"Kamu boleh menganggumi tetapi jangan terobsesi untuk memiliki, karena yang akan tersiksa adalah dirimu sendiri."
Seblak_Rasa
________________________Matanya membulat sempurna, dada itu kini berdebar lebih keras, tubuh terpaku, wajah cantik itu kini pucat pasi.
"Cha, kamu gapapa?"
Suara lembut itu menggetarkan hati gadis yang sepertinya hampir meledak.
Ia memukul-mukul kepala "sadar Dheesa, sadar."
Sekali lagi ia memejamkan mata, mungkin ini hanya khayalannya saja.
Tetapi ketika ia kembali membuka mata sosok itu masih berdiri tegap hadapannya.
"Gus Zaine?" sekali lagi ia berusaha meyakinkan.
"Iya, Cha. Ini aku." jawab lelaki dengan wajah keheranan melihat tingkah Dheesa.
Hidung itu mengendus tubuh lelaki di hadapannya "aroma ini, aroma Gus Zaine."
Lelaki itu terkekeh "Kamu kenapa sih, Cha?"
Setelah sadar dengan posisinya yang terlalu dekat ia mundur beberapa langkah "Maaf, Gus."
"Gapapa."
"Ini beneran Gus Zaine?" sekali lagi Dheesa berusaha meyakinkan dirinya.
"Iya, Cha. Ini aku."
Ia mengerutkan darinya "kok bisa? bukannya Gus baru pulang tiga bulan lagi?"
"Alhamdulillah bisa di percepat." jawab Zaine.
Dheesa mengangguk tanda mengerti. Ia baru teringat kalau ia harus segera pulang, kalau tidak ibunya bisa ngomel berjam-jam nanti.
"Gus, maaf aku harus segera pulang." ia terburu-buru berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu."
Suara itu berhasil menahan langkah gadis yang masih merasakan debaran jantungnya berdegup kencang.
"Bagaimana kabarmu?"
Dheesa berbalik "Alhamdulillah, baik Gus."
Zaine tertunduk lalu memasukan kedua tangan ke dalam saku celana bahan yang berwarna biru langit. Sesekali ia memutar-mutar ujung kaki kirinya.
"Kamu tak rindu kah?" ucapnya pelan dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Apa Gus?"
"E-enggak. Senang bisa ketemu kamu lagi." ucapnya sambil tersenyum.
Dheesa membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis "senang bertemu denganmu juga, Gus."
Ia kemudian kembali berbalik. Tetapi baru beberapa langkah ia menuju pintu keluar, tubuhnya berbalik lagi menuju laki-laki yang masih memperhatikannya.
"Gus."
Zaine tampak terkejut melihatnya kembali "I-iya?"
"Aku lupa berpamitan." ucapnya sambil cengengesan.
"Oh. I-iya." jawab Zaine yang tergagap.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." jawab lelaki tampan itu lagi.
Kini Dheesa benar-benar pergi, ia melangkah keluar dengan tergesa-gesa.
Sementara Zaine masih memperhatikan gadis itu hingga tubuhnya mengilang di balik pintu.
"Kamu tak berubah, masih menggemas seperti dulu." ucapnya dengan suara pelan sambil tersenyum.
Dheesa menghentikan langkahnya setelah ia berhasil keluar dari dalam pondok pesantren. Ia memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadheesa
Romance[ USAHAKAN FOLOW DULU SEBELUM BACA !! ] "Nikah sama gue ya?" "Gila lo!!" "Lagian kakak gue udah nikah kan? lo gak bakal bisa dapetin dia lagi." ujarnya tak mau menyerah. "Enggak." "Gue siap jadi pelampiasan lo." ia menyenggol lengan gadis di samping...