05 Perihal martabak

57 13 7
                                        

Yang kemarin nunggu, book ini bakalan lebih banyak update di week end (Jumat, Sabtu dan Minggu).



"Saddam ya?"

Oke ini tidak baik, Abyan rupanya salah membawa keponakannya pergi kali ini. Perempuan yang kini menyapa Saddam adalah salah satu manusia yang lebih baik tidak di pertemukan lagi. Bukannya apa-apa, Abyan tidak ingin berbasa-basi sekedar bertanya apa kabar? Dia masih waras tidak menanyakan kenapa dirinya dighosting dua tahun yang lalu, yang kemudian menemukan kenyataan bahwa ia dan sang mantan sepakat tidak lagi melanjutkan hubungan mereka yang padahal sudah masuk tahap bertunangan. Rasanya sakit, namun malunya lebih besar daripada rasa sakit tersebut.

"Saddam keponakannya Abyan kan?"

"Iya," Saddam yang masih mengenakan helm terlihat mengingat-ingat siapa yang sedang mengajaknya bicara saat ini.

"Sama siapa, Dam?"

"Sama Om," Saddam menunjuk ke arah parkir motor.

Abyan bukannya tidak sadar, namun ia pura-pura tidak tahu kalau Saddam bertemu dengan sang Mantan di tukang penjual Martabak. Sekali lagi, lebih baik tidak bertegur sapa, toh Abyan sadar kalau seseorang di dalam mobil yang dinaiki perempuan itu adalah seorang suami.

"Om Biyan ya," Marsha menoleh sekilas ke arah Abyan, namun sepertinya lelaki itu sedang sibuk dengan ponsel. "Masih ingat gak sama aku?"

"Eumm.., Tante Marsha?"

Marsha tersenyum seraya mengangguk, "sekarang tinggal di Surabaya lagi?"

Saddam menggeleng, "lagi liburan."
"Sudah, Dek. Empat puluh delapan ribu."

"Oalah, masih tinggal di Jakarta?"
Marsha sebetulnya tergelitik dengan kehidupan Kakak iparnya Abyan. Terlebih setelah dirinya dan lelaki itu berpisah.

Saddam mengiyakan, "ini uangnya, Pak." Ia lantas memberikan uang lima puluh ribu yang diberi Abyan, untung pesanannya sudah jadi tinggal dimasukkan kresek.

"Ke sini sama siapa aja?"

"Sama Bunda, Kakak." Saddam memasukkan kembalian ke dalam kantong.

"Salam ya buat Bundamu."

"Iya, Tante," Saddam menerima uluran tangan Marsha. Karena dulu kebiasaannya salim, tetap saja tidak ada perubahan. Sampai-sampai Marsha kaget ketika punggung tangannya ditempelkan pada kening Saddam.

"Masya Allah, semoga solehnya Saddam nular ke dedeknya Tante."

Saddam tersenyum kikuk ketika melihat Marsha mengelus perutnya yang cukup besar. "Dah, Tante."

"Dah!" Marsha melambaikan tangan, namun ia buru-buru menoleh ke arah tukang martabak, Perempuan itu juga enggan berbasa-basi pada Abyan, dia menyapa Saddam karena spontan saja.

Sementara itu Saddam dengan muka tanpa dosa langsung naik ke atas motor, ketika Abyan sudah melajukan kendaraan, baru dia bilang. "Om liat gak tadi aku diajak ngobrol sama orang?"

"Gak liat."

"Masa sih? Tadi loh aku nunjuk Om pas ditanya pergi sama siapa."

"Om gak liat, Dam."

..

"Gimana cutimu, Ar? Ada yang nanyain tuh."

"Perpanjang cuti lagi bisak gak sih, Mbak?" Aruna tengah tersambung dengan Yesi sembari menunggu Saddam kembali dari beli martabak.

"Kenapa, kenapa? Ada cerita apa sampe kamu pengen nambah cuti?" Yesi seperti menemukan celah untuk dikulik. Tidak biasanya Aruna ingin rehat lama, biasanya saja kerja lembur bagai kuda. Apalagi pekerjaan mereka di perusahaan farmasi yang bisa dipastikan omsetnya naik pesat di kala pandemi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 12, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cinta SetamanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang