02

554 56 1
                                        


Bulan telah berpamitan, menyerahkan langit pagi pada cahaya keemasan sang surya yang perlahan menyapu lembut kaca-kaca jendela di sebuah mansion mewah milik keluarga Kim. Namun di balik kemewahan kamar berukuran besar dengan ranjang king size yang tertata elegan, terlihat sosok pria yang masih enggan beranjak dari lelapnya. Wajah tampannya tertutup sebagian oleh selimut tebal, menyisakan bulu mata lentik yang berayun tenang di atas pipi tirusnya. Alisnya yang tebal menambah kesan maskulin pada wajah itu—wajah yang, andai terlihat oleh gadis-gadis di luar sana, pasti akan membuat mereka terguncang seperti badai datang tiba-tiba. Dan memang, salah satu dari mereka kini sedang berdiri tak jauh dari sisi tempat tidur, berusaha memecah kesunyian pagi dengan nada manja yang begitu dibuat-buat.

"Taehyung... ayolah, bangun. Bukankah kau sudah janji akan menemaniku mencari gaun hari ini?" suara lembut namun menyebalkan itu datang dari seorang wanita berpenampilan mencolok. Lipstik merah menyala membingkai bibirnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan keluhan, sementara jemarinya sibuk mengusap perlahan lengan pria yang masih berbaring malas.

Taehyung hanya menghela napas panjang. Dengan enggan, ia menepis tangan wanita itu tanpa membuka matanya. “Jennie, berapa kali harus kukatakan? Jangan masuk kamar orang tanpa izin. Ini kamarku, bukan milikmu,” ujarnya datar, tetapi penuh ketegasan. Namun Jennie, seperti biasa, tak menggubris. Ia malah semakin mendekat, seperti perangko yang enggan lepas dari amplop.

"Aku tak peduli," sahut Jennie santai, bahkan terdengar menantang. Ia mengangkat bahu kecilnya, memperlihatkan senyum gummy smile khasnya. “Toh, cepat atau lambat, kamar ini juga akan menjadi kamarku. Bukankah kita akan menikah, Taehyung?”

“yasudah aku tidak masalah jika kau mengingkari janjimu, aku hanya perlu mengadu pada Bibi Chae." ancamnya

Taehyung hanya menatap tajam sambil berdiri dari tempat tidur. Ia melangkah ke kamar mandi tanpa memedulikan ekspresi puas di wajah Jennie. Ia tahu, wanita itu merasa telah menang hanya karena membawa-bawa nama ibunya—senjata pamungkas yang membuatnya sulit menghindar.

Sayangnya, Jennie tak pernah tahu bahwa semua itu hanyalah ilusi. Tidak ada cinta di antara mereka, hanya obsesi sepihak yang tumbuh subur sejak masa kuliah. Sejak awal, Jennie sudah menandai Taehyung sebagai miliknya, meskipun berkali-kali ditolak, ia tetap tak menyerah. Kedekatannya dengan ibu Taehyung justru menjadi alasan ia semakin berani—bahkan untuk menerobos masuk ke kamar sang pria setiap saat. Baginya, cinta adalah tentang menang, bukan tentang diterima.

Sementara Taehyung, berjalan masuk ke kamar mandi dengan kepala penuh amarah. Dia hanya ingin menikmati akhir pekan dalam damai jauh dari urusan kantor, jauh dari Jennie. Tapi ternyata, pagi yang ia harapkan tenang itu telah berubah menjadi kekacauan karena satu nama: Jennie Kim.


***

Sementara itu, di tengah lalu lintas pagi kota Seoul yang masih bersahabat, sebuah mobil Hyundai Tucson berwarna putih melaju dengan tenang. Di dalamnya, terdengar suara riang dari seorang bocah lelaki yang duduk di kursi penumpang bagian depan. Rambut hitamnya yang lebat dipotong model mangkuk dengan lapisan tipis berjenjang, membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Ia sedang asyik bersenandung lagu anak-anak dengan nada ceria, sementara wanita di sampingnya—ibunya—tersenyum dan sesekali ikut bernyanyi, mengoreksi lirik-lirik yang salah diucapkan anaknya.

Namanya Jung Beomgyu. Seorang anak laki-laki yang tak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki hati yang begitu lembut. Di usianya yang masih dini, ia sudah mampu memahami perasaan orang di sekitarnya, terutama ibunya, Yerin—wanita kuat yang membesarkannya seorang diri.

“Apakah Bammi bahagia?” tanya Yerin lembut sambil menoleh sejenak ke arah bocahnya.

“Iya, eomma. Bammi sangat bahagia!” seru Beomgyu, matanya bersinar penuh semangat. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari istimewa bagi mereka—dua hari dalam seminggu yang dikhususkan untuk quality time, untuk merayakan kehadiran satu sama lain tanpa gangguan pekerjaan ataupun sekolah.

Meski begitu, dalam hatinya, Yerin selalu menyimpan rasa bersalah. Ia tahu waktunya untuk Beomgyu tidak sebanyak yang ia harapkan. Pekerjaan dan tanggung jawab memaksanya menyerahkan sebagian besar hari kepada ibunya, nenek Beomgyu. Tapi semua ini ia lakukan demi kehidupan yang layak untuk anak semata wayangnya itu.

Ayah Yerin telah lama meninggal, tepat ketika Yerin berusia lima belas tahun—usia di mana seorang gadis seharusnya bisa bergantung pada sosok ayah. Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis. Tuan Jung dulunya memiliki usaha kedai ayam goreng yang ramai pengunjung, namun setelah wafat, usaha itu dilanjutkan oleh Nyonya Jung. Sayangnya, persaingan bisnis yang semakin ketat membuat kedai mereka sepi peminat, hingga akhirnya Yerin memutuskan untuk menutupnya.

Mobil pun berhenti di basement sebuah pusat perbelanjaan besar di pusat kota. Yerin dan Beomgyu keluar sambil bergandengan tangan. Meski mall itu ramai, tak sedikit pun semangat mereka surut. Yerin menenteng beberapa paper bag hasil belanjaan mereka, sementara Beomgyu masih setia membawa boneka RJ kesayangannya—hadiah dari Yerin saat ulang tahunnya yang kelima.

Tanpa diduga, muncul ide iseng di kepala Beomgyu. Dengan tawa nakal, ia melepaskan genggaman tangan sang ibu dan mulai berlari kecil ke arah kerumunan.

“Eomma, kejar Bammi~!” serunya riang.

“Sayang, jangan lari—nanti jat....”

BUGHHH…!

Yerin terkejut saat mendengar suara tubuh anaknya menabrak seseorang. Panik, ia segera berlari ke arah Beomgyu, tak sempat menoleh ke arah orang yang ditabrak.

“Sudah eomma bilang, jangan berlari! Lihat kan, sekarang jatuh,” suaranya bergetar, terdengar seperti marah, tapi sesungguhnya penuh kekhawatiran. Ia memeluk anaknya erat, memeriksa tubuh kecil itu dari kepala hingga kaki.

“Ada yang sakit? Ada luka? Bammi ingin lihat eomma sedih dan khawatir, ya?”

Sementara itu, pria yang ditabrak Beomgyu masih berdiri mematung. Wajahnya menyimpan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. Pandangannya tak lepas dari wanita yang sedang sibuk menenangkan anaknya. Pria itu adalah Kim Taehyung. Ya, benar. Taehyung. Dunia seperti berhenti berputar sesaat baginya.

“Ye… Yerin?” suaranya lirih, seperti bisikan dari masa lalu.

Yerin yang mendengar nama itu, langsung membeku. Ia tahu betul suara itu—suara yang telah lama ia coba kubur dalam ingatan. Perlahan ia mendongak, dan pandangannya bertemu dengan sepasang mata tajam yang dulu pernah menjadi alasannya tertawa dan menangis.

“Ta… Taehyung…?” suara Yerin bergetar. Ada semburat luka yang tersamar di matanya. Ia tidak siap. Tidak untuk ini. Tidak untuk bertemu lagi dengan orang yang selama ini berusaha ia lupakan.

Dan di tempat itu, di tengah hiruk-pikuk mall yang ramai, dua hati yang lama terpisah saling menatap dalam diam. Waktu seolah berhenti, menyisakan sepasang kenangan yang belum selesai.

To be continued...

Still Want You [TAERIN] [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang