Sebotol vodka yang diteguk sampai habis oleh Indra tergeletak di lantai. Indra tidak ingat apa-apa lagi. Efek alkohol membuat kepalanya jadi terasa sangat berat. Matanya pun terlelap dengan sendirinya.
Dalam tidurnya, Indra masih terbayang-bayang kisah masa lalunya yang getir. Dia mengigau sembari menyebut-nyebut nama “Valen” dengan keras. Hanya perempuan itulah yang kini memenuhi isi kepalanya.
Setelah berjam-jam tertidur, Indra pada akhirnya bangun dengan wajah yang sangat kusut. Rasanya, dia tidak punya tenaga untuk berdiri. Dia ingin meneruskan tidurnya, tetapi ibunya sejak tadi menggedor-gedor pintu kamarnya tanpa henti.
“BANGUN!!!” teriak ibunya sampai kedengaran di rumah tetangga. Indra mengucek-ngucek matanya lalu dia menatap cermin yang tergantung di dinding kamarnya. Cermin itu memantulkan sosok Indra yang benar-benar menyedihkan.
Indra bergerak malas menuju ke kamar mandi. Paling tidak, dia bisa membuat tubuhnya jadi lebih segar meskipun hatinya tetap kusut seperti baju yang belum disetrika. Lagipula, bau tubuhnya cukup menyengat karena seharian kemarin dia belum mandi.
Sehabis mandi, Indra tentu saja tidak lupa menggosok gigi. Dia membersihkan sisa-sisa bau alkohol di mulutnya. Lantas, dia kembali ke kamar untuk mengecek ponselnya yang sengaja dia matikan karena dia tidak mau diganggu orang lain.
Dari semua orang, Bu Citra yang kelihatannya paling khawatir dengan keadaan Indra. Pada saat terakhir kali mereka bertemu, Bu Citra merasakan kejanggalan pada Indra. Dia takut kalau terjadi apa-apa kepada Indra. Karena itulah, dia terus menghubungi Indra.
Di tengah keheranannya, Indra dikejutkan oleh suara ibunya yang berteriak keras bak toa masjid. “Ndra, ada bu guru cantik yang mau ketemu sama kamu,” ucapnya sampai tetangga sebelah ikut mendengar.
Pikiran Indra langsung mengacu kepada Bu Citra. Cepat-cepat, dia ganti baju serapi mungkin serta menata rambutnya. Minimal, tampangnya tidak terlihat seperti anak geng jalanan yang baru pesta miras semalaman.
Bu Citra kelihatan duduk manis di atas kursi kayu di ruang tamu. Dia tampil kasual dengan kemeja polos beserta jilbab oranye. Saat Indra muncul dari balik kamarnya, Bu Citra refleks langsung tersenyum ke arahnya.
“Siang, Mas!” sapa beliau dengan senyuman yang biasanya.
“Siang juga, Bu Citra! Ehm … kamu tahu alamat rumah saya dari mana?” ucap Indra yang sedikit penasaran. Namun, dia sudah bisa menduga-duga sosok yang memberitahukan alamat Indra ke Bu Citra.
“Kemarin, saya tanya Pak Subroto. Saya pikir Mas lagi sakit karena kemarin pulang duluan. Makanya, saya mampir ke sini untuk menjenguk Mas sekaligus mengantarkan beberapa berkas penting,” jawab Bu Citra sembari menyodorkan sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas.
“Makasih banyak, ya. Maaf, saya jadi merepotkan kamu,” sahut Indra dengan mengumbar senyuman kecil penuh keterpaksaan. Memang, terkadang ada momen ketika seseorang harus tetap tersenyum walau hati sedang menangis.
Setelah menyelesaikan urusannya, Bu Citra buru-buru pamit undur diri. Kelihatannya, dia merasa kurang nyaman jika berlama-lama berada di rumah cowok. Indra pun tampak enggan untuk berbicara panjang lebar.
“Semoga lekas membaik ya, Mas. Ehm … kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk bercerita kepada saya!”
Bu Citra ternyata adalah orang yang sangat peka. Dia bisa menangkap kegelisahan yang tergambar di raut wajah Indra. Dia mengerti bahwa Indra membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah karena dia pernah berada di situasi yang sama.
“Baik. Kapan-kapan, kita bisa ngopi bareng kalau saya sudah agak mendingan. Sekali lagi, terima kasih banyak, Citra. Hati-hati di jalan, ya!” tutur Indra menutup pertemuan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Disengat Tawon
General FictionSetelah menganggur selama beberapa bulan, Indra akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai seorang guru di sebuah SD. Kabar itu sangat membahagiakan karena dia memang ingin mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang pengajar. Selama mengajar di SD ter...
