"Aku tahu patung adalah seni mengabadikan kenangan, tetapi haruskah aku memahat Ibu? Mengabadikan kejahatannya?"
⁕⁕⁕
WATTYS 2023 SHORTLIST
⁕⁕⁕
Tersesat dalam kampus seni mempertemukan Cedric dengan Vincent -- "Sang Dewa Roma" -- dan Ronald, simbol k...
Kemunculan polisi di kampus agak mengejutkan orang-orang, tetapi aku tidak terlalu. Mereka muncul sejak tiga hari setelah aku ditelepon. Yang kukhawatirkan adalah andai ibu Janet berpesan kepada para polisi itu agar menanyaiku ....
Dan itu sungguhan terjadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada yang mengawasiku di hari Jumat itu. Saat aku memarkir mobil di kampus, atau saat aku muncul di Margoway Ave., atau belok ke kantin untuk beli cokelat panas karena cuaca musim gugur kali ini sangat dingin—tapi itu belakangan. Sebelum kejadian di kantin, aku sudah merasa gelisah sepanjang di kampus karena ini membuatku tertekan.
Apakah hilangnya Janet bakal berimbas padaku? Tampaknya begitu. Vincent dan Ronald memikirkan hal yang sama kendati aku belum mengatakannya kepada mereka. Vincent terlalu sering mencuri pandang untuk memastikan ekspresiku, dan Ronald punya kebiasaan melihat ke sekeliling saat kami di luar kelas.
Mereka memiliki persamaan suara yang hebat. Mereka mengatakannya saat kami sedang duduk-duduk di kaki tangga Cassius Hall. Ini adalah salah satu lokasi tongkrongan mahasiswa jurusan seni murni karena lokasinya yang strategis; menghadap ke arah alun-alun kampus, bersebelahan dengan gedung studio, dan jauh dari kantin yang sumpek.
"Kayaknya ada polisi yang mengawasimu, Ced."
Ronald menatap lurus ke arah gedung administrasi kampus yang tepat berseberangan dengan museum. Kami melihat tiga orang polisi yang mondar-mandir. Vincent menggumamkan hal yang sama beberapa saat lalu.
Jariku mulai saling menggaruk. Jantungku berdegup pelan. "Aku tidak suka mereka."
"Aku juga." Ronald menghela napas. "Aku mengerti perasaanmu di bagian ini. Mereka agak rasis tiap kali mencoba mengecek kartu identitasku."
"Aku pun," Vincent berbisik.
"Memang apa masalahmu?" Ronald dan aku mengernyit mendengar pengakuannya.
Vincent membutuhkan jeda kelewat lama hanya untuk memberikan jawaban singkat. "Pungli?"
"Yah, kadang punglinya tidak masuk akal kalau menghadapi orang kaya." Ronald mengangkat bahu. Aku mengangguk, meski keluargaku tak pernah kena pungli.
"Aku beli cokelat panas dulu deh. Kalian mau?" tanyaku sambil beranjak, dan di sinilah ceritanya dimulai.
Kebetulan Vincent dan Ronald tidak titip. Mereka lebih memilih untuk berbagi luckies selagi tak ada dosen yang berseliweran dan pintu museum sedang ditutup rapat.
Saat menyusuri alun-alun kampus, kusadari bahwa ada pandangan yang tertuju padaku datang dari arah gedung administrasi. Aku berusaha keras mengabaikan dan refleks mempercepat langkah ke kantin.
Kukira aku bisa bernapas lega saat berbaur dengan para mahasiswa yang mencari kehangatan di bangunan panjang beratap rendah itu. Kantin kampus kami sebenarnya agak bagus, mirip museum dengan jendela-jendela melengkung industrial, dan pilar-pilar di tengah ruangan yang membelah jalur jalan mahasiswa. Meja-meja persegi panjang dan meja-meja panjang berbentuk L penuh disesaki mahasiswa yang berkelompok antar jurusan—mahasiswa-mahasiswa filsafat di pojokan, mahasiswa-mahasiswa jurusan seni musik yang terbiasa duduk di dekat panggung (tempat mereka melakukan pertunjukan kecil tiap Jumat malam), atau mahasiswa-mahasiswa jurusan tari yang suka cekikikan di mana pun mereka mendapat tempat duduk.