---LizKook---
.
.
.
Meskipun tidak ada jendela dikamar ini yangmemberitahukanku bahwamataharitelahterbit,aku tahuaku telah kesiangan. Akukelelahan selama delapanjam menyetir dan derapkakidi tangga selamaberjam-jam setelah akuberbaring hinggatertidur pulas. Meregangkan badan, akududuk dan menyalakansaklar lampu di dinding. Bola lampukecil menerangi kamar dan akumeraih kebawah ranjang untukmenarik koperku.
Aku perlu mandi dan aku perlu memakai kamar kecil. Mungkin semua orang masih tertidur dan aku bisa menyelinap ke kamar mandi tanpa ada seseorang yang mengetahuinya. Taehyung tidak menunjukkan padaku di mana kamar mandinya kemarin malam. Semua inilah yang harus aku terima. Berharap dengan mandi cepat tidak akan melampaui batas.
Aku meraih celana dalam bersih dan sebuah celana pendek hitam dan tank top putih. Jika aku beruntung, aku bisa segera keluar dari kamar mandi sebelum Jungkook turun ke lantai bawah.
Aku membuka pintu yang menuju ke pantry kemudian berjalan melewati deretan rak yang menyimpan banyak makanan lebih dari yang dibutuhkan semua orang. Aku dengan perlahan memutar kenop pintu dan dengan mudah itu terbuka. Lampu dapur mati dan satu-satunya cahaya berasal dari sinar matahari yang masuk melalui jendela besar yang menjorok ke lautan.
Jika aku tidak begitu ingin buang air kecil aku akan menikmati pemandangan itu beberapa saat. Tapi kebutuhan alam sudah memanggil dan aku harus pergi. Rumah ini sunyi. Botol minuman mengotori rumah, bersama dengan sisa makanan dan beberapa potong pakaian. Aku akan membersihkannya. Jika aku ternyata lebih berguna mungkin aku harus tinggal hingga aku dapat kerja dan gaji pertama atau kedua.
Aku perlahan membuka pintupertamayang kudatangi, khawatir bisa sajaitu kamar tidur. Ternyata ituhanya tempatmenyimpanbaju. Menutup pintu, aku kembali menuju keruanganyang menuju ketangga. Jika hanya satu-satunya kamar mandi di sini gabung dengankamar tidur maka akupastisial. Kecuali...mungkin diluarsana ada satukamar mandi yangdigunakan orang-orang setelah seharian di pantai. Henrietta pasti mandi danmemakai kamarkecil juga.
Di bawah rumah ada dua pintu. Aku membuka salah satunya dan ada jaket keselamatan, papan seluncur dan pelampung menutupi dinding. Aku meninggalkannya dan membuka pintu yang lain. Bingo.
Sebuah toilet di satu sisi dan shower kecil ada di sisi lain ruangan itu. Shampo, kondisioner dan sabun berjajar dengan lap badan bersih dan handuk di tempat duduk kecil di sampingnya. Keren.
Setelah aku selesai mandi dan berpakaian aku menggantung handuk dan lap badan di ujung shower. Kamar mandi ini jarang digunakan. Aku bisa memakai handuk dan lap badan yang sama sepanjang minggu dan mencucinya di akhir pekan. Jika aku tinggal di sini untuk waktu yang lama.
Aku menutup pintu di belakangku dan berjalan menuju lantai atas. Bau air laut begitu mengagumkan. Saat aku sampai di atas, aku berdiri di depan pagar dan menatap air. Ombak memecah pantai pasir putih. Ini adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat.
Ibu dan aku pernah berbicara tentang pergi ke pantai bersama sama suatu hari nanti. Ibu melihat pantai saat masih kecil dan ingatannya tidak begitu bagus tetapi dia menceritakannya cerita tentang pantai itu sepanjang hidupku.
Setiap musim dingin yang begitu dingin, kami duduk di dalam rumah dengan perapian dan merencanakan liburan musim panas kami ke pantai. Kami tidak pernah bisa melakukannya. Pertama Ibu tidak mampu melakukannya dan kemudian dia sakit. Kami tetap merencanakannya. Itu membantu untuk mimpi besar kami.
Sekarang, aku berdiri di sini menatap ombak yang hanya bisa kami bayangkan.Ini bukanlah liburan dongeng yang telah kami rencanakan tapi aku disini melihatnya untuk kami berdua.
"Pemandangan itu tidak akan pernah membosankan." Suara dalam Jungkook mengejutkanku.
Aku berbalik untuk melihat Jungkook yang bersandar di pintu. Telanjang dada. Oh. My.
Aku tidak bisa berkata-kata. Satu-satunya dada telanjang seorang pria yang pernah kulihat adalah Sehun. Dan itu terjadi sebelum ibuku sakit ketika aku punya waktu untuk berkencan dan bersenang-senang. Dada Cain yang berusia enam belas tahun tidak ada apa-apanya dibanding dengan dada bidang, berotot di depanku. Dia bahkan punya six pack di perutnya.
"Kau sedang menikmati pemandangan?" Nada gelinya tidak membuatku lari.
Aku mengerjap dan mengalihkan tatapanku untuk melihat seringai di bibirnya. Sialan. Dia menangkapku sedang mengaguminya.
"Jangan biarkan aku mengganggumu. Aku juga sedang menikmatinya," jawabnya,kemudian menyesap secangkir kopi di tangannya.
Wajahku memanas dan aku tahu wajahku memerah. Berbalik, aku menatap keluar pada lautan. Sungguh memalukan. Aku mencoba agar pria ini membiarkan aku tinggal sedikit lebih lama. Meneteskan air liur (terpesona) bukanlah hal yang baik.
Tawa kecil dibelakangku hanya membuat segalanya lebih buruk. Dia menertawakan aku . Fantastis.
"Di sini kau rupanya. Aku merindukanmu di ranjang pagi ini," suara lembut seorang wanita datang dari belakangku. Ingin tahu lebih yang terjadi di belakangku dan aku pun berbalik.
Seorang gadis yang hanya memakai bra dan celana dalam merapatkan dirinya pada tubuh Jungkook dan menjalankan kuku panjang merah mudanya di dada Jungkook. Aku tidak menyalahkannya karena menyentuh dadanya. Aku pun sangat tergoda.
"Waktunya kau pergi," jawabnya sambil mengangkat tangan gadis itu dari dadanya dan menjauh darinya. Aku melihat saat dia menunjuk kearah pintu depan.
"Apa?" jawab gadis itu.
Ekspresi kebingungan di wajahnya seolah mengatakan dia tidak mengharapkan ini.
"Kau sudah dapat apa yang kau inginkan, sayang. Kau ingin aku berada di antara pahamu. Kau mendapatkannya. Sekarang aku sudah selesai." Nada dingin suaranya mengejutkanku. Apa dia serius?
"Kau bercanda!" gadis itu membentak dan menghentakkan kakinya.
Jungkook menggelengkan kepalanya dan menyesap lagi kopi dari cangkirnya.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Semalam begitu mengagumkan. Kau tahu itu." Gadis itu meraih lengannya dan dia dengan cepat menghempaskannya.
"Aku sudah memperingatkanmu semalam ketika kau kau memohon padaku dan melepas pakaianmu bahwa ini hanya akan menjadi seks satu malam saja. Tidak lebih."
Aku mengalihkan perhatianku pada gadis itu.Wajahnya marah dan dia membuka mulutnya untuk berdebat tapi menutupnya lagi. Dengan hentakan lain kakinya dia berjalan keluar rumah.
Aku tidak percaya apa yang baru saja kulihat. Apa seperti ini cara orang orang ini bersikap? Satu-satunya pengalaman pacaran yang kumiliki hanyalah bersama Sehun. Meskipun kami tidak pernah tidur bersama dia selalu berhati-hati dan bersikap manis padaku. Ini sangat kasar dan kejam.
"Jadi,bagaimana tidurmu semalam?" tanya Jungkook seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku mengalihkan tatapanku dari pintu dimana gadis itu pergi dan mengamatinya. Apa yang mempengaruhi gadis itu untuk tidur dengan seseorang yang mengatakan padanya bahwa tidak akan ada hal lain selain seks? Tentu saja, Jungkook punya tubuh yang akan membuat model pakaian dalam iri dan matanya itu bisa membuat seorang gadis menjadi gila. Tapi tetap saja. Dia begitu kejam.
"Apa kau sering melakukannya?" tanyaku sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri.
.
.

KAMU SEDANG MEMBACA
Fallen Too Far
RomanceHope you Like this one . . . . . . Original : By Abbi Glines Remake : Fstory96