Pucat
Pucat
Pucat
Pucat
Terlalu banyak ku pucat
Pucat
Pucat
Pucat
Semakin menaruh hatinya pada sang pengembara
Berlalu lalang dan berteriak di sisa hidupnya
Ralat
Ralat
Ralat
Pemuda gagah ini terjatuh
Menggeliat nadinya
Berdesir gairahnya
Tertahan hatinya
Tatapannya berbinar-binar pada piala
Menerjang benci
Menembus iri dan merajuk lagi
Bermanja pada rintihan pasi
Membela kata yang telah sirna sejak lama
Kembali pucat
Kembali sama
Bertindak lagi si Dewi Madu
Tatapan kosong terpaku ragu
Bertindak lagi pemikir dungu
Melawan api tebar bubuk mesiu
Pucat
Pucat
Pucat
Seperti membantah petuah
Susah
Susah
Susah
Matahari berpihak barat hingga merah
Sudah
Sudah
Sudah
Pucat dan sudah berhasrat parah
KAMU SEDANG MEMBACA
Ini
PoesíaAdalah seorang anak kecil yang tertusuk dihukum jalan pikirnya sendiri, berdiri amatir menggenggam pena gemetar dan khawatir
