Efek jualan nasi goreng semalam membuat jam tidur Indra jadi berkurang. Indra baru bisa tidur jam satu pagi karena matanya sulit dipejamkan. Secara otomatis, pagi ini dia jadi ngantuk dan kelihatan kurang begitu bersemangat.
“Selamat pagi, anak-anak!” ucapnya sembari menguap tanpa sadar. “Selamat pagi, Pak Indra!” mereka menjawab dengan kompak. Berbanding terbalik dengan Indra, mereka kelihatan segar dan bugar.
Hari ini, Indra mengajar mata pelajaran PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan) di kelas empat. Lagi-lagi, dia mendapatkan tugas baru sebagai guru olahraga. Posisi itu sebelumnya dipegang oleh Pak Ranu.
Saat masih menjadi murid dulu, Indra sangat menyukai mata pelajaran olahraga. Namun, dia membenci teori-teori yang tertulis di buku karena hal itu tidak begitu penting menurutnya. Baginya, olahraga adalah tentang beraktivitas, bukan menghafal.
Meskipun demikian, Indra sempat memberikan materi singkat sebagai bentuk formalitas. Setelah itu, dia menyuruh anak-anak untuk ganti baju lalu segera menuju ke halaman sekolah.
“Baiklah, anak-anak! Kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kalian harus mengikuti gerakan saya, ya!” ucapnya sembari menghitung irama satu sampai delapan. Dia menggerakkan anggota tubuhnya sesuai dengan tutorial yang dia lihat di Youtube.
Anak-anak ikut meniru gerakan Indra. Sebagian dari mereka ada yang kurang serius. Malah ada yang saling sikut-sikutan sambil tertawa ngakak. “Fadil, bercandanya nanti dulu,” tegur Indra dengan suara yang sedikit keras.
Usai pemanasan selama lima belas menit, Indra mengajak anak-anak untuk berlari keliling lapangan. Cuacanya lagi bagus. Beraktivitas di bawah matahari pagi bisa meningkatkan kebugaran anak-anak agar mereka tetap fit.
“Sekarang, kalian bebas bermain sesuka hati kalian sampai jam istirahat!” ucap Indra.
Anak-anak terlihat kegirangan, Mereka menyebar ke beberapa titik yang berbeda. Anak laki-laki sibuk bermain sepak bola. Sementara itu, anak perempuan bermain badminton dan sebagian ada yang main lompat tali.
Sembari mengawasi mereka, Indra duduk di bawah pohon rindang yang ada di dekat ruang guru. Diambilnya sebotol air mineral yang baru dia beli dari kantin untuk melepas dahaga. Sesekali, dia mengecek jam tangannya karena bosan.
Hati Indra mendadak sedih saat dia mengingat jam tangan tersebut. Barang itu adalah salah satu peninggalan berharga dari seorang perempuan yang pernah dia cintai di masa lalu. Saat ini, dia tidak tahu apapun tentang kabar perempuan itu.
Saat Indra sedang sibuk mengingat-ingat mantannya, Bu Citra dari kejauhan tampak tersenyum ke arah Pak Indra. Lamunan Indra langsung buyar. Dia refleks tersenyum sembari melambaikan tangannya ke perempuan itu.
Dari hari ke hari, hubungan keduanya menjadi semakin akrab sebagai teman sekaligus rekan kerja. Selama berada di depan murid-murid, mereka memang sering bersikap formal, tetapi mereka bisa ngobrol dengan santai saat di luar sekolah.
Usut punya usut, Bu Citra masih sendirian alias belum punya pacar. Informasi tersebut valid karena Indra mendengarnya secara langsung dari pergosipan Bu Wendah serta ibu-ibu guru yang lain. Kebetulan, Indra saat itu sedang duduk di sebelah mereka.
“Bu Citra itu cantik, pintar, dan baik deh pokoknya. Gimana? Apa sudah punya pacar atau calon suami, Bu Citra?” tanya Bu Wendah blak-blakan dengan gaya yang mirip mbak Feny Rose.
Bukan cuman Bu Citra yang kaget saat ditanya seperti itu, Indra menunjukkan reaksi yang sama. Dia sangat penasaran dengan jawaban Bu Citra. Akan tetapi, dia tetap berusaha tenang dan berpura-pura mengecek lembar hasil kerja siswa.
“Waduh, saya belum kepikiran ke sana, Bu Wendah. Boro-boro calon suami, pacar saja saya tidak punya,” jawab Bu Citra dengan malu-malu.
“Wah, Bu Citra ternyata masih jomblo. Kebetulan banget, ada saudara saya yang cari calon mantu. Barangkali, Bu Citra berminat buat mendaftar,” Bu Ratmi tiba-tiba menyeletuk. Bu Citra hanya membalas perkataan Bu Ratmi dengan senyuman yang tampak dibuat-buat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Disengat Tawon
General FictionSetelah menganggur selama beberapa bulan, Indra akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai seorang guru di sebuah SD. Kabar itu sangat membahagiakan karena dia memang ingin mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang pengajar. Selama mengajar di SD ter...
