⚠️ BUDAYAKAN FOLLOW DAN TINGGALKAN VOTE SEBELUM MEMBACA ⚠️
ㅤㅤ
[ BOOK TWO OF TWISTED FATE ]
ㅤㅤ
Semua orang menyukai Michael Davis. Ia pemuda yang ramah pada setiap orang yang ditemuinya, merupakan salah satu murid cerdas di sekolahnya, dan memiliki s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ㅤㅤ “Kau sudah mengemasi semua barang-barangmu?”
“Sudah,” jawab Michael.
“Bajumu di ruang laundry, apa kau sudah mengambilnya?” tanya Dexter.
“Sudah, Papa.” Michael menoleh ke arah Dexter yang berdiri di ambang pintu, menunggunya. “Aku juga sudah mengembalikan baju dan parfummu,” imbuhnya di sela cengiran.
Pendar kecemasan di mata Dexter melembut. Pria baya itu tersenyum kecil. “Aku tidak masalah kalau kau memutuskan untuk membawanya bersamamu,” ucapnya.
“Aku tidak bisa melakukan itu.” Michael menyampirkan tasnya ke bahu. “Mama selalu mengingatkan padaku dan adikku, untuk selalu menjaga barang yang kita pinjam, dan tak lupa untuk mengembalikan barang itu ke pemiliknya,” jelas pemuda itu.
Dexter tersenyum sendu. “She taught you well,” ia berkomentar, tangannya terangkat membelai kepala Michael.
Setelah mendengarkan penjelasan Miabelle, pria baya itu akhirnya mau menerima fakta bahwa anaknya dengan Mia telah tiada. Kini, ia harus rela melepas Michael untuk pulang ke Brooklyn bersama kedua orang tuanya. Karena bagaimanapun, mereka berdua tak memiliki ikatan darah. Juga, sudah tidak ada lagi alasan bagi Dexter untuk menahan Michael agar menetap bersamanya.
Dexter mengulurkan lengan, merengkuh pemuda itu erat-erat. “Senang bisa menghabiskan sedikit waktu bersamamu, Nak,” bisiknya rendah.
Michael membalas pelukan papanya. “Begitu juga denganku, Papa. Kau memang memiliki masa lalu yang buruk dengan Mama, juga sempat membuatku ketakutan setengah mati. Tapi… kurasa aku bisa memaafkanmu.”
“Ketahuilah, Mike,” ucap Dexter. “Meski aku tak memiliki ikatan darah denganmu, aku tetap menyayangimu seperti anakku sendiri. Dan aku yakin, keluargamu juga menyayangimu sama besarnya. Terutama mamamu.”
“Aku tahu, Papa,” balas Michael. “Aku juga menyayangi kalian semua sama besarnya.”
Dexter menarik diri dan mengamati raut tenang yang tercetak pada wajah pemuda itu, kedua tangannya diletakkan pada pundak Michael. “Kau anehnya terlihat begitu tenang menghadapi fakta itu. Kau tidak sedih karena mengetahui bahwa kau ternyata anak adopsi?” tanyanya heran.
Michael mengangkat bahu, acuh. Tapi jika kau memerhatikan dengan jeli, ada kilat kesedihan yang terpantul sekilas di manik birunya, tersembunyi dengan baik di balik raut tenang di pemuda.
“Agak menyedihkan rasanya ketika mengetahui bahwa ternyata aku dibuang oleh ibu kandungku sendiri. Tapi aku mendapatkan sebuah keluarga yang begitu mencintaiku sebagai balasannya,” ujar Michael. “Kenapa aku harus bermuram durja karenanya? Justru, aku merasa bersyukur memiliki mereka semua. Orang tuaku, kakek nenekku, adikku, teman-teman dan penggemarku. Serta dirimu, Paman Matthew, dan Bibi Emira. Kalian menyayangiku dengan sepenuh hati. Balasan itu setimpal dengan perginya ibu kandungku.”