SENYUM BATAVIA [revisi]
Setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing. Pertemuan, perpisahan, semua itu tidak lepas dari yang namanya takdir.
Di bawah langit yang cerah di Kota Tua, seorang pria tidak sengaja melihat seorang gadis yang masuk ke da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah perkenalan singkat tadi, kini mereka sudah berada di warung bakso yang cukup ramai. Untungnya, mereka masih mendapatkan meja yang pas untuk empat orang.
“Mau pesan apa?” tanya Zaidan.
“Bakso aja, Bang. Zero sama Aira mau pesan apa?” tanya Jihan pada kakak-adik itu.
“Mana ada! Jeruk hangat aja, Bang. Udah malam juga, nanti kena marah Bunda kalau sampai sakit,” ujar Zero, mengingatkan.
“Oke, jeruk hangat aja empat,” putus Zaidan, lalu pergi memesan.
Melihat itu, Aira menatap Zaidan dengan kesal. “Kok nyebelin sih! Percuma ganteng kalau nyebelin!” batin Aira, kesal.
Zero yang tahu isi pikiran adiknya langsung berkata, “Pulang kita beli gulali.”
“Bener?” tanya Aira dengan wajah berbinar.
“Hem,” jawab Zero singkat.
Melihat interaksi kakak-adik itu, Jihan jadi teringat masa kecilnya bersama Zaidan, di mana Zaidan selalu tahu apa yang ia inginkan tanpa perlu berbicara.
Karena masih harus menunggu makanan datang, Aira yang merasa bosan mulai berusaha memecah keheningan. Ia pun mengajak Jihan mengobrol, meski tidak dengan abangnya, karena Aira masih takut dengan aura yang dikeluarkan Zaidan dan juga sedikit kesal soal minuman tadi.
“Kak, bonekanya lucu. Kak Jihan beli di mana?” tanya Aira, menatap gemas pada boneka yang terletak di antara Jihan dan Zaidan.
“Oh, ini boneka hadiah, Ai. Abang tadi menang main, terus dapat ini. Ya kan Abang cowok, makanya bonekanya dikasih ke aku,” jelas Jihan sambil tersenyum.
Mendengar itu, Aira langsung membujuk Zero agar membelikannya. Sebelum Aira memohon lebih lanjut, Zero sudah lebih dulu berkata, “Enggak! Boneka kamu di rumah udah banyak, Ai. Setiap Ayah pulang kerja dari luar kota selalu dibawain boneka buat kamu.”
“Tapi kemarin kan enggak,” lirih Aira.
Jihan merasa gemas melihat ekspresi Aira yang agak murung. Lalu ia melirik ke arah Zero, berpikir sejenak, dan kemudian berkata, “Aira mau? Kebetulan saya punya dua.”
Aira langsung menatap Jihan dengan binar kebahagiaan, sementara Zaidan menatap tidak setuju ke arah Jihan. Ia yang susah payah mendapatkan boneka itu, malah sekarang memberikannya pada orang lain.
Melihat tatapan tak terima dari Zaidan, Jihan memberikan senyum isyarat ke arah kakaknya itu. Sebuah senyum yang hanya dimengerti oleh keluarganya.
𓅪𓅪𓅪
Senyum Aira terus mengembang. Hari ini ia merasa begitu semangat untuk pergi ke kampus. Jika biasanya rasa malas yang menguasai, kali ini semuanya terasa berbeda.
“Hei Bobo! Aku pergi ke kampus dulu, ya. Baik-baik di rumah, ya,” ucap Aira pada boneka pemberian Jihan semalam. Aira memberi nama Bobo untuk boneka itu. Setelah berpamitan pada Bobo, ia langsung turun dan menyapa yang lain dengan penuh semangat.
“Selamat pagi! Aira, anak Bunda-Ayah yang paling cantik, hadir!” seru Aira riang.
“Semangatnya Ai hari ini, ada apa nih?” tanya Ravin.
“Nggak ada apa-apa,” jawab Aira sambil tersenyum lebar.
“Habis dapat boneka baru itu,” celetuk Zero, membuat Ravin menoleh.
“Boneka?” tanya Ravin bingung.
“Hem. Kemarin kita kenalan sama kakak-adik. Namanya Bang Zaidan sama Jihan. Terus Ai lihat boneka Jihan. Suka, deh, akhirnya dikasih sama Jihan. Padahal boneka Ai di kamar udah banyak,” jelas Aira sambil mengunyah sop makaroni kesukaannya.
“Oh, Ayah kira dari si Abang. Abang siapa tadi, Kak?” tanya Ayah Ravin, masih penasaran.
“Bang Zaidan,” jawab Zero singkat.
“Zaidan?”
Zero mengangguk, “Ayah kenal?”
Ravin menggeleng ragu. “Namanya mirip sama teman bisnis Ayah.”
Aira hanya mengangguk dan tidak ambil pusing dengan obrolan ayah-anak itu. Ia asyik menghabiskan sop makaroni yang sudah mulai dingin.
𓅪𓅪𓅪
Di sisi lain, Zaidan dan keluarganya sedang bersantai di ruang keluarga. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang memulai percakapan, sehingga suasana di ruang itu terasa sunyi.
Jihan menghela napas, lalu berinisiatif untuk memulai pembicaraan.
“Ehem! Sambung ayat aja yuk, daripada diem-dieman gini,” ajak Jihan sambil melirik Zaidan dan orang tuanya.
“Ide bagus, siapa dulu nih?” tanya Zaidan, terlihat bersemangat dengan ajakan adiknya.
“Kepala keluarga dulu, nanti lanjut sama Umma, terus Abang, baru Adek deh,” jawab Jihan dengan senyum nakal.
“Boleh, mau surah apa?” tanya Zaaki pada istri dan anak-anaknya.
“Gimana kalau surah Al-Mulk aja?” saran Azrina, yang disambut anggukan dari yang lain.
“Audzubillahiminasyaitonirojim. Bismillahirrahmannirrahim.” Suara merdu Zaaki menggema di ruang keluarga. Azrina, Zaidan, dan Jihan mulai fokus menyimak.
“Tabaarakallazii biyadihil-mulku wa huwa ‘aala kulli syai-ing qodiir.”
Begitu ayat pertama selesai dibacakan, Azrina langsung melanjutkan dengan ayat kedua.
“Allazii kholaqol-mauta wal-hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, wa huwal-‘aziizul-ghofuur.”
Tanpa menunggu lama, Zaidan melanjutkan dengan ayat ketiga. “Allazii kholaqo sab’a samaawaating thibaaqoo, maa taroo fii kholqir-rohmaani ming tafaawut, farji’il-bashoro hal taroo ming futhuur.”
“Summarji’il-bashoro karrotaini yangqolib ilaikal-bashoru khoosi-aw wa huwa hasiir,” lanjut Jihan dengan suara merdu.
Mereka semua sangat khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an. Bahkan air mata Zaaki dan Azrina menetes saat membayangkan betapa baiknya Allah SWT kepada hamba-Nya, dan betapa pedihnya azab-Nya kepada mereka yang ingkar.
Tanpa sadar, mereka sudah sampai di ayat terakhir, dan membacanya bersama-sama sebagai penutupan.
“Qul aro-aitum in ashbaha maaa-ukum ghourong fa may ya-tiikum bimaaa-im ma’iin. Shadaqallahul ‘adziim.”
Setelah selesai, mereka bersyukur karena Allah masih memberikan nikmat untuk bisa membaca Al-Qur’an bersama-sama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.