“Bukan gantengnya, tapi sholat dhuhanya!”***
LARA POV
Aku berdiri di koridor lantai dua depan kelasku, menatap lurus ke bawah kepada sosok siluet tinggi yang sedang bermain bola bersama teman-temannya itu.
Aku tersenyum senang, selalu seperti ini jika aku melihatnya. Dia tampan, tentu saja! Ku dengar-dengar dia bukanlah orang asli indonesia. Ntahlah dari siapa aku mendengarnya, yang jelas wajah penuh cahaya itu selama beberapa tahun setelah kepergian ayah selalu mampu membuatku tersenyum.
Tidak, kami tidak dekat! Bahkan mungkin dia tidak mengenalku dan yang paling parah mungkin dia tidak mengetahui aku ada di dunia ini. Terdengar lebay memang, untuk seseorang yang bertetangga dengannya, dengan posisi rumah berhadapan dan hanya terhalang oleh jalan komplek saja. Tapi yah, begitulah kenyataannya.
Aku jarang melihatnya diam dirumah, terkadang melalui celah jendela ku lihat dia selalu pergi terburu-buru sepulang sekolah, entah kemana perginya dan biasanya dia akan kembali ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat.
Dia... Luka Kalandra Alfareskan, nama yang unik bukan?! ‘Luka’ kata yang selalu menujjukkan makna sakit dan tangis. Tapi itulah namanya, aku mengaguminya...
Tunggu!
Aku melakukan kesalahan!“astagfirullahalazim zina mata!” ucapku dengan sedikit terpekik seraya menutup kedua mataku dengan tangan. Inilah yang aneh, aku selalu khilaf jika melihatnya.
Padahal Bilqis Azzahra, sahabatku itu selalu mengingatkanku. Perlahan ntah dari mana aku terdorong untuk membuka celah antara jari-jariku untuk mengintip sosok itu lagi, namun...
“katanya zina mata... tapi malah diliatin lagi” sindir Bilqis memincingkan matanya seraya bersandar pada tembok pembatas setinggi dada kami itu.
“pengennya berenti...” gumamku pelan seraya menurunkan kedua tanganku dan melipatnya diatas tembok pembatas, aku menatap Bilqis “tapi pesonanya kak Luka itu loh...” aku kembali menatap sosok di bawah sana “gabisa ditolak!”
“Dosa ya tetep dosa Laraku sayang....” tekannya berusaha memperingatkan.
“astagfirullah!” gumamku lagi seraya berusaha menaklukkan hatiku yang selalu berlebihan ini.
Aku menunduk sejenak, beristigfar berkali-kali kemudian menatap Bilqis dan mengajak gadis itu ke kantin.
Sedari tadi tujuan kami memang kantin, tapi harus tertunda karna... yah, kalian tahu lah. Kebahagian mencintai dalam diam itu memang seperti ini, melihatnya saja sudah sangat bahagia apalagi... khem khem, otakku mulai lagi!
Sesampai di kantin kami langsung memesan makanan, setelahnya langsung duduk di pojokan kantin tempat biasa kami duduk ketika makan.“ra, kenapa sih kamu suka banget sama kak Luka?! Kalau ganteng... -- ya emang sih ganteng, tapi banyak kok yang ganteng malah punya nilai plus-plus karna jadi ketua di berbagai ekskul. Ketos kita contohnya, kak Damar. Kak Liam si ketua bisbol. Kak Bisma si ketua basket. Sama kak Akbar si waketos” Bilqis menatapku serius seraya memincingkan mata, ntahlah tumben sekali dia bertanya tentang ini padaku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Luka
Teen Fiction"astagfirullahal adzim zina mata!" sesalnya, namun sesaat kemudian memberi jarak pada jari-jari tangannya untuk menciptakan celah agar matanya dapat melihat siluet itu lagi. "Katanya zina mata, tapi malah diliatin lagi!" sindir sahabatnya, Bilqis. G...