Part 15

11.8K 822 24
                                    

Kelaspun tenang kembali karena kedatangan Bu Dilla. Sinta kembali bertingkah manis dan berjalan ke mejanya. Sementara itu, Ryan yang bersungut-sungut memberi tanda pada Dimas dan Ergi. Dia menoleh ke arah dua temannya kemudian menggunakan dagunya untuk menunjuk ke arahku. Setelah dia dan Adam dibawa pergi, Dimas dan Ergi mengambil tempat di depan mejaku yang biasa. Meskipun jelas sekali kalau dua orang itu ingin membuat perkara, mau tak mau aku kembali ke tempatku.

"Lo ngga akan selamat hari ini." Kata Ergi tanpa menoleh ke belakang.

Aku tahu. Bukan hanya tahu tapi sangat tahu. Ryan sudah jelas terlihat marah sehingga aku yakin perundungan hari ini akan sangat buruk. Sekarang saja aku masih punya beberapa bekas lebam di punggung dan dadaku. Nanti jumlahnya pasti bertambah. Aku hanya berharap Ryan melepaskanku sebelum terlalu sore agar aku tidak terlambat bekerja.

"Lo kenal Adam darimana? Pinter juga lo nyari cowok. Lo pasti sengaja ngadu ke musuhnya Ryan. Gue kira lo goblok tapi ternyata lo licik." Tuduh Dimas.

Kenapa orang-orang selalu saja menilai orang lain seakan-akan orang itu sama dengannya. Yang licik itu Dimas. Dia menempel pada Ryan karena Ryan cukup kaya dan dominan. Dengan sifat seperti itu, dia juga mengira kalau aku menempel pada Adam dengan alasan yang sama. Padahal, aku hanya bertemu Adam secara kebetulan. Aku bahkan tidak tahu kalau Adam bermusuhan dengan Ryan kalau dia tidak datang ke kelas ini.

Sayangnya meskipun aku jelaskan, tidak akan ada yang percaya. Mereka hanya akan memberikan cemoohan tambahan dan mengataiku sebagai pembohong. Karena itu aku diam dan kembali ke bukuku. Aku bahkan tidak lagi bisa cemas karena siksaan yang akan datang tidak bisa aku bayangkan bentuknya lagi.

"Gue kira Adam cuma suka yang ganteng. Mantannya ngga ada yang jelek. Sekarang kog doyan yang kayak gini?" Gerutu Ergi.

"Mungkin dia bosen kali." Sahut Dimas. "Atau bisa jadi dia nyari pengalaman baru." Lanjutnya setengah tertawa.

Ternyata mereka sudah tahu kalau Adam gay. Jangan-jangan itu bukan rahasia sama sekali.

Dua orang itu mengobrol sesama mereka sementara aku diam. Ethan sesekali melirikku karena khawatir namun aku menggeleng ke arahnya agar dia tidak ikut campur. Kali ini Ryan akan sangat kejam sehingga aku tidak mau menyeret siapapun.

Ketika Bu Dilla datang kembali untuk mengajar, pikiranku malah memikirkan banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Kalau hari ini aku tidak sanggup menghadapi Ryan, aku berencana untuk memberi tahu ayah dan ibu untuk memindahkanku saja. Kalau misalnya tidak berhasil, mungkin aku bisa berhenti bersekolah dan langsung kerja. Aku dengar kalau kejar paket C bisa digunakan sebagai pengganti ijazah SMA. Mungkin itu bisa jadi pertimbangan jika aku mau kuliah.

Mendengar ideku ini, ayah pasti akan marah. Namun apa boleh buat, aku hanya akan menyiksa diriku jika bertahan di sini. Untuk apa menghabiskan waktu di tempat yang hanya memberikan siksaan? Apalagi kebanyakan orang di sini tidak menyukaiku.

'Maaf Yah.' Batinku. Aku tahu ayahku itu bermimpi anaknya bersekolah dengan baik kemudian menjadi sarjana. Namun, aku mungkin tidak bisa mengabulkan itu dengan cara yang dibayangkan ayah.

Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa aku sadari pelajaran sudah usai. Seperti dugaanku, Dimas dan Ergi langsung mengusir semua orang kemudian mengunci pintu. Ethan yang khawatir ditendang keluar.

"Sambil nunggu Ryan, gimana kalau lo main sama kita dulu." Kata Dimas sambil menarik dua telingaku hingga sakit.

"Ini karena lo sok pinter makanya perlu dijewer." Ergi mendukung temannya.

Mereka kemudian banyak melancarkan hinaan sambil memukul-mukul kepalaku. Kata gigolo, l*nt*, homo, dan sejenis banyak bermunculan. Aku hanya bisa diam dan berusaha tidak mendengar.

"Lo kasi apa ke Adam sampe-sampe dia mau belain lo kayak gitu? Jangan-jangan lo udah biarin dia tidur sama elo ya?" Tanya Ergi.

Pertanyaan semacam ini, bagaimana cara menjawabnya? Dijawab dengan cara apapun, mereka akan membalas dengan penghinaan yang lebih menyakitkan. Aku benar-benar sudah lelah. Apa dosaku sampai-sampai aku perlu mengalami ini?

"Sayangnya gue bukan homo. Kalau ngga, lo bisa nawarin bokong lo ke gue. Kali aja gue kurangin hukuman yang mesti lo dapet." Giliran Dimas yang menambahkan. Mereka memperlakukanku seperti pelacur sekarang.

Ketika Dimas dan Ergi sibuk dengan hinaannya. Ketukan dengan ritme teratur terdengar dari pintu belakang. Mereka segera membuka pintu itu dan Ryan muncul. Kedatangan orang itu langsung membuat tubuhku dingin dan gemetar. Mata cokelatnya menatapku nanar. Dia jelas sangat marah.

"Kalian jaga pintu depan. Awasi kalau-kalau ada orang lewat. Gue mau ngasi pelajaran ke cupu satu ini dulu biar dia ngga sibuk godain cowok-cowok ngga jelas." Perintah Ryan pada dua temannya.

Setelah perintah itu, Ergi dan Dimas menuju pintu depan sementara Ryan menyeretku ke pojok belakang. Dia menarik kerah baju belakang kemejaku sehingga aku merasa seperti tercekik.

"Udah pinter ya lo sekarang! Udah berani ngelawan gue! Gue ngga akan sabar lagi sama elo." Kata Ryan penuh murka.

"Aku ngga tahu. Please jangan salah paham." Rengekku tapi tidak ada gunanya. Ryan membantingku ke lantai dengan keras sehingga punggungku merasa sakit. Setelah itu dia mengikat satu tanganku ke kaki meja kemudian menarik tangan kananku.

"Kalau lo teriak, gue patahin jari lo!" Ancam Ryan.

Aku segera menggigit bibir kemudian Ryan langsung melancarkan aksinya. Dia menekan kukuku dengan kukunya hingga terasa sangat menyakitkan. Untung aku masih bisa menahan teriakan meskipun air mataku sudah mengalir. Dia melakukannya pada lima jariku tanpa rasa kasihan sama sekali. Aku hampir gila karena sakit yang terasa. Waktu penyiksaan terasa lebih panjang daripada seharusnya. Ryan baru selesai setelah aku kehabisan tenaga untuk melawan sakit.

"Bagus. Seenggaknya lo patuh. Tapi gue masih marah." Katanya.

"Please ampuni aku." Aku memohon dengan suara serak dan lemah. Siksaan tadi menguras seluruh energiku. "Ampuni aku." Ulangku sambil terisak.

Melihat kondisiku yang menyedihkan, Ryan melepas ikatan tanganku kemudian bicara lagi. "Akan gue ampuni tapi buka baju lo sekarang. Kalau lo ngga mau, gue sendiri yang akan ngerobek baju lo itu." Katanya sambil menyiapkan kamera.

Dang! Dia benar-benar ingin menghancurkanku. Foto macam apa yang ingin dia buat? Apa aku masih sanggup menanggung malu setelah ini?

"Lo mau buka baju sendiri atau gue robek baju lo itu?" Ulang Ryan yang tidak sabar karena aku membeku.

Dengan tangan gemetar, aku akhirnya pasrah dan membuka kancing kemejaku satu per satu. Dalam prosesnya, air mataku tidak bisa berhenti mengalir karena membayangkan hujatan yang akan aku terima nanti. Setelah ini aku tidak akan bisa menemui siapapun karena terlalu malu.

"Cepetan!" Bentak Ryan. Dia melepaskan atasanku dengan kasar lalu membuangnya ke meja.

"Kacamata lo ini paling gue benci!" Lanjut Ryan sambil merampas kacamata dari wajahku.

"Please jangan yang itu! Aku ngga bisa lihat apa-apa." Pintaku penuh permohonan.

Sayangnya Ryan tidak menyahuti. Aku semakin panik dan berusaha menggapai tangan Ryan yang memegang kacamataku. Karena semuanya samar, bukannya memperoleh kacamataku kembali, Ryan malah menahanku ke tembok.

"Elo..." kata Ryan terputus. Suaranya bergetar.

***

RYVAN 1 - Ugly Duckling Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang