Bab 2

79 10 1
                                        

Sekolah yang menjadi tujuan Indra adalah SD Bunga Sejahtera. Lokasi sekolah itu tidak begitu jauh dari rumah Indra. Jaraknya sekitar lima kilometer. Jadi, dia tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke sana.

Usai memakirkan motornya, Indra melepas helmnya dan menyempatkan diri untuk berkaca di spion. Dia menata rambutnya yang klimis dan tertata rapi. “Sip,” ujarnya singkat lalu berjalan menuju ke kantor kepala sekolah.

Sekolah dasar itu hanya mempunyai beberapa ruangan, mulai dari ruang kelas utama, ruang guru, serta fasilitas pendukung seperti UKS dan perpustakaan. Di bagian sudut sekolah, ada mushola kecil serta kantin untuk jajan anak-anak.

“Permisi,” ucap Indra dengan nada yang sedikit gugup. Tatapan matanya menelisik ruangan yang ada tepat di depannya. Lalu, pandangannya tertuju pada bapak-bapak paruh baya berkacamata yang terlihat sedang sibuk mengetik di depan laptopnya.

“Masuk aja, Mas! Nggak dikunci kok,” jawab beliau singkat dengan senyum dan sedikit cekikikan ke arah Indra yang berdiri di depan pintu. 

Baru datang, Indra langsung disambut dengan jokes receh khas bapak-bapak. Enggak lucu sih, pikirnya. Walaupun demikian, dia tetap merespons dengan tawa yang penuh dengan sandiwara. Setidaknya, dia ingin membuat bapak-bapak itu senang.

Setelah dipersilahkan, Indra kemudian duduk di depan bapak-bapak tersebut. Matanya menelisik tanda pengenal yang terpasang di atas saku kiri bapak tersebut. Subroto Djoyo Atmiko. Nama itulah yang dibaca oleh Indra. 

“Selamat pagi, Pak Subroto! Saya Indra yang tadi malam ditelpon oleh Bapak. Saya kemari ingin membicarakan lebih lanjut terkait perbincangan semalam,” ucap Indra memulai pembicaraan dengan sopan.

“Santai dulu, Mas! Sudah ngopi apa belum? Mau saya buatin kopi?”

“Ehm … enggak perlu, Pak. Nanti malah merepotkan,” Indra menjawab dengan ragu-ragu. Jika dilihat-lihat dengan teliti, tidak ada kompor atau alat yang bisa digunakan untuk menyeduh kopi di tempat tersebut. Hal itu membuat Indra jadi heran.

Pak Subroto terkekeh lagi melihat sikap Indra yang masih kikuk. Entah mengapa, beliau tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. “Yuk, ikut saya, Mas Indra! Kita ngopi dulu di kantin sekalian isi perut. Saya belum sarapan di rumah,” ucap bapak itu dengan santainya.

Tanpa ba-bi-bu, Indra hanya menuruti permintaan Pak Subroto dan mengikuti langkah kakinya menuju ke kantin. Selaras dengan sifatnya yang humoris, cara berjalan beliau terlihat sangat santai. Sesekali, beliau mendendangkan irama lagu Rhoma Irama.

“Anda mau pesan apa, Mas Indra?” tanya Pak Subroto sembari menata tempat duduknya. Bu Iyem si penjaga kantin masih sibuk berkutat dengan bumbu dapur, sayur mayur, serta seperangkat alat memasak dengan kompor yang menyala-nyala.

Indra bingung menanggapi pertanyaan itu. Pengennya sih disamakan aja dengan pesanan Pak Subroto. Namun, dia takut jika nanti dia dipandang sebagai pribadi yang tidak punya pendirian. Hal itu bisa menjadi poin negatif untuknya.

Meskipun Pak Subroto terlihat humoris, Indra merasa curiga bahwa beliau sedang mengujinya secara diam-diam. Bisa jadi, adegan ramah tamah ini adalah salah satu tes yang dilakukan Pak Subroto sebagai dasar pertimbangan penerimaan guru baru. Jika Indra tidak berhati-hati dalam bersikap, bisa jadi dia gagal menjadi guru di sekolah tersebut.

Setelah menimbang-nimbang, Indra pada akhirnya membalas pertanyaan Pak Subroto dengan sebuah pertanyaan. “Mohon maaf, Pak. Menunya di sini apa saja, ya?”

“Oh, menu andalan di sini ada nasi pecel dan soto ayam. Masakan Bu Iyem sangat enak dan gak ada duanya. Anyway, you not must ask sorry. Toh, ini masih hari Senin. Belum lebaran,” Pak Subroto terdengar menirukan cara bicara bule Inggris tapi logatnya tetap medok.

“Saya pesan soto ayam saja, Pak. Sama pesan teh hangat satu.”

Sembari menunggu, Pak Subroto berbincang-bincang ringan dengan Indra seputar keseharian dan hal-hal lainnya yang kurang begitu penting. Beliau mengambil sebatang rokok lalu menawarkan rokok kepada Indra. “Maaf, saya kurang nyaman merokok di area sekolah, Pak. Takut dilihat anak-anak,” tolak Indra secara sopan.

“Sudah tidak apa-apa. Nggak perlu sungkan. Anak-anak sedang belajar di dalam kelas, kok,” Pak Subroto masih ngotot menawarkan rokok kepada Indra. Jawabannya masih tetap sama. 

Indra dengan tegas menolak hal tersebut. Kebiasaan merokok di sekolah mungkin adalah hal yang biasa bagi orang dewasa. Namun, Indra merasa hal itu tidaklah pantas bagi seorang guru yang menjadi contoh teladan bagi murid-muridnya.

Indra tidak ingin menormalisasi pemikiran kepada anak-anak bahwa merokok adalah aktivitas yang lumrah bagi orang dewasa. Setidaknya, dia ingin memegang prinsip tersebut. Dia memang seorang perokok, tetapi dia tahu cara menempatkan diri.

“Bukan bermaksud menggurui, Bapak. Namun, saya berpandangan bahwa sebaiknya Bapak merokok saat berada di luar area sekolah,” jawab Indra dengan mantap. Pak Subroto uniknya tidak tersinggung sama sekali, tetapi dia malah tersenyum.

“Pemikiran yang bagus, Mas Indra. Sampean sangat cocok jadi duta layanan masyarakat,” balas Pak Subroto lagi. Tak lupa dengan cekikikannya yang khas.

Di sela obrolan mereka, pesanan mereka diantar oleh Bu Iyem, semangkuk soto ayam dan sepiring nasi pecel. Tidak lupa juga, segelas kopi dan teh panas turut melengkapi kedua menu tersebut. Mereka berdua langsung menyantap makanan tersebut dengan khidmat.

Benar kata Pak Subroto beberapa menit yang lalu. Masakan Bu Iyem memang nendang di lidah. Saat pertama kali mencicipi kuah soto ayam tersebut, Indra langsung berdecak kagum. Kaldu serta bumbunya begitu terpadu dan membentuk sebuah harmoni. Pas dan mantap. 

Meskipun masakan tersebut sangat memanjakan lidah, Indra merasa porsi soto ayam Bu Iyem terlalu sedikit untuk perut orang dewasa. Porsi tersebut memang sengaja ditujukan untuk anak SD dan harganya pun pas di kantong.

Setelah perut yang kosong terisi penuh, Pak Subroto mengajak Indra untuk kembali ke ruangannya. Mereka masih harus membicarakan topik super penting yang menjadi alasan pertemuan mereka hari ini. 

Suasananya kini jauh berubah berubah dibandingkan beberapa saat yang lalu. Wajah Indra tampak pucat saat berhadapan dengan Pak Subroto yang telah beralih ke mode serius. Kesan humorisnya mendadak hilang secara tiba-tiba.

Sebelum membuka pembicaraan, Pak Subroto berdehem dengan suara yang berat. “Begini, Mas Indra. Saya sebelumnya ingin meminta maaf telah mengabaikan surat lamaran Anda beberapa waktu yang lalu. Saat itu, tenaga pengajar di sekolah kami memang sudah cukup. Namun, salah satu guru di sini baru-baru ini telah pindah tugas ke tempat lain. Karena itulah, saya berharap Anda bisa menggantikan posisinya dan mengajar di tempat kami.”

“Jadi, bagaimana keputusannya, Bapak?” Indra bertanya dengan harap-harap cemas. “Saya merasa Anda memang punya jiwa sebagai seorang pengajar, tapi …” Pak Subroto tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Indra merasa bahwa dia sedang berada dalam sebuah audisi yang menegangkan. Suara backsound film horor mendadak terdengar di dalam kepalanya. 

“Tapi, Mas Indra seharusnya sudah paham bahwa gaji guru honorer di tempat kami masih di bawah standar UMR. Saya rasa Anda lebih berpeluang untuk bekerja di bidang lain, seperti agen asuransi atau duta layanan masyarakat. Apakah Mas Indra masih yakin untuk mengajar dan mengabdi di sini?”

“Tentu saja saya siap, Pak. Saya tidak mempermasalahkan perihal gaji. Yang penting, saya bisa menjadi seorang guru dan berkontribusi terhadap pendidikan bangsa ini,” jawaban Indra terdengar lantang. Tidak ada satupun keraguan.

“Baiklah. Anda bisa mengajar mulai besok,” balas Pak Subroto dengan senyuman. Kata-kata tersebut sempurna menutup pertemuan mereka hari ini. Pasca mendengar jawaban tersebut, beban yang selama ini menghantui perasaan Indra telah menghilang.

Laksana Disengat TawonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang