Semoga, jiwamu bebas seperti udara yang menghidupkan sebuah api.
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
"Sejak kapan Abang jadi anak pramuka, njir?"
Pradifta mengernyit setelah melihat penampilan kakaknya yang memakai pakaian pramuka lengkap dan tengah membereskan barang ke dalam sebuah tas besar.
"Gue mau ikut kemah," jawab Radhika.
"Emang boleh? Abang bukan dewan ambalan kan?"
Radhika menoyor kepala adiknya pelan, ia berdecak, "ck kaya gak tau aja. Gue kan anak kesayangan Pak Handoyo,"
"ORDAL?! BANG KOK LU-"
"Nggak." Radhika memotong kehebohan Pradifta, "Pak Handoyo nyuruh gue gabung buat bantuin pas kemah karena kaki Jevano cedera,"
"Owalah, dewan ambalan dadakan ceritanya. By the way, Abang yang bikin Jevano cedera ya? Ngaku gak!"
"Sok tau cil,"
"Nggak ngaku berarti nggak jadi pacaran sama Rinjani,"
Radhika memutar bola matanya malas, "jelek banget omongan lu, iya-iya emang gue. Tapi ga bikin cedera, cuma-"
"Cuma apa?"
"Pincang dikit,"
Pradifta ingin menanggapi lebih lanjut, tetapi teriakan samar sang ibu terdengar dari arah ruang tamu. Radhika dan Pradifta memandang satu sama lain, mereka kompak berlari menuju Rahmi.
Tatkala sampai ruang tamu, pandangan mereka menemukan Rahmi telah jatuh terduduk dilantai dengan sosok perempuan bergincu merah merona didekatnya.
Pradifta membantu ibu berdiri, sementara Radhika menghampiri perempuan dihadapan Rahmi.
"Tante Fatma apa maksudnya dorong-dorong ibu?!"
Fatma, adik ipar Rahmi alias ibu kandung Jevano. Ia menatap judes pada keponakannya, "tanya ibumu sendiri! Dia belum membayar lunas hutangnya! Wajar kalo saya marah,"
Nafas Radhika berderu tak teratur, "Berapa total kekurangan hutang ibu, Tante?"
"Seratus juta." Fatma mengibaskan rambutnya.
"Apa-apaan? Ibu cuma utang 50 juta dan udah dibayar 30 juta. Kenapa sekarang tiba-tiba 100 juta?!" Radhika memekik tidak terima.
"Saya ini rentenir," Fatma tersenyum miring, "hutang tanpa bunga adalah kerugian. Terakhir ibumu menyicil hutang itu tiga tahun lalu. Jadi wajar sekarang 100 juta,"
Rahmi mendekati Fatma, "Saya akan bayar lunas, Fatma. Tapi tidak sekarang.... saya sudah berusaha..."
"Halah!" Fatma mendorong Rahmi kembali, "kamu bodoh atau apasih gak pernah sadar kalo miskin."
"Tante!" sentak Pradifta menahan ibunya agar tidak terjatuh.
Fatma menatap nyalang Pradifta, "apa?! Ibumu yang salah! Ibumu yang tidak bayar hutang!"
"Saya berjanji, Fatma. Berikan saya waktu lagi," ujar Rahmi memohon.
"Tiga bulan. Saya berikan kamu waktu dua bulan. Kalo tidak dibayar juga, maka rumah ini akan saya ratakan!"
"Tante gak punya hak-"
"Punya! Bertahun-tahun lalu, Rahmi menandatangani surat perjanjian jika tidak bisa membayar hutang maka rumah ini menjadi milik saya,"
Seusai berucap demikian, Fatma melenggang pergi dari kawasan tersebut. Rahmi terduduk lemas di lantai sembari meneteskan air mata. Ia memandang pilu kedua putranya, "maafkan ibu ya, Nak. Ibu akan berusaha lagi, ibu akan cari kerja dengan gaji lebih banyak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Meets the Poetry; RAINJANI.
Teen Fiction"Jangan jatuh cinta sama gue, Dika." Radhika tak punya apa-apa kecuali keberanian mencintai gadis yang semua orang bilang, bukan untuknya. Radhika kerap disebut aneh, cupu wibu, kutu buku, dan siswa miskin yang beruntung sekolah di Jayawardhana. Di...
