[ 🪷 ] · "Ini rumah kek istana."

70 5 0
                                    




Langit berwarna seperti bulu merpati abu-abu sore ini. Sang raja siang perlahan bersembunyi di balik dataran tinggi, membiarkan tugasnya diambil alih oleh sang ratu malam, lihatlah sabit putih itu yang telah nampak. Burung-burung berbulu hitam berterbangan membentuk pola acak. Angin sejuk berhembus Dan menyebar dengan lamban serta lembut.

Sebuah mobil berwarna hitam melintas pada jalanan aspal dengan kecepatan sedang. Kaca Mobil diturunkan, sehingga Alam dapat melihat seseorang yang berada di dekat jendela mobil.

Angin mengambil kesempatan untuk menyapu helaian gelap itu kala yang di dekat jendela sedikit mengeluarkan kepalanya. Surainya bertabrakan dengan hembusan itu, membuatnya menjadi sedikit berantakan, namun ia membiarkan hal itu.

Toh, angin hanya ingin memberinya udara Segar bukan?

Manik gelap itu menangkap bangunan kecil yang kurang lebih mirip istana itu dari jarak jauh yang perlahan semakin membesar.

Ya, ia akan tinggal di tempat itu, entah sampai kapan. Tak lama, mobil berhenti di depan pagar hitam, pagar bangunan 'rumah instana' itu yang sepertinya berlumut.

Dengan mandiri, si Gadis membuka pintu Dan turun dari kendaraannya. Pakaian yang membalutnya terlihat sederhana, dimana berupa kemeja putih dibungkus Jaket hitam, cuffed pants, dan sepatu santai yang sama-sama berwarna hitam.

Leah berjalan menuju bagasi Dan membuka pintunya, mengambil 1 koper sedang Dan 1 tas selempang berukuran sedang. Pintu pagar terlihat dibuka oleh pengemudi Mobil, "Nona, apakah anda perlu bantuan saya untuk membawa tas-tas ini ke pintu utama?" Tawar sang pengemudi mobil yang dibalas gelengan pelan si gadis.

"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Terima kasih karena Sudah mau mengantarku ke sini." Ujar Leah membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Tidak masalah, itu Sudah menjadi tugas saya sebagai seorang sopir." Sopir itu juga membungkuk sedikit Dan pamit dengan penumpangnya. Ia masuk ke dalam Mobil, mesin Yang hidup terdengar dari kendaraan hitam tersebut, perlahan mengatret Dan bergerak meninggalkan tempat itu.

Manik gelap itu menatap kepergian sang sopir sebelum akhirnya kakinya berjalan melewati pembatas. Saat berjalan, pupilnya menyusuri sekeliling perkarangan itu, meski bernuansa sedikit creepy Dan angker, nyatanya perkarangan ini bersih serta terawat.

Or that's just what he see for now.

"Ajegile, gede juga pintunya. Kalo gempa berat, bakal serem sih ini." Jari-jemari meraih door knocker Dan menggoyangkannya hingga berbunyi 'tok' yang cukup bergema.

Tok...tok...tok...

Hening.

Aneh, apa sang tuan rumah tidak mendengarnya? Tapi, suaranya menggema loh. Dirinya yang di luar aja dengar, masa yang di dalam engga dengar.

Ia kembali menggoyangkannya, Kali ini sedikit lebih kuat.

Tok! Tok! Tok!

Kembali dirinya menunggu respon Dari tuan rumah, tapi hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Budeg 'kah Yang tinggal di sini?

"Ano, sumimase- eh? Pintunya kaga kekunci?" Betapa kagetnya Leah saat tangannya mencoba mendorong sedikit pintu itu Dan tau-taunya bisa terbukan.

'Kemalingan, 'kah? Hm, yaudin sih. Bukan urusan gua, salah siapa juga kaga ngunci pintu.' Batin Leah dengan santai. Emang kurang waras yang tinggal, Denger ya, kalo lo keluar dari rumah mau jaraknya kek 20 cm Dari sono, kunciin pintu itu tetep wajib.

Mau lo di luar 000,01 milisekon pun tetap harus dikunci pintunya.

Camkan tu eh.
Nasehat emak.

"Telpon Kak Yui aja dah. Dia tinggal disini kan?" Ia meraih HP yang berada di saku celana. Menghidupkan layar Dan menekan tombol telepon, matanya mencari nama kontak orang yang dimaksud.

Stuck with HiraethTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang