Kedua perempuan itu saling diam, mereka terlalu larut dengan pemikiran masing-masing, tidak tahu harus berbicara apa tentang kejadian saat itu.
Bellyna menghela nafasnya, kelereng hitamnya bergulir menatap Agnes yang duduk membisu diatas ranjang miliknya.
"Mau minum?" Bellyna bertanya sambil tersenyum kecil.
Agnes yang melihatnya hanya tertegun sesaat sebelum kembali menunduk dengan anggukan kecil, sungguh ironis bukan? Dirinya harus ditolong oleh orang yang ia bully.
Bellyna kembali dari dapur dengan segelas air putih di tangannya.
Agnes menerima air tersebut dan meneguknya hingga habis.
Agnes menghembuskan nafasnya, tangannya mencengkram erat gelas yang digenggamnya.
"Apa... hubungan Lo dengan Damian?" Agnes bertanya dengan suara pelan.
"Hubungan? Hm....hanya....teman."
Mata Agnes memicing tajam, ia tidak percaya jika hubungan diantara keduanya hanya sebatas teman. Agnes bisa melihat jika Damian menyukai Bellyna, mustahil jika Bellyna tidak mengetahuinya?
"Sekarang gue yang bertanya..." Bellyna berucap.
"Kenapa Lo suka Damian?"
Agnes terdiam, "Gue suka Damian karena..."
Jawaban Agnes terhenti, seolah ia bingung harus menjawab apa kemudian.
Damian...siapa Damian bagi Agnes?
Benar juga, apa alasan dulu ia begitu menyukai Damian?
Bellyna hanya menatap Agnes yang bingung dengan perasaanya sendiri.
Mungkin ini hanya pemikiran dari Bellyna sendiri, menurutnya Agnes tidak benar-benar menyukai Damian. Agnes hanya diatur untuk menyukai Damian di dalam novel, para tokoh hanya sebatas boneka bertali bagi Penulis.
Beruntung Bellyna bisa terlepas dari tali yang mengikatnya sehingga ia bisa bebas dari aturan Penulis.
Tapi bagaimana dengan mereka?
Mereka semua masih terikat dengan tali yang mengekangnya walaupun sepertinya sedikit demi sedikit tali yang mengikat mereka mulai tipis.
Yah...untuk Damian... laki-laki itu cukup melenceng jauh dari plotnya, seolah-olah tali itu tidak pernah ada dalam dirinya.
"Bellyna?"
Lamunan Bellyna terhenti begitu Agnes memanggilnya, "Ya?"
"Lo punya nomor Alan? Bisa hubungi dia buat jemput gue?" Agnes bertanya dengan bingung, saat ini Alan adalah orang yang paling ia butuhkan.
"Oke. Gue bakal hubungin dia."
________________________________________
"Pagiku cerah~ matahari bersinar...ku gendong tas merahku di pundak~.." Melissa bersenandung bahagia, netranya tak sengaja melihat seekor-seorang manusia yang tengah berjalan dengan gontai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bell (Edisi Hiatus)
Novela JuvenilBellyna tahu jika dunianya itu palsu. Sebuah dunia yang ditujukan para pembaca untuk mencari hiburan. Bellyna tahu jika dirinya hanyalah satu dari semiliaran figuran yang ada di dunianya. Berbicara dan bertindak sesuai dengan keinginan Sang Penulis...
