2. Berjuang

6 2 0
                                        

Jevan tidak bisa mengelak untuk mencari banyak alasan atas tudingan ibunya. Kepergian Harin membuat Jevan mengurung diri dengan tangis. Waktu sudah berjalan setengah tahun lamanya, Harin dan Jevan mencoba manarik restu Tiffany dan dalam waktu itu pula Tiffany selalu menolak dengan kasar Harin yang selalu dibawa Jevan ke rumahnya. Tanpa permisi Tiffany masuk ke kamarnya, kembali merendahkan Harin di hadapannya. Apakah salah mencintai orang miskin?

"Kau menangis untuk pelacurmu itu?" sinis Tiffany.

"Apa Harin seburuk itu?"

"Seleramu rendah Lee Jevan," Jevan berlari keluar kamarnya meninggal Tiffany yang duduk di birai kasur. Tiffany kehilangan akal untuk memberi pemahaman untuk Jevan. Tiffany bingung kenapa anaknya yang berada di dekat garis sempurna harus bertemu dengan gadis yang berada jauh dari kata sempurna.

Pintu coklat yang tidak terlalu tinggi itu diketuk dengan kasar dan berulang-ulang. Harin yang mendengarnya sedikit menyeringit untuk membukanya. Matanya terbuka lebar karena pada saat pintu itu terbuka tubuhnya langsung dihantam oleh sebuah pelukan erat Jevan. Bahunya terasa basah karena air mata pria itu mengalir di sana.

Tangannya bergerak untuk mengusap rambut hitam kekasihnya, mencoba meredakan isak tangis yang terdengar frustasi dari Jevan. Perlahan tapi pasti Harin menarik tubuh Jevan untuk masuk, membawanya duduk di sofa dan melanjutkan tangisnya disana.

"Ada apa denganmu sayang?" lirih Harin melepas pelukannya, mengusap air mata Jevan dan merapikan surai yang sudah tidak rapi lagi. Mata itu sembab, wajah tampannya memerah, napasnya tersekat-sekat. Bahunya sedikit bergetar saat berbicara dengan susah.

"Aku sudah tidak tau cara mempertahankanmu," lirih Jevan.

"Ibumu lebih penting, aku akan senang jika kau melepasku. Aku tidak ingin hanya karena gadis rendah sepertiku keluargamu hancur," suara lembut itu mengalun indah, Jevan menggeleng kuat dengan mata terpejam erat tak setuju dengan apa yang diucapkan Harin. Ia tangkup dagu Harin untuk menghadapnya, saling menatap manik indah yang memancarkan dambaan rasa besar.

"Aku akan melakukan apapun caranya, kumohon tunggu aku."

Harin menatap manik Jevan yang sedikit merah, ia lepas jemari Jevan yang melekat di wajahnya. Harin menghapus jarak yang ada, semakin dekat dan dekat. Harin menutup matanya ketika bibir mereka bertemu. Jevan terkejut mendapatkan sebuah afeksi, ini first kiss mereka selama tiga tahun. Jevan semakin terkejut ketika bibir Harin bergerak melumat bibirnya lembut. Tidak membalas dan hanya menikmati, itulah yang Jevan lakukan sekarang.

Perlahan tapi pasti Jevan mulai melumat bibir ranum Harin. Lumatan lembut itu berjalan sedikit lama, tengkuk Harin Jevan tarik untuk memperdalam ciuman mereka. Harin senang ketika Jevan mulai membalas semua lumatan-lumatan yang ia berikan. Lengan Harin Jeno bawa untuk mengalung pada lehernya.

Lumatan itu terlepas ketika Harin menepuk pelan dada Jevan, Harin meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Suara decapan mereka menghantui pendengaran Jevan. Jevan kembali mengecup pelan bibir kekasihnya, beralih mengecup kedua mata indah Harin. Tidak melupakan hidung pipi dan semuanya. Jevan tidak akan menyisakan satu titik pun, ukiran tuhan yang ada di bawahnya ini adalah ukiran terindah maka Jevan tidak akan menyia-nyiakan waktunya, ia sudah lama menunggu waktu ini tiba.

"Miliki aku malam ini Jevan, aku...."

"Aku bukan seorang pecundang yang memakai segala cara untuk mendapatkanmu. Kau terlalu berharga untuk hal itu. Mungkin karena dirimu seindah berlian akh tidak bahkan lebih indah dari berlian aku harus mendapatkanmu dengan jerih payah yang lama."

"Kau memang seorang perayu ulung Lee Jevan."

"Apa salahnya merayu kekasihku sendiri?"

"Harin...."

"Ya?"

"Hm b boleh aku menginap?"

"Kamar di sini hanya satu."

"Yasudah kita tidur berdua."

"Big no Mr. Lee."

"Aku di sofa?"

"Pulang ini sudah malam anak Mama ini pasti sedang dirindukan oleh mamanya," ejekan Harin berbuah dengusan kesal dari Jevan.

"Aku sedang tidak ingin pulang."

"Aku ingin tidur, selamat tidur bersama nyamuk dan sofa keras Jevan," lagi, nada itu terdengar sangat mengejek. Harin tertawa melihat wajah murung Jevan yang ditinggal begitu saja.

"Kemari dalam hitungan tiga sebelum pintu ini terkunci."

"Sa...tu," Jevan langsung berdiri dan berjalan secepat yang ia bisa, raut murungnya sekarang berseri. Malam ini memang malam yang indah untuk Jevan. Mendapatkan ciuman pertama dan bisa tidur satu ranjang bersama kekasihnya.

Harin merasa dirinya aman saat merada di dalam pelukan hangat kekasihnya. Dada bidang itu seperti benteng yang tidak dapat dihancurkan. Usapan para pucuk kepalanya tidak berhenti-henti diberikan oleh telapak tangan Jevan.

"Aku mencintaimu Harin, tunggu aku," ujar Jevan mengecup singkat kening Harin yang sudah tertidur. Setelahnya Jevan ikut memejamkan matanya untuk menyusul Harin di alam mimpinya.

Harin membuka kecil matanya, ia tersenyum mendengar ucapan Jevan saat ia belum benar-benar tidur. Wajah tampan itu terlihat sangat tenang. Setelahnya Harin benar-benar pergi ke alam mimpi.

~To Be Continued~

 Need YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang