Buah Mangga Punya Kenangan Baru

38 4 0
                                    


Renaldi duduk di samping Ali yang tengah sibuk mengetik di laptop. Senang rasanya bertambah satu orang lagi penghuni di kosan ini. Sudah hampir 3 tahun Renaldi di rumah ini, dan sudah 1 tahun Renaldi hanya tinggal berdua dengan Arjuna, lelaki yang satu tahun lebih tua darinya. Dulu, waktu pertama kali Renaldi datang ke kosan ini, kosannya sudah diisi oleh tiga orang. Mereka sama seperti Renaldi, berasal dari luar kota. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dua penghuni kosan ini keluar. Yang satu meninggalkan kosan karena mendapatkan pekerjaan yang jauh dari kota ini. Yang satunya lagi keluar karena menikah.

"Li, gak bosen mainin laptop dari tadi?"

"Tugas Ren, ini juga udah selesai." Ali menutup laptopnya. Kemudian menyeruput kopi yang dibuatkan Renaldi.

"Ren?"

Renaldi berdehem, kali ini dia yang sibuk dengan benda pipih miliknya.

"Lo tahu adeknya si Hildan?"

"Tahu, kenapa?" jawab Renaldi.

Ali diam, ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin bertanya tentang gadis itu.

Renaldi melihat Ali sekilas. "Lo suka sama Nayzira?"

"Nanya apa lo barusan?! Gue mana suka bocah cengeng, aneh, nyebelin kek dia!"

"Lo belum tahu aja dia sebenernya kayak gimana."

Ali berdecih, jelas dia tahu seperti apa gadis itu.

"Gue disuruh Hildan jemput adeknya. Dan lo tahu apa yang terjadi?"

"Lo disuruh nyari pagar temennya?"

Ali menatap kaget Renaldi. Sedangkan Renaldi, laki-laki itu menanggapi ekspresi Ali dengan santainya.

"Gue dulu lebih parah, si Nayzira pulang sekolah bawa bibit lidah buaya dari si Jibran. Sepanjang jalan gue dicuekin, yang diajak ngobrol cuma lidah buaya."

Ali tertawa mendengar ucapan Renaldi.

"Lo tahu? Tadi dia nangis gara-gara hijabnya kejatuhan kotoran burung."

Kali ini Renaldi ikut tertawa, seru juga adu nasib ketika menjemput Nayzira.

"Kebanyakan gaul sama si Cakra emang begitu," ucap Renaldi masih dengan tawanya.

"Tapi, kadang ada orang yang act like fool but think like queen," lanjut Renaldi setelah tawanya mereda.

Ali diam, mencoba mencerna kata-kata Renaldi. Ada sedikit rasa penasaran dalam hatinya mengenai Nayzira.

"Nyokap lo tahu kalo lo ngekos di sini?" Tanpa Ali sadari, Renaldi kini mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Kayaknya enggak. Kalaupun tahu, orang tua gue gak akan nyamperin ke sini, sibuk sama pekerjaannya."

"Gue heran, lo udah enak tinggal sama tante lo. Makanannya elit, mandi pake shower, gak repot beres-beres pula. Kenapa malah milih ngekos yang jelas-jelas susah? Makan seadanya, mandi pake gayung, beres-beres sendiri, pokoknya susah deh," ujar Renaldi.

"Tinggal di rumah orang lebih gak enak. Gue jadi sering denger beliau berantem sama suaminya. Terus ... gue juga pengen lebih deket sama temen-temen gue, pengen juga ngerasain hidup sederhana kayak gini."

"Tukeran posisi yuk! Gue juga pengen ngerasain punya banyak duit."

"Tapi, lo gak akan bisa ngerasain hangatnya keluarga kalau lo jadi gue, Ren."

Renaldi diam. Ia jadi merasa tak enak sendiri. Bagaimana jika Ali mengartikan perkataannya tadi sebagai singgungan?

"Ren, gue tidur duluan ya? Takut kesiangan besok."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 16, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Bertemu Jodoh Lewat Sandal Bapak [Jaemin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang