru tertanda Langit Nirmala. Ada pesan tersirat dalam ceruk bumantara. written on: Nov 7, 2022 - Feb 7, 2023. ©RoxyRough
