Setelah sekian ratus meter berjalan, sampailah mereka di warung gedeg yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.
Kesan klasik menyapu ruangan minimalis ini. Meski terkesan kuno, pemilik warung mampu menyulapnya menjadi warung yang terkesan antik. Ada beberapa lukisan lama yang terpajang di dalamnya, lentera Kerosene retro klasik menjadi satu-satunya penerang karena hari mulai mendung dan disini belum terjamah aliran listrik dari kota.
Setelah memesan dua gelas es tebu, keduanya menuju tempat duduk. Sebelumnya lelaki yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu itu menarikkan kursi untuk Kamela duduk. Gadis itu tersenyum simpul, "Terimakasih." pemuda itu mengangguk.
Alunan musik 'Menuju Senja' yang dibawakan oleh payung teduh menggema dari sound kecil milik akang penjual es tebu. Beliau membawakan pesanan dua pemuda pemudi itu. Pemuda itu tersenyum kecil, "si Akang keren juga selera lagunya."
"Gini-gini teh saya update lagu terkini, Mas. Biar tetap gaul," ucapnya sebelum meninggalkan mereka berdua.
Kamela dan pria asing itu sibuk bergelut dengan pikirannya masing-masing sebelum akhirnya lelaki itu membuka suara.
"Mbak ini namanya siapa? Orang mana? Kok di sini sendirian nggak takut?"
Kamela cengo, "Buset bang satu-satu napa. Berasa maling saya diinterogasi kayak begitu."
Lelaki itu tertawa singkat, "Abisnya kayak bocah nyasar. Mana sendiri lagi."
"Nama saya Kamela. Kamela ayodia. Saya dari kota, Mas. Sebenernya nggak sengaja kesini. Saya mau ke Parangdanau tapi tutup. Jadi karena saya nggak tau daerah sini dan nggak tau mau kemana yaudah iseng aja kesini. "
"Oalah, gitu."
"Iya mas. Ngomong-ngomong nama masnya siapa?"
"Saya Sagam apraja." Kamela mengganggukan kepalanya singkat.
Ia menoleh pada Sagam, "Mas Sagam ini masih sekolah apa kuliah kalau boleh tau?"
"Muka saya ini kalau dilihat kira-kira umur berapa?"
Kamela mengantukkan jari mungilnya di meja. Berpikir keras, sekilas ia melirik Sagam yang juga tengah menatapnya. Duh Kamela blushing
"SMA kelas satu?" celetuk Kamela
"Mbaknya ini cenayang ya? Kok tebakannya bisa pas," heran Sagam. Kamela teesenyum singkat, "Nebak aja mas. Berarti kita seumuran, saya juga baru masuk kelas sepuluh ini. Besok baru MPLS."
"Loh kebetulan banget, saya juga. Emang mbaknya sekolah dimana?" tanya Sagam semakin tertarik. Ia sangat excited bertemu dengan orang baru yang memiliki beberapa kesamaan dengannya ini."
Kamela tak langsung menjawab pertanyaan dari Sagam. Ia menyeruput es tebu nya yang tak lagi dingin, "SMA Antapraja, kalau masnya?"
"Kebetulan saya juga mendaftar sekolah disana. Panggil nama aja, kesannya saya tua banget kalau kamu manggil saya Mas."
Kamela tersenyum canggung, "Iya deh Sagam. Tapi kok kita banyak samanya ya. Sekolahnya sama, sepantaran lagi."
Sagam menggedikkan bahunya, "jodoh mungkin," Kamela memelototi Sagam, "Dasar buaya, kenal aja baru udah ngomong jodoh aja!"
Lesung pipi Sagam muncul ketika ia tersenyum. Manis, sangat manis membuat Kamela sejenak lupa caranya bernapas dengan benar. Terlalu lama berhadapan dengan Sagam membuat irama jantungnya menjadi abnormal.
"Saya bercanda Kamela," keduanya pun kembali hening, menikmati matahari yang mulai tergelincir dari kedudukannya.
Kamela bersenandung kecil, mengayunkan kakinya bebas. Lagu payung teduh tak pernah gagal. Liriknya yang dalam, alunannya yang mendayu-dayu. Paduan yang sempurna antara senja dan band yang sebelumnya bernama Parade Hujan itu.
Bersama hati yang terluka
Tertusuk pilu menganga luka itu
Di antara senyum yang menapaki jejak kenangan
"Kamu juga suka lagu ini, Kamela?" tanya Sagam lembut. Kamela mengangguk, "sangat suka. Aku suka semua lagu indie. Tenang, indah, menyayat hati. Azekkk" ucapnya terkekeh. Sagam ikut tersenyum karenanya.
Rahang Sagam sampai linu dibuatnya. Bersama gadis yang baru ia temui beberapa waktu lalu membuatnya lebih sering tersenyum dari biasanya.
Suara Kamela indah, tingkahnya seperti anak kecil. Matanya bulat coklat. Hidungnya yang mungil, terlebih tingginya yang hanya sebatas perut Sagam. Lucu, batinnya.
"Kamu nggak mau pulang? Ini udah hampir magrib," tanya Sagam. Tidak baik perempuan pulang terlalu malam apalagi jarak daerah ini dengan rumahnya lumayan jauh.
"Ini baru mau pesen ojol, belum ada yang mau ngambil tapi."
"Mau saya antar? Rumah saya juga di kota." Kamela mengerutkan dahinya bingung, "Loh, terus kamu disini ngapain?"
"Ke rumah kakek, ini emang mau pulang soalnya besok hari pertama sekolah."
Kamela berpikir sejenak. Sedikit ngeri karena mereka baru bertemu dan Sagam sudah menawarinya pulang. Seolah tau isi pikiran Kamela, Sagam berceletuk. "Saya bukan orang jahat apalagi penculik. Anak kecil kayak kamu nggak laku kalau dijual di pasar."
Kamela mendelik mendengarnya. Anak kecil katanya? Padahal umurnya sudah menginjak enam belas tahun. Mentang-mentang tinggi, batin Kamela.
Tangannya terulur untuk bergelut dengan Sagam. Enak aja bilang anak kecil. Dengan sekali tangkap, sagam meraup kedua tangan Kamela. "Kecil-kecil tenaganya kayak banteng."
Kamela mengamuk, saat tangkupan tangan Sagam lemah ia mengambil kesempatan melepaskan tangannya. Memukul tangan Sagam geram.
Yang dipukul seolah tak peduli, ia beranjak menyerahkan uang dan berbincang kecil dengan mamang es tebu.
Kamela mendengus kesal karena Sagam mengabaikannya. Dongkol, ingin rasanya ia menendang orang itu.
"Ayo, malah ngelamun. Mau diculik wewe?" Kamela bergedik ngeri lalu mengikuti Sagam dari belakang menuju sebuah motor Yamaha All New XSR 155 berwarna hitam.
Sagam menurunkan foodsteep motornya membuat pipi Kamela memerah. Ia paling tidak bisa jika bertemu manusia tipe AOS (Act of Servise).
Makkk cowok fiksiku nyataaa, jeritnya dalam hati.
Ia naik motor dengan perlahan. Deru motor sagam bergerak menjauh dan meninggalkan sisa keheningan di langit kelabu.
TBC
