~
Malam semakin makin larut, tapi udara terasa hangat di antara mereka. Renjun masih duduk di balkon, menyelimuti dirinya dengan kain tipis yang tadi Jeno berikan. Di luar, suara kendaraan mulai berkurang, hanya sesekali terdengar motor melintas di bawah sana.
"Renjun," panggil Jeno pelan sambil meraih kunci motornya dari meja.
"Ayo, sudah malam. Aku antar pulang, anak sekolah tidak baik pulang larut, nanti kamu kena marah lagi."
Renjun tersenyum kecil, lalu bangkit perlahan sambil membawa tasnya. "Boleh juga. Tapi serius, naik motor malam-malam gini nggak bahaya, kan?"
Jeno terkekeh, "Nggak kok. Kamu kan duduk di belakang, tinggal pegangan yang kuat aja."
"Pegangan?" Renjun mengulang dengan nada ragu.
"Ya, masa kamu mau jatuh?" jawab Jeno santai, membuat Renjun tertawa kecil sambil menggeleng.
Mereka turun ke lantai bawah, melewati deretan anak tangga yang diterangi lampu kuning redup. Di luar, motor Jeno terparkir rapi di depan toko. Udara malam langsung menyapa begitu pintu terbuka dingin, tapi segar.
"Pakai ini," Jeno menyodorkan helm, "jangan sampai rambutmu nyangkut di angin, nanti malah masuk angin beneran."
Renjun menunduk sedikit, membiarkan Jeno membantu memasangkan helm. Sentuhan lembut di dagunya waktu Jeno mengaitkan tali membuat dada Renjun terasa aneh, seperti ada sesuatu yang bergerak pelan di sana, tapi ia sendiri tidak tahu apa.
"Udah siap?"
"Siap."
Jeno naik duluan, lalu menoleh ke belakang. "Ayo naik, peluk aja biar aman."
Renjun ragu sebentar, tapi akhirnya naik juga, duduk pelan di belakang Jeno. Tangannya masih kaku, belum berani menyentuh punggung pria itu.
"Renjun, kamu kira ini mobil? Pegang, nanti oleng," celetuk Jeno, separuh bercanda.
Renjun akhirnya menurut. Kedua tangannya perlahan melingkar di pinggang Jeno, gerakannya hati-hati, seolah takut salah.
Detik berikutnya, motor melaju pelan keluar dari halaman apartemen, masuk ke jalan kota yang lengang.
Angin malam menyapu wajah mereka, dingin tapi menyenangkan. Lampu jalan berbaris rapi, menciptakan bayangan berkilau di kaca helm. Dari belakang, Renjun bisa mencium samar aroma sabun dari jaket kulit Jeno wangi lembut yang entah kenapa menenangkan.
"Enak kan?" teriak Jeno agar terdengar di tengah angin.
Renjun menjawab pelan, "Iya, rasanya bebas."
Jeno tersenyum, walau Renjun tak bisa melihat. "Kadang cuma butuh jalan tanpa tujuan buat ngerasa hidup lagi."
Mereka terus melaju di sepanjang jalan Han River. Air sungai memantulkan cahaya lampu kota, berkilau seperti serpihan bintang yang jatuh ke bumi. Renjun menunduk sedikit, bersandar ke punggung Jeno. Dingin di udara berganti jadi hangat bukan karena jaket, tapi karena sesuatu yang tumbuh pelan-pelan di antara diamnya.
Setelah beberapa waktu, Jeno memperlambat laju motornya memasuki area perumahan mewah, jauh sangat jauh berbeda dengan lingkungan apartmentnya. "Kita hampir sampai," ucap Jenk
Renjun membuka mata, menatap rumah besar di ujung jalan yang sudah mulai sepi.
"Terima kasih, kak," katanya pelan, menatap punggung Jeno dari belakang helm.
Jeno menoleh sedikit, tersenyum. "Kapan pun kamu butuh istirahat sebentar, kabarin aja. Aku selalu punya waktu buat keliling kota."
Renjun turun kemudian mengangguk kecil, melepas helmnya dengan hati-hati.
Udara di depan rumahnya terasa lebih dingin atau mungkin hanya terasa begitu karena kehangatan yang baru saja ia tinggalkan.
"Selamat malam, Renjun."
"Selamat malam, kak."
Renjun menunduk, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul begitu saja. Dan sebelum ia sempat berkata apa pun lagi, motor itu sudah melaju pergi, meninggalkan suara mesin yang perlahan menghilang di tikungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Love
Fanfiction♛ NOREN / JENREN. Apa mungkin benar kita yang salah? atau mungkin, mereka yang takbisa memahami kita? sᴛᴀʀᴛ: 𝟸𝟹-𝟶𝟽-𝟸𝟶𝟸𝟷 ®ayymoon
