14.2 Beban anak pertama

35 3 0
                                        

"Bila buktinya hanya foto kelinci yang tergilas dan satu pesan yang mungkin menurut Adik terdengar mengancam. Mohon maaf, itu bukan merupakan bukti yang kuat bahwa Adik sedang mengalami pengancaman serius."

"T-tapi, Pak ... bukan hanya pesan ini saja yang dikirimnya, dari tanggal kemarin-kemarin masih banyak lagi. Tapi saya selalu menghapus pesannya agar tidak paranoid," jelas Lily berusaha santai. Dalam hati mengutuk dirinya sendiri karena telah menghapus bukti nyata tanpa berpikir panjang.

Ia pun pergi dari kediaman Ryan menuju kantor polisi itu pun tidak berpikir panjang. Pikirannya seolah berhenti bekerja karena dituntut untuk selalu santai meski detak jantungnya tidak bisa senormal orang baik-baik saja. Dan sekarang dirinya baru sadar bahwa untuk menuju pihak kepolisian pun bila tidak ada bukti kuat tidak akan pernah ditanggapi secara serius.

Wajah Lily yang putih pucat ditambah bibirnya yang murni tidak dipoles apapun itu berubah warnanya bak orang terserang panas dingin. Menjadikan seorang polisi yang tengah duduk berhadapan di kantor itu mendapatkan sedikit alasan untuk menyetujui permintaan perempuan itu untuk memeriksa terlebih dahulu.

"Begini saja. Kami akan mencoba mencaritahu apakah pengirim tersebut benar-benar berbahaya atau tidak. Adik tenang saja, tidak perlu dikhawatirkan, semuanya akan kami usahakan agar Adik tidak merasa terancam dengan teror tersebut. Untuk saat ini, jaga-jaga itu penting. Hal kecilnya jangan membagikan nomor pribadi ke publik. Adik mengerti?"

Lily sedikit mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Teringat sewaktu mencari rekan kerja untuk merancang Zukee, Lily uring-uringan membuat lowongan pekerjaan dengan diberikan nomor pribadinya agar ketika ada orang yang minat, dapat dengan mudah menghubunginya. Namun, hal bodoh tersebut tidak dibenarkan.

Setelah memberikan hal-hal yang akan diteliti oleh pihak kepolisian, Lily keluar dari kantor polisi. Ia menarik napasnya lalu mengembuskannya, begitu ia ulang sebanyak lima kali. Lumayan untuk meminimalisir detak jantung yang tadi tidak karuan. Saat ini ia berniat untuk pulang ke kos. Mengistirahatkan raga dan mentalnya.

Ponsel Lily berdering, bergetar pelan di saku rok seragamnya. Ada yang menelepon. Jantung Lily kembali berdebar cepat, memiliki pendugaan kuat bahwa yang menelepon adalah pengirim yang menerornya. Jemarinya merogoh saku, menggenggam ponsel dengan deringan telepon yang memintanya untuk diangkat. Jarinya bergetar cemas untuk menyentuh layar. Sebelum diangkat, Lily lihat dulu nama kontak yang tertera.

Ternyata dugaannya salah.

"Halo, Pa ...," sahut Lily membuka percakapan.

"Kamu. Mau sampai kapan?" Suara Papa terdengar dingin.

Lily menghela napasnya pelan. Lalu tersenyum untuk membahagiakan hatinya sebelum menjawab pertanyaan papanya yang pasti sudah tahu dirinya tidak sekolah dengan menyertakan keterangan yang tidak jelas.

"Tadi Lily udah bilang ke guru wali kelas kalau Lily nggak bisa sekolah dan niatnya nyusul dalam pembuatan surat izinnya."

Belum ada sahutan dari papanya setelah Lily menjelaskan hal itu.

Lily mencoba menambahkan. "Pagi itu Lily niatnya akan sekolah, sudah pakai seragam. Tapi, Lily benar-benar gak bisa."

Tak ada sahutan.

"Lily benar-benar minta maaf. Lily gak bisa sekolah untuk hari ini," sesal Lily memelankan nadanya.

"Tidak bisa karena apa?" Akhirnya Papa menyahut.

Giliran Lily yang tidak menjawab. Ia tidak mungkin menjelaskan yang sebenarnya.

Terdengar Aryo menghela napasnya. "Papa lelah, Ly. Bingung! Mau bagaimana lagi caranya mendidik kamu. Semakin lama dibiarkan di Jakarta semakin liar pemikiran kamu. Rupanya saya salah telah memercayakan kamu sebagai anak pertama yang berguna. Salah telah berpikir bahwa kamu dapat meneruskan bisnis Papa. Salah, di benak saya hanya kesalahan telah melakukan hal terbaik selama ini untukmu. Benar-benar salah!"

Lily semakin menarik ujung bibirnya supaya terus tersenyum. Perlahan, ia meninggalkan kantor polisi menuju pangkalan ojek dengan langkah bergetar.

"Bila kamu berpikir kehidupan itu pasti berjalan pada apa yang kamu inginkan. Kamu egois! Benar-benar egois! Papa berniat membesarkanmu bukan untuk leha-leha. Jauh hari Papa telah menetapkan takdirmu untuk meneruskan pekerjaan Papa kepada kamu, Ly. Kamu! Sebagai anak pertama! Tapi mengapa tidak sedikit saja kamu menuruti permintaan itu?! Kamu anak yang serakah!" Intonasi Aryo semakin meningkat, semakin meluap emosinya hingga tidak peduli kata-katanya dapat melukai putrinya di sana.

Kali ini bukan langkah kakinya saja yang lemas karena sedari tadi tak berhenti bergetar, tetapi lengannya yang menggenggam ponsel mulai menandakan kelelahan untuk menopang massa yang serasa memberat itu. Dunianya terasa menekannya untuk hanya sekedar bertahan.

"Apa kamu tidak sadar seserakah itu kamu!? Semua orang yang dilahirkan seharusnya membahagiakan orangtuanya, dan kamu? Tidak terlihat layak disebut anak dari bagian saya! CAMKAN ITU!!!"

Lily menggigit bibirnya seraya tetap terlihat tenang. Apapun yang papanya katakan hanyalah unek-unek kekesalan saja, ia yakin itu. Ia pernah membaca buku prihal amarah, marahnya seseorang bisa melupakan perkataannya hingga dapat menyakiti yang mendengarnya. Ia yakin, papanya hanya marah dan kecewa kepadanya. Bukan menyesal telah melahirkannya. Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya.

Ia yakin Aryo adalah papanya yang baik. Apapun yang dikatakannya tadi hanyalah bentuk kekecewaan, bukan penyesalan.

Tidak ada yang membuka percakapan setelah itu. Sunyi sementara. Sampai akhirnya Aryo mulai bersuara lagi.

"Tidak sopan sekali. Bicara panjang lebar tapi tidak didengar."

Lily berhenti melangkah setelah sampai di pangkalan ojek yang ternyata sedang sepi. "Lily dengar kok, Pa. Iya paham. Lily salah di mata Papa selama ini. Maafin Lily. Ngga ada hal yang pantas Lily pertahanin, semuanya murni kesalahan Lily."

Sambungan dimatikan di pihak papanya.

Ponsel ia masukkan lagi di saku. Memilih duduk di pangkalan yang memperlihatkan jalan kota yang bising. Namun, di balik kebisingan tersebut, terdapat keheningan yang terjadi di kehidupannya. Kehampaan yang tak terelakkan.

Kali ini Lily menengadah. Langit tampak bercahaya dengan ribuan awan berbagai bentuk. Saat angin berembus pada tubuhnya, terdapat debu jalanan berhasil menusuk matanya yang kering. Lily tidak dapat mengusir perih pada matanya. Tanpa persetujuan dahulu, matanya berair. Lily buru-buru mengucek kedua matanya kuat-kuat sebelum air mata mengalir dan berjatuhan menjadi bulir-bulir basah di seragamnya. Terus ia kucek tanpa bisa Lily hentikan.

Karena pada dasarnya, ini bukan kejahatan angin yang menusuknya hingga bisa membuat matanya perih berair. Namun, karena tubuhnya yang sedari tadi bertahan melawan dari arus kelemahan, walau pada akhirnya kembali pada yang seharusnya. Ia sebagai anak pertama, sebagai penerus pemimpin keluarga, rupanya tetap manusia yang berusaha tegar terhadap keletihan tubuhnya selama ini.

Lily masih mengucek matanya, tidak membiarkan setetes air bergulir ke bawah. "Perih … gue udah bosen harus minum kopi lagi," ia terkekeh, suaranya nampak bergetar lirih.

***

Lily Kacamata - [ COMPLETED ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang