~
"Kemarin guru les matematika menelepon lagi, katanya kau tidak pulang padahal dia sudah menunggu dari siang sampai sore. ke mana saja, Renjun?"
Suara Wendy menggema, menembus setiap sudut rumah mewah bernuansa putih gading itu. Nada bicaranya tajam, tegas, penuh nada sekidik yang menggantung di udara seperti kabut yang tak mau pergi.
"Kata mis kamu bolos les piano juga, she said kamu pulang langsung masuk kamar ga nyaut dipanggil untuk belajar. Mau kamu apa, Renjun?"
Anak laki-laki bertubuh kecil itu hanya menghela napas, menundukkan kepala dengan wajah masam. Ia tahu, perdebatan semacam ini tak akan berujung baik.
"Konselor sekolahmu juga menelepon mama, kamu selalu telat! Sopir sudah disiapkan, semua kebutuhan sekolah lengkap, kamu hanya perlu bangun dan berangkat tepat waktu. Apa itu terlalu sulit untuk kamu lakukan?"
Wendy menekan pangkal hidungnya, mencoba meredam emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia lelah, bukan karena pekerjaannya yang menumpuk, tapi karena anak satu-satunya itu kian hari terasa semakin jauh.
"Di sekolah kamu sebenarnya ngapain saja, hah? Peringkatmu turun drastis, jam pulang tidak jelas, guru lesmu semua menunggu dengan sia-sia. Kamu pikir mama tidak malu?"
Renjun diam. Ia menatap lantai marmer putih itu lama sekali, sampai bayangan wajahnya sendiri terasa asing. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena marah, marah yang tak bisa ia keluarkan.
"Listen to mama," Wendy kembali berkata, nadanya lebih pelan tapi dingin seperti bilah kaca. "Mulai sekarang, kamu harus datang ke semua les privat dan kegiatan sekolah. Mama sudah buatkan jadwal baru."
Ia mengambil sebuah buku catatan, membuka halamannya, dan mulai membaca seolah itu keputusan tak terbantahkan.
"Senin les matematika, Selasa latihan piano, Rabu ikut organisasi, Jumat latihan renang, Sabtu ekstrakurikuler melukis. Semua itu paling lama tiga jam. Kamu masih bisa bersenang-senang di hari Kamis dan Minggu."
"Mama bayar mahal untuk semua les kamu, don't disappoint me, Renjun."
Suasana tiba-tiba dipecah oleh getaran ponsel di meja makan.
Drertt... Drertt...
Renjun melirik sekilas, dan hatinya semakin terlipat kesal saat melihat nama yang terpampang di layar (Yeri) asisten kerja mama.
"Hallo, pagi."
"Pagi, Nyonya. Siang nanti ada pertemuan di Jeju."
"Iya. Tolong atur penerbangan saya."
"Sudah, Nyonya. Tapi penerbangan dimajukan satu jam."
"Baiklah. Tunggu saya di kantor sekarang."
Tutt.
Wendy meletakkan ponselnya tanpa ekspresi. "Mama akan ke Jeju tiga hari. Tolong jangan berulah. Habiskan makananmu."
Tanpa menunggu balasan, Wendy bangkit dan melangkah pergi. Suara ketukan sepatunya menjauh, lalu lenyap sepenuhnya.
Renjun menatap punggung ibunya sampai tak terlihat, lalu kepalanya menunduk, pundaknya bergetar.
"AHHHHHH!!"
Prang!
Segalanya di atas meja pecah berantakan piring, gelas, dan sisa sarapan yang kini berhamburan di lantai.
"Sialan..." gumamnya dengan suara serak. Air mata jatuh tanpa ia sadari, jatuh di antara serpihan porselen putih yang retak seperti hidupnya.
Renjun dulu adalah anak yang ceria, penuh tawa, mahir di berbagai bidang. Orang-orang menyukai kelembutannya, kecerdasannya, caranya menatap dunia dengan ketulusan. Tapi kini... semuanya memudar, perceraian orang tuanya yang tiba-tiba, dan kematian ayahnya, semua seakan merenggut kebahagiaan jiwa kecil Renjun.
Beberapa minggu terakhir, ia jadi sering membolos. Bukan karena malas. Tubuhnya lelah, flu tak kunjung sembuh, kepalanya sering pusing, dan kadang, darah segar menetes dari hidungnya di tengah belajar, menodai lembar tugasnya.
Ia ingin meminta izin, tapi sekolah hanya menerima konfirmasi dari wali murid. Sedang mamanya... entah di mana. Seminggu lalu Wendy berangkat ke Italia, dan pesan Renjun tak pernah dijawab.
Sejak ayahnya meninggal, dunia Renjun perlahan kehilangan warna. Rumah besar itu hanya menyisakan gema sepi dan aroma pekerjaan yang tak pernah berhenti.
...
Pagi itu, Renjun berangkat dengan sopirnya seperti biasa. Namun di tengah perjalanan, sesuatu di dalam dadanya terasa sesak.
"Berhenti, Pak..."
"Tapi, Tuan Muda, kita belum sampai sekolah."
"Tak apa. Saya ingin berhenti di sini sebentar."
Sopir itu, Pak Kim, ia menepikan mobil di depan sebuah toko roti kecil bergaya klasik, dindingnya berwarna krem dengan banyak nuansa kayu, dihiasi bunga dan kursi rotan di terasnya.
"Masih tutup, Tuan Muda. Apa tidak sebaiknya kembali nanti?"
"Tidak perlu. Bapak pulang saja dulu. Jemput saya di sini jam dua."
Renjun turun, mengenakan hoodie kuningnya, dan berdiri memandangi toko itu lama sekali. Ada kehangatan yang dulu selalu ia temukan di sana, namun kini terasa asing.
Ia lalu berjongkok di depan pintu, menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan. Udara dingin menusuk, tapi yang membuatnya menggigil bukanlah angin, melainkan kesepian yang menempel di kulitnya seperti bayangan.
Hingga akhirnya, langkah seseorang terdengar mendekat.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Renjun mendongak, melihat seorang pria tinggi berdiri di depannya.
"Toko buka jam sembilan. Kembalilah nanti."
Renjun buru-buru berdiri. "Ah, maaf... aku mencari Kakek Lee Chong."
Wajah pria itu berubah suram.
"Lee Chong... kakek saya. Ada perlu apa?"
Renjun menatapnya dengan mata yang berbinar. "Aku biasa memakan roti buatannya sambil bercerita, beberapa minggu ini aku tak datang karena sibuk. Dan minggu kemarin ku berkali-kali datang, sudah seminggu ini toko tak buka. Apa beliau sehat?"
Keheningan menggantung di antara mereka. Lalu suara rendah itu pecah dengan getir.
"Sayangnya... kakek sudah tiada. Aku yang melanjutkan toko ini untuk sementara waktu."
Renjun terdiam. Tubuhnya gemetar, dan dalam sekejap air matanya tumpah.
"Kakek..." suaranya dengan pelan pecah, tersengal di antara tangis yang ia tahan.
Lee Chong bukan sekadar pemilik toko roti baginya. Dulu, saat SMP, kakek itu pernah menemukan Renjun menangis sendirian di taman, lalu menawarinya sepotong roti dan nasihat sederhana yang mengubah caranya bertahan hidup.
Dan sekarang, sosok itu sudah tiada.
Pria itu, Lee Jeno, menatap Renjun yang menangis tersedu di depan tokonya. Ia tak tahu hubungan seperti apa yang terjalin antara kakeknya dan anak itu, tapi melihat cara Renjun menangis... ia tahu, kehilangan ini nyata.
"Tenanglah..." katanya pelan, menepuk bahu Renjun dengan lembut.
"Tapi... kakek..." suara Renjun pecah lagi.
Jeno menghela napas panjang.
"Aku bisa mengantarmu ke makamnya, kalau kau mau."
Renjun menatapnya dengan mata sembab. "Iya... mau."
"Baiklah. Tapi sebelum itu, masuklah dulu. Aku rasa aku akan buka toko siang saja hari ini, aku akan siapkan beberapa roti dulu." Ia membuka pintu dan menoleh sebentar. "Oh, ya, namaku Lee Jeno."
Renjun mengangguk perlahan. "Namaku... Huang Renjun."
Senyum kecil terbit di wajah Jeno.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Renjun merasa sedikit lebih hangat.
Ia mengikuti Jeno masuk ke toko kecil itu, aroma manis roti dan kenangan segera memenuhi udara.
Tbc~
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Love
Fiksi Penggemar♛ NOREN / JENREN. Apa mungkin benar kita yang salah? atau mungkin, mereka yang takbisa memahami kita? sᴛᴀʀᴛ: 𝟸𝟹-𝟶𝟽-𝟸𝟶𝟸𝟷 ®ayymoon
