Beberapa bulan kemudian
Kehidupan para mafia yang dulunya lajang, sepertinya di masa depan ini, tampak begitu terang dan gemilang.
Mereka memiliki kebahagiaan yang tidak bisa diukur oleh apapun.
Seperti istri yang cantik dan tengah menanti kelahiran sang buah hati.
Hal itu seperti yang dialami oleh El saat ini, di mana dia menjadi super protektif disaat kehamilan Lea yang mendekati masa kelahiran sang buah hati.
"Bagaimana jika kita beri nama Messina? Atau Escobar? Atau Gabriel? Ah siapa nama yang cocok untuk cucuku?" Tesa terlihat bingung memilih beberapa nama yang tepat untuk calon cucunya.
El yang fokus dengan laptopnya hendak melakukan meeting, hanya bisa menghela napas.
"Cucunya aja belum lahir ma, kenapa mama sibuk memilih nama."
El mengaduh kesakitan kala kepalanya digetok dengan sendok.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri, kenapa kamu tidak pergi ke kantor dan selalu bekerja dari rumah selama beberapa bulan ini? Kenapa kamu tidak menjual saja perusahaanmu atau pindahkan kemari. Kau bersikap sangat protektif sekali pada menantuku. Aku saja sudah cukup untuk mengurusnya."
El menghirup dalam napasnya, menoleh ke samping kanan menatap mamanya, "Kenapa mama selalu memarahiku? Katakan sekarang jika El bukan putra kandung mama." El sedikit menjaga jarak dari Tesa, bukan karena marah atau apa, hanya menghindari pukulan maut mamanya.
Tesa mendesis kesal sembari mengangkat sendoknya, "Kenapa aku bisa mencetak putra sepertimu. Ini gara- gara papamu dulu, dia selalu melakukannya dengan keadaan lampu mati. Karena itu kau terlahir dengan mulut yang begitu berisik dan ribut."
El menoleh, membuka mulutnya tidak percaya kala mendengar ucapan mamanya.
Belum sempat membalas ucapan mamanya, Lea turun dengan keadaan yang segar dan cantik.
"Mama." Panggil Lea manja membuat Tesa menoleh, bergegas menghampiri menantunya dengan tergesa.
"Iya sayang? Kamu ingin sesuatu?" Lea mengangguk membuat El langsung melempar laptopnya ke samping, beranjak dari sofa dan menghampiri istrinya.
"Kamu ingin apa sayang?" tanya El sembari merengkuh pinggang ramping Lea seolah mengambil alih dari Tesa.
"Lepaskan tanganmu sebelum mama potong!"
Tangan kekar itu langsung menyingkir dari pinggang ramping Lea.
Tesa membawa Lea duduk dengan pelan- pelan di sofa, "Lea mau makan 𝙋𝙤𝙡𝙡𝙤 𝘼𝙡𝙡𝙖 𝙈𝙖𝙧𝙚𝙣𝙜𝙤, yang dulu pernah Ziko masak waktu ulang tahun mama." Tesa mengangguk, meraih ponselnya dengan cepat.
El menyipitkan tatapannya, menatap lekat dua wanita kesayangannya.
"Apa keberadaanku sungguh tidak terlihat? Bagaimana bisa dia ingin makan masakannya Ziko disaat aku bisa memasaknya?" dumel El dengan kesal sembari menarikan jemarinya asal di atas keyboard laptop.
"Ziko, kamu sedang sibuk sayang?" tanya Tesa sembari mengusap- usap perut buncit Lea yang kini terhitung 5 bulan masa kehamilannya.
"Tidak ma. Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Ziko dengan antusias.
Tesa menatap Lea dengan senyuman manis, "Kamu ingat masakan Pollo Alla Marengo? Lea ingin memakannya. Bisa tolong buatkan untuknya sayang?" Lea menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang harap- harap cemas.
"Tentu ma. Ziko akan membuatnya." Tesa mengangguk dan memberikan kecupan singkat sebelum menutup telponnya.
"Bagaimana ma? Ziko mau?" Tesa mengangguk, lalu keduanya bersorak kesenangan kemudian saling berpelukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
STARTING TO GET OBSESSED
Storie d'amoreHarap maklum untuk tatanan setiap kata dan bahasa, serta hal yang mungkin kurang masuk akal, ini tulisan pertama saya. ••• El Zibrano Alemannus, duda muda beranak satu dengan paras yang begitu rupawan dan mempesona. Menjadi miliarder di usia muda me...
