#Harap bijak memilih bacaan. Ini adalah genre thriller, misteri dan ada sedikit romance.
Selamat membaca
#Enjoy
****
Alisa Mumtaza Zahra gadis desa yang pindah ke kota karena ayahnya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan.
Sky High School adalah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Jarvis Malik Hakan Alisa Mumtaza Zahra Darren Alfarezi
••••
|Sky High School|
***
Genre thriller/ misteri
***
|Baiklah, aku akan membantumu."
***
Alisa memikirkan ucapan Lukka tentang kerja sama tersebut. Apakah dia harus menerimanya atau malah menolak? Namun, korban perundungan harus mendapat keadilan.
"Bukannya membalas dengan kebaikan itu nggak bakal membuat pelaku jera. Seharusnya mendapat balasan yang setimpal." Alisa memberi pendapat.
Lukka tersenyum lalu meminum jus mangganya,"Terus kita menuduh mereka secara terang-terangan?"
"Bukan begitu maksudku," kata Alisa.
"Begini, Alisa." Lukka berdeham sebentar. "Kalo kita dekat dengan mereka pasti akan lebih mudah mendapat petunjuk. Apalagi mereka tinggal di rumah yang sama."
Alisa mulai mengerti dengan jalan pikiran Lukka. Ia mengangguk paham,"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Mendapat kepercayaan dari pihak sekolah," jawab Lukka menyunggingkan senyumnya. "Dengan begitu gue bisa mendapat akses sekolah lebih mudah."
"Cukup menarik," ujar Alisa.
"Jadi gimana?" tanya Lukka.
"Baiklah, aku akan membantumu," putus Alisa.
****
"Suci meninggal bukan gara-gara Alisa. Lo jangan keras kepala. Berhenti nyalahin orang yang bahkan nggak tahu apa-apa!" Darren mulai pusing menghadapi Jarvis.
"Apa kata lo?" Jarvis berdiri lantas menarik kerah seragam Darren. "Bukannya sudah jelas kalau Suci meninggal karena Alisa."
Darren menepis tangan Jarvis,"Bukan gara-gara Alisa!"
Jarvis mengacak rambutnya frustasi,"Lo nggak tahu gimana rasanya kehilangan adek yang lo sayangi."
"Gue tahu gimana rasanya karena gue punya adek juga!" seru Darren tak tahan dengan sikap Jarvis yang selalu emosional. "Tapi bukan begini caranya."
"Terus gue harus gimana, hah? Apa yang harus gue lakuin? Kejadian itu selalu berputar-putar di otak gue! Lo nggak tahu seberapa menderitanya gue mengidap sindrom hipertemesia!" Jarvis meraung-raung sambil memukul-mukul kepalanya.