~
"Maaf menunggu lama," ujar Jeno begitu keluar dari dapur, masih mengenakan apron abu dan membawa nampan di tangannya. Aroma roti panggang dan susu hangat segera memenuhi ruang toko kecil itu.
"Ini... sarapan dulu," katanya sambil meletakkan dua piring roti di meja, satu ditemani segelas susu, satu lagi secangkir kopi hitam untuk dirinya sendiri.
Renjun hanya memandanginya tanpa semangat. Ia duduk diam, tangan bertaut di pangkuan, wajahnya sendu seperti langit pagi yang kehilangan warna.
"Kenapa? Ayo dimakan," ajak Jeno lembut.
Renjun menggeleng pelan.
"Ah... jangan-jangan karena bukan buatan kakek, ya?" goda Jeno, tapi nada suaranya terdengar agak ragu, seolah takut menyinggung. Ia melipat tangan di dada dan menatap bocah itu dengan tatapan tajam tapi penuh rasa ingin tahu.
"Bukan begitu..." jawab Renjun hampir berbisik.
"Kalau begitu, ayo makan. Tenang saja, saya tidak akan meracuni anak kecil sepertimu."
Nada bercanda itu berhasil menimbulkan sedikit senyum di bibir Renjun, kecil, samar, tapi cukup untuk membuat suasana tak lagi kaku.
Akhirnya ia menggigit rotinya perlahan, meski rasanya memang tidak seenak buatan kakek Lee. Tetapi ia tetap melahapnya dengan antusias. Ia makan bukan karena lapar, tapi karena tak ingin membuat orang lain kecewa, kebiasaan yang entah sejak kapan tertanam dalam dirinya.
___
Tak lama setelah itu, Jeno keluar lagi membawa dua helm.
"Ini, pakai," katanya menyerahkan helm hitam pada Renjun.
"Naik motor?" tanya Renjun pelan.
"Iya. Kenapa, ada masalah?"
Renjun tersenyum kecil, matanya sedikit berbinar. "Ini kali pertama aku naik motor. Umm... Kak? Tak apa kalau kupanggil begitu?"
Senyum Jeno melengkung hangat, menampakkan lesung pipit samar. Matanya menipis membentuk garis bulan sabit yang menenangkan.
"Tentu saja tidak apa-apa. Ayo naik, Renjun."
Renjun menaiki motor besar berwarna hitam itu dengan hati-hati. "Wah, keren banget...," gumamnya lirih.
"Ngomong-ngomong," ujar Jeno sambil menyalakan mesin, "kau membolos ya hari ini?"
Renjun terkekeh kecil. "Mungkin. Aku cuma bosan belajar terus. Sekali-sekali ingin menghirup udara segar."
"Tapi belajar itu penting," balas Jeno sambil menatap jalan.
"Aku tahu... cuma... aku ingin merasa bebas sebentar saja."
"Pegangan yang kuat, ya. Aku mau ngebut sedikit."
Renjun spontan menggenggam jaket kulit Jeno. Angin mulai menerpa wajahnya saat motor melaju.
"Woooaaah!! Aku merasa seribu kali lebih keren sekarang!!" teriaknya.
Jeno tertawa, tawa yang sudah lama tak keluar begitu lepas.
Mungkin benar, pikirnya. Anak ini hanya terlalu lelah.
___
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di pemakaman kota. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah dan bunga yang baru diletakkan. Di bawah langit yang perlahan mendung, keduanya duduk di pinggiran nisan yang bertuliskan nama Lee Chong.
"Tenanglah di sana, Kek," bisik Renjun dengan suara bergetar. "Maaf aku tak datang saat pemakamanmu."
Suaranya pecah di antara isak kecil.
Jeno menunduk, Ia tidak menangis, meski matanya sudah basah. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa laki-laki harus kuat, bahwa air mata adalah kelemahan. Tapi sore itu, gengsi itu terasa sia-sia.
Kakeknya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, mungkin baginya?. Sejak lulus SMA, hanya kakeknya yang menemaninya bertahan hidup. Setiap minggu ia datang membantu di toko kue, belajar resep demi resep dan di penghujung usia sang kakek, Jeno menerima amanat untuk meneruskan toko itu. Amanat yang kini terasa berat di pundaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Love
Fanfiction♛ NOREN / JENREN. Apa mungkin benar kita yang salah? atau mungkin, mereka yang takbisa memahami kita? sᴛᴀʀᴛ: 𝟸𝟹-𝟶𝟽-𝟸𝟶𝟸𝟷 ®ayymoon
