Sesampainya di depan Anjay, Rikas langsung menuju basement parkir mobil dan meninggalkan Marsha dengan barang-barang yang mereka bawa tadi.
"Aku cari mobil dulu, repot banget bawa tas belanja kayak gini. Kamu mau nunggu atau masuk dulu?" Dia berkata sambil jalan menuju basement.
"Aku masuk dulu, kita bertemu di lantai 2 kamu hati-hati." Marsha menurunkan Poki dan berjalan kearah pintu.
Sebelum masuk Marsha berdoa semoga didalam aman, setelah menghembuskan nafas dia masuk diikuti oleh anjingnya. Suasana disini sama aja sepi, hanya ada beberapa mayat dengan kondisi cukup mengenaskan. Dia tidak terlalu menghiraukan dan memutuskan untuk ke lantai 2.
"Piko jangan jauh-jauh dariku. Setelah evakuasi tadi pagi kemana mereka yang tidak bisa ikut. Apa mereka bersembunyi dan para zombie itu kenapa tidak terlihat. Rasanya aneh bisa langsung sesepi ini. Ngomong-ngomong Rikas bagaimana ya?"
Sementara itu...
"Gila banyak banget mayatnya, bakal susah nih nyari kunci mobilnya." Mau tidak mau dia harus menggeledah setiap mayat yang ada guna mendapatkan kunci. 10 mayat sudah dia cek tapi satu pun tidak ada. Padahal mobil yang ada disana hanya Fortuner, yang mana kata orang-orang ini mobil orang kaya. Dan dia berhasil mendapatkan mobil itu dengan gratis... Yah walaupun di situasi yang seperti ini.
Karena tidak kunjung menemukan kunci, Rikas memilih menyusul Marsha lewat pintu belakang. Saat menaiki tangga dia kebelet pipis, lalu memutuskan ke toilet dulu. Sesampainya di sana dia di kejutkan oleh mayat seorang bapak-bapak duduk diujung toilet. Sebelum menghampiri mayat itu, Rikas menyelesaikan urusannya dulu. Setelah dirasa keluar semua, cebok, siram, naikin celana dia keluar menuju mayat tadi. Sungguh kondisinya membuat mual dan pusing, mata hilang satu, rahang bawah hilang, dan luka-luka lain di sekujur tubuhnya namun demi mencari kunci dia menahan itu semua.
Usaha tidak menghianati hasil, dia menemukannya. "Ihir ihir akhirnya ketemu juga, babi capek bener. 11 mayat loh pembaca." Dia langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan, namun sesuatu yang tidak dia sadari akhirnya muncul begitu saja, sampai dia melihat kearah kaca dan begitu terkejutnya.
"AAAAAAA... ANJING, NGENTOT, SETAANNN." Dia langsung lari ke tempat Marsha tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
"Mar... (hos hos hos) Mar... Mar ada setan. Ada setan di kaca toilet."
"Apa sih anjing, mar mar namaku Marsha. Jadi jelek tau namaku kamu panggil gitu. Apa deh, lari sambil teriak gitu? Setan? Mana ada ah, lagian ini cerita zombie bukan pengabdi setan."
Dia tidak percaya dengan omongan Rikas dan meresa hal itu tidak mungkin ada. Disamping itu Rikas masih memasang wajah ketakutannya."Eh anak monyet bener ada setan disana. Aku tidak tau pasti wajahnya seperti apa, tapi aku yakin sosok itu ada di belakang ku sewaktu aku bersihin tangan dan kunci mobil. Biasanya juga tidak ada yang begini, zombie collab sama setan."
"Ada-ada aja kamu, nih sabun dll. Buat pakaiannya kamu cari sendiri, aku tidak tau seleramu seperti apa." Kata Marsha saat memberikan beberapa peralatan mandi yang dia ambil di lantai 1.
"Makasih sha. Kamu tidak bersih-bersih sekalian?". Tanya Rikas penuh harap.
"Halah bilang aja kamu minta ditemenin kan, sama gituan aja takut." Ejek Marsha dan Rikas hanya nyengir sebagai pembenaran. Mereka memutuskan ke toilet bersama, sebelum pergi Rikas mengambil pakaian yang dirasa cocok untuknya.
Sesampainya di toilet Rikas menunjukkan bahwa sosok yang dilihat tadi ada di kaca dan memberi tau jika kunci yang dia dapat dari mayat diujung sana. Setelah dirasa bersih semua, mereka kembali lagi ke tempat pakaian untuk mengambil barang-barang yang ditinggal tadi.
"Kas kita bawa masing-masing satu ransel cukup tidak ya?" Tanya Marsha sambil memasukkan barang ke ranselnya.
"Mungkin cukup sih, tergantung kita menatanya bagaimana. Tapi kualitas ransel disini tidak begitu bagus sih, aku ingin ke Eiger Store disana bagus-bagus sekalian cari sepatu juga."
"Aku udah nih, tidak semua aku masukin sisanya di tas belanja. Kalau udah ayo kita ke basement." Lanjut Rikas
"Eh bentar deh Kas, kita turun ke lantai 1 lagi. Kayaknya masih ada beberapa barang yang kita butuhkan, mumpung ingat dan masih disini."
"Lah sebanyak ini masih kurang Sha, emang apa lagi?"
"Udah ah tanya mulu kayak sales, ayo turun."
"Asu"
Marsha berjalan mendahului Rikas namun baru 2 langkah dia balik badan dan melihat Rikas.
"Kas yang lain kamu bawa ya, tiba-tiba Piko minta gendong." Kata Marsha sambil tersenyum dan setelah mengatakan itu dia melanjutkan langkahnya lagi.
"Double asu." Dengan kesal dia membawa semua barang yang dikatakan Marsha dan menyusunnya.
Sesampainya dilantai 1, Marsha menurunkan Poki lalu mengambil troli. Dia mengambil beberapa kebutuhan pokok, cemilan, minuman, peralatan mandi, dan skincare. Sementara Rikas yang melihat itu hanya cengo.
"Sha mau buka toko sembako kah, banyak banget anjir."
"Ini tuh perlu dan penting, kamu bakal berterimakasih sama aku nanti."
"Eh temannya beruang madu, kamu pernah tidak sih melihat film zombie. Yang mereka bawa itu yang penting-penting aja, yang gampang di bawa kemana-mana bukan malah bawa beras sekarung. Ini kita lagi dikejar-kejar zombie loh bukan mau hajatan."
"Bacot. Ini juga penting udah diem dan bantu aku."
"Aku ambil mobil dulu sekalian yang di tas belanja aku taruh disana." Jawab Rikas lalu berjalan menuju basement.
~~~
Rikas mulai menata barang-barang yang dibawa ke dalam mobil. Setelah selesai dia mencoba menyalakan mobil, dan membawa ke depan Anjay."Lah belum kelar juga dia." Heran Rikas lalu turun dan masuk ke dalam.
"Sha lama banget."
"Ini udah kok, kamu tidak mau ambil apa gitu?"
"Apa ya... Oh iya jerigen buat stok bensin. Habis ini kita isi bensin dulu ya, aku lihat tadi tinggal 1 batang."
"Oke, aku masukin barang-barang ke mobil dulu."
Setelah semua barang-barang yang mereka butuhkan dirasa sudah semua dan bensin sudah terisi full, mereka memutuskan ke pusat kota untuk melihat keadaan disana.
To be continue...

KAMU SEDANG MEMBACA
DING DONG
AventuraSekarang di dunia ini hanya ada pilihan lari dan bertahan atau bersembunyi lalu mati. Pikirkan baik-baik, akan ada lautan darah dan hamparan tubuh dimana-mana. Yang akan kamu nikmati di sisa hidupmu. Sungguh itu akan menyiksamu setiap detiknya hingg...