Hujan turun memulai pagi hari, sedikit gerimis tidak menghalangi para murid untuk ke sekolah. Hari ini pengambilan raport membuat beberapa anak sedikit was-was dengan hasilnya, salah satunya Muti.
Terlalu lama menunggu, teman-teman sekelas Muti memutuskan ke perpustakaan, bukan untuk baca buku melainkan memainkan alat peraga. Muti melihat Uni dan Dila yang terlampau penasaran dengan replika tata surya hingga benda tersebut jatuh, membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Pokoknya Dila yang salah, aku tidak menyentuhnya," elak Uni setelah seperkian detik mencerna apa yang telah ia lakukan.
"Kamu yang ingin ambil paling besar, jatuh kan," seru Dila tak mau kalah.
"Yah, perbaiki kembali," ujar ketua kelas panik, ia akan menjadi orang pertama yang akan dimarahi.
Muti sendiri tak berniat sedikitpun untuk membantu, ia masuk dalam ruangan yang penuh dengan kardus berisikan buku, membaringkan dirinya di atas matras. Memejamkan matanya dan menaruh lengan di kepalanya, berusaha istirahat karena kemarin salah makan membuatnya muntah-muntah.
"Menurutmu Adi atau saya lagi yang peringkat satu, Muti?"
Muti membuka mata, melihat orang yang tiba-tiba datang dari ruangan sebelah, ia kakak sepupunya yang kebetulan sekelas dengannya, namanya Wana.
"Tidak keduanya."
"Muti!" teriak seseorang dari luar, yang memotong pembicaraan mereka, sepupu rasa rival.
Muti yang dipanggil mengakhiri istirahatnya, ia bangun dan keluar dari ruangan beraroma buku itu diikuti Wana di belakangnya.
"Mana Muti?" tanya Adi, orang yang dimaksud tadi.
"Apa?" semua orang dalam perpustakaan fokus pada mereka, tidak sebanyak tadi namun ada beberapa.
"Kamu yang peringkat satu."
Pernyataan yang membuat teman yang lain bersamaan menjawab, "ha?"
"Liat saja nanti," Muti yang tidak terlalu ingin memikirkan hal itu, ia sudah pasrah. Selama ia naik kelas enam Muti merasa tidak sekeras tahun kemarin, hanya melakukan sesuai porsinya, ada tugas dikerjakan, ada ulangan hanya belajar ngebut semalam, hal ini karena wali kelas yang menyadarkan. Ia tidak yakin akan menggeser mereka yang sudah jadi anak kesayangan kepala sekolah.
Bel berbunyi, mereka bergegas ke lapangan. Kelas Muti menjadi yang terakhir, satu per satu nama disebutkan wali kelas, mulai peringkatnya dari bawah. Sampai peringkat tiga, nama Muti belum disebut, dalam hatinya sudah berkata, "beneran peringkat satu ini, sih."
Ternyata benar, Muti berjalan mengambil rapornya diiringi suara ejekan, sindiran, hingga tepuk tangan. Ia sedikit heran, tujuannya terwujud dengan usaha sekecil ini? Tahun kemarin, kenapa susah sekali? Yah, tapi akhirnya ia juga bisa.
Di depan rumah ia berdiri sebentar, menerka-nerka respon Ibu yang sedang berada di depan rumah, memperbaiki tanamannya.
"Bu, Muti peringkat satu."
Ibu berbalik, berjalan cepat dan mengambil rapor di tangan Muti, memeriksanya langsung.
"Muti, akhirnya. Untung terakhir ini kamu bisa," ujar Ibu dengan senyum bangganya. Ditambah ucapan-ucapan baik di belakangnya. Ini, respon yang Muti nantikan beberapa tahun sebelumnya yang baru ia lihat hari ini.
"Jangan terlalu dipikirkan, coba nikmati masa kamu di sini, masalah itu nanti kalau waktunya, yah, datang sendiri," ucap guru baru yang menjadi wali kelas terakhir Muti di sekolah dasar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Nanti
عشوائيAnak kecil itu mulai berlari menyamakan langkahnya, semakin cepat, dia semakin menjauh. Terlalu fokus mengejar hingga lupa bahwa kaki kecilnya mulai lelah dan tak sengaja terjatuh. Dia yang dikejar terhenti, menoleh dan berkata, "kamu sudah besar. A...