⛅ Suatu Perubahan

1K 206 78
                                        

"Kenapa nggak langsung jawab aja? Katanya mau satsetsatset jos pacaran."

"Mana bisa! Lo kan masih belum pacaran!"

"Lah korelasinya?"

Langit menyebik. Kakinya mendang-nendang pelan railing balkon dari posisi itu. Sementara Awan menyandar di sisi sebelahnya sembari melipat kedua tangan di depan dada.

Tadi usai mata kuliah terakhir, Langit cepat-cepat mengamit lengan Awan lalu membawanya ke balkon belakang gedung fakultas. Sejatinya dari pagi dia sudah menggebu mau cerita, tapi terpaksa ditahan sampai sore ini karena ada kelas. Langit cuma nggak mau teman-temannya berspekulasi macam-macam tentang hubungan dia dan Awan.

Padahal interaksi mereka yang sekarang saja sudah membuat banyak pihak curiga.

"Pokoknya nggak bisa. Gue orang yang berdedikasi dengan kerjaan jadi gue nggak mau beres duluan sebelum klien gue pacaran," keukeuh Langit.

"Klien paan," balas Awan absurd. Doi berganti menyimpan kedua tangannya di masing-masing saku celana, "Dah, gak usah mikirin gue. Lo lanjut aja sama Juni."

Lagi-lagi Langit menggeleng kuat, "Lemme make sure progres lo sama Disha udah sejauh apa dulu. Katanya kemarin lancar kan? Berarti, kapan tuh rencananya lo mau nembak dia?"

"Gak tau."

"Lah? Kenapa enggak tau???"

Ya... kenapa ya?

Awan hanya menaikkan kedua bahunya tak acuh. Makin ditanya makin bingung. Kalau menurut review yang sudah berpengalaman, sesuatu yang berkesan akan bertahan lama diingatan. Termasuk momen berkencan, namun, entah mengapa Awan tidak merasakan itu sama sekali. After date he just living a normal life like usual.

"Aneh gak sih kalau perasaan gue tiba-tiba berubah gara-gara selera minum yang diatur-atur?" gumam Awan.

"Gak aneh sih tapi dia beneran ngatur selera minum lo?"

Awan mengangguk, "Dari situ gue juga jadi sadar kalau kayaknya gue sama Disha tuh gak cocok. I mean, we are both alpha type. Dan gue cuma gak minat berada di hubungan yang terlalu dominan."

"Ah... I see...." Langit mangut-mangut seolah mencerna. Setelah ia mendapatkan konklusi dari kalimat Awan, gadis itu jadi membulatkan mata kaget, "LAH KALAU GITU? Lo udahan nih sama Disha? Gak lanjut mau gebet dong?"

"Iye. Udahan."

"Serius? Ya ampun gue turut berduka... Lo pasti sedih deh... Tapi ngerti kok, Wan. Gapapa, mending patah hati di awal dari pada udah jalan baru sadar kalau nggak cocok. Mau putusnya lebih susah kan."

Awan membenarkan. Dilihatnya Langit masih memasang wajah sendu. Seolah yang dialami Awan adalah hal paling naas di dunia ini.

"Wan, janji gak nangis?" cicit Langit melankolis.

"You looks weird. Stop it."

"It's okay to cry, mate. I'm here for you."

"No ones cry, okay. Save your tears."

"Tapi, Wan...."

Helaan napas Awan mengudara, "Gue bakal tetep bantuin lo pdkt ke Juni, tenang aja."

Tangisan Langit otomatis berhenti. Wah, Awan ini macem sensor ternyata, peka abis. Ekspresi Langit langsung berganti jadi cengar cengir kuda.

"Hehe.. kok lo paham sih concern gue? Makasih loh," Gadis itu menyenggol pelan bahu Awan, "Eh tapi serius tau, gue sedih gak bisa bantuin lo sampe jadi sama Disha, harusnya happy ending tuh kalau kita bisa double date ntar. Atau lo mau nyoba ganti crush aja, maybe?"

Cloud & SkyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang