Devan meninggalkan ibukota sore itu, ia harus menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh jam hingga ia sampai desa tujuan. Ia adalah seorang dokter dan saat ini ia sedang tergabung dengan salah satu program pemerintah, Nusantara Sehat. Ia ditugaskan di sebuah desa terpencil yang terletak di daerah pegunungan dengan sarana infrastruktur yang sangat kurang memadai. Sangat sulit menuju desa itu, jalanan rusak, sempit, berliku dan saat hujan turun, jalan itu sama sekali tak bisa diakses apalagi untuk orang yang belum terbiasa melewati medan itu.
Karena hal darurat, Devan yang biasanya menggunakan bus harus mengemudi sendiri dan berangkat lebih awal dari jadwal keberangkatannya yang seharusnya. Ini akan menjadi pertama kalinya ia mengemudi sendiri menuju desa itu.
Devan memakai kacamatanya, pandangannya sangat buruk saat hari mulai gelap. Ia berharap, semoga saja perjalanannya berjalan lancar dan ramalan cuaca hari ini bisa akurat. Tak ada hujan turun malam ini.
Melelahkan melakukan perjalanan panjang sendirian, tak ada teman bicara di sampingnya, hanya ada alunan lagu yang terputar dari aplikasi spotify yang terhubung dengan head unit mobilnya.
............
I'll say, will you marry me?
I swear that I will mean it
I'll say, will you marry me?
...........
Ia mungkin terlarut dalam lirik lagu itu, kalimat yang sangat ingin ia ungkapkan saat ini. umurnya seharusnya tak lagi mudah, sudah 27 tahun, seharusnya sudah sangat matang untuk menikah. Sayang, wanita yang ingin ia ungkapkan kalimat itu sepertinya masih tak ingin berkomitmen bersama dengan dirinya.
Tak terasa dirinya telah menempuh setengah perjalanan, ia kemudian memilih beristirahat sejenak, sekedar mengisi perut dan asupan kafeinnya agar bisa tetap terjaga. Tak lupa ia juga mengecek kembali kondisi kendaraannya, tak jauh lagi, ia akan berbelok ke satu-satunya jalan yang layak menuju kabupaten dimana ia ditugaskan. Kabupaten itu adalah hasil pemekaran, yang meski tak bisa dibilang muda lagi namun sampai hari ini, infrastrukturnya masih sangat buruk. Mungkin karena tofografinya yang berada di pegunungan. Konon menjadi kabupaten tertinggi di negeri ini. walau Devan sendiri menyangsikan kevalidan data itu.
Devan melanjutkan perjalanannya kembali, sekarang sudah lewat pukul 8 malam, jika tak ada aral, ia bisa sampai ke desa tujuannya saat menjelang tengah malam. Sebenarnya banyak keraguan dalam dirinya, jalanan menuju ke sana terbilang horor, apalagi saat melewati hutan. Tak banyak pemukiman lagi yang akan ia lewati, lampu penerangan jalan pun hanya mengandalkan cahaya bulan yang kadang terang bulan, kadang gelap gulita. Ada banyak cerita yang ia dengar dari masyarakat lokal dan apa yang disaksikan matanya, jalanannya memang horor. Bukan soal hantu melainkan manusia-manusia penjarah, mengingat kebiasaan kebanyakan penduduk desa yang memang suka mabuk-mabukan.
"Anjir!!!!" Devan mengumpat halus saat hujan tiba-tiba turun. Ia menengok keluar, tak ada yang bisa ia lihat di ujung pandannya hanyalah langit gelap tak berbintang. Nampaknya ia tidak beruntung malam ini. ia kemudian memperlambat laju mobilnya, sekarang ia telah memasuki jalan menanjak yang dikanan kirinya hanya ada tebing dan jurang. Ia acap kali menengok ke kanan, takut jika tiba-tiba tertimpah tanah longsor atau sesuatu yang lain menimpa mobilnya dari mobilnya.
BRAK!
Suara cukup keras yang membuatnya harus mendadak menginjak rem. Ia tak tahu apa yang sedang menimpa mobilnya. Mungkinkah babi hutan yang menyeruduk dari atas tebing?
Tidak! bukan babi hutan. Ia tahu apa yang ada diluar sana. Ia melihat dengan jelas seseorang terjatuh dari atas tebang. Devan segera keluar, tak peduli hujan lebat dan mendekati orang naas itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall in Love By Accident
RomanceDevan adalah seorang dokter yang tergabung dalam program Nusantara sehat. suatu malam, saat ia dalam perjalanan menuju lokasi penempatannya, ia menemukan seorang pria yang tergeletak di tengah jalan. takdir mempertemukan mereka. apakah hubungan mere...
