* * *
Begitu Agrav menutup pintu, sahutan dingin dari sosok di dalam kamar itu membuatnya merinding seketika.
“Mau apa kamu ke sini?”
Agrav menelan saliva dengan gugup, perlahan ia berbalik dan berusaha menampilkan ekspresi tenang. “Aku..., mau bicara sama kamu.”
Joe tersenyum sinis. “Maaf, tapi aku tidak berminat membuang waktuku untuk meladeni bocah sepertimu.” Baru saja ia akan berbalik pergi, seruan Agrav membuatnya menghela nafas dan memilih untuk mendengarkan—walau sebenarnya tidak serius— sejenak.
Ia memutuskan untuk membuat kamar Mona menjadi kedap suara. Menurutnya pembicaraan ini pasti akan memakan waktu lama dan Mona tidak boleh mendengarnya.
“Aku mohon, kali ini aja. Aku Cuma mau jelasin faktanya sama kamu.” Agrav menatapnya memohon yang dibalas Joe dengan memutar bola mata malas. “Fakta apa?” ketusnya.
Agrav berdehem sejenak. “Semuanya. Tentang apa yang aku ceritain sama, Mona di rumahku waktu itu.”
Joe mengernyit. “Kamu sebenarnya tahu kalau aku memang ada di sana waktu itu, kan?”
“Iya.” Agrav mengulum bibirnya. “Aku mau kamu dengerin ceritaku.”
“Tapi apa yang kamu ceritakan pada, Mona itu salah!” pekikan Joe membuat Agrav sedikit tersentak karena terkejut. “Kakek sendiri yang cerita sama aku waktu masih kecil dulu.” Ungkapnya.
Joe diam mendengarkan sambil bersedekap di atas kasur Mona. Agrav melajutkan. “Aku nemu surat yang ditulis tangan sama kakek, dia nyembunyiin surat itu di buku tebal yang ada di rak buku depan televisi.”
Lelaki itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas lalu menunjukkannya di hadapan Joe dengan tangan gemetar. “Ini suratnya. Aku bawa ke sini, buat kamu. Siapa tau kamu mau baca.”
Joe mendengus lalu memalingkan wajah. “Tidak perlu. Bawa pulang saja sana!”
Agrav menelan ludah gugup. Mona benar, hantu ini memang keras kepala dan menyebalkan. “Oke, kalo kamu gak mau baca, biar aku yang bacain buat kamu.”
“Hei!” Joe memekik terkejut karena Agrav berani membantahnya. Tetapi lelaki dengan kaus navy itu tetap bersikeras bercerita. “Sebenernya, kakek gak pernah membunuh kamu sama keluarga kamu. Itu semua orang lain yang ngelakuinnya. Kamu tau kepala koki di rumah kamu dulu, dia yang punya otak dibalik tragedi yang kamu alami.”
Joe mengernyit tak yakin. Ia merasa kepala koki yang bocah itu maksud pasti Pak John, pria berkebangsaan yang sama seperti ayah, Inggris. Tapi setelah ia berusaha mengingat-ingatnya, pria yang bahkan usianya sudah lebih dari setengah abad itu tak mungkin melakukan itu semua, karena dia orang yang sangat baik apalagi dengan keluargnya.
“Tidak mungkin! Pribumi itu pasti menipu!”
Agrav menghela nafas. “Yang kamu bilang pribumi itu, kakekku.” Ujarnya tak terima.
Joe menggerutkan hidung. “Aku tak peduli!” Ia mengabaikan ekspresi bocah di depannya yang—sepertinya—mulai mengeluarkan tanduk karena kesal.
“Ya ya, terserah kamu aja.” Agrav melirik sejenak kertasnya kemudian menatap Joe. “Kakek sadar kalo dia emang salah udah suka sama ibu kamu. Tapi waktu ayah kamu menentangnya, kakek lalu berhenti dan tidak pernah mengungkit itu lagi. Kepala koki itu yang berniat jahat sama keluarga kamu. Dia serakah dan licik. Deket sama keluarga kamu itu, salah satu alasannya. Dia pingin menguasai harta keluarga kamu yang buanyaaak banget itu.”
Joe mengerutkan hidung. “Yang benar?”
Agrav mengangguk yakin. “Iya! Kecelakaan orangtua kamu itu udah direncanain sebelumnya. Kepala koki itu nyuruh orang buat ngerusakin rem mobil itu.” Setengah tak percaya, Joe mengernyit namun tetap membiarkan Agrav kembali bicara. “Kebakaran di rumah kamu juga disengaja. Kepala koki itu juga yang jadi dalangnya. Dan sayangnya, dia kerjasama dengan para maid kamu. Waktu dia tau kalo paman kamu belom pulang, dia dan semua maid itu nyiram bensin ke rumah kamu, terus mereka sengaja ngunci kamarmu biar kamu gak bisa keluar. Lalu, ya..., rumah itu dibakar. Dari jauh-jauh hari mereka udah rencanain ini.”
Joe tetap diam mencerna semua yang Agrav katakan. Sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Mendadak, ia jadi berasumsi alasan mengapa saat itu salah satu maid memintanya untuk tidur lebih cepat dari biasanya, apa mungkin itu alasanya? Mereka ingin membakarnya hidup-hidup sebelum paman pulang? Agar tidak ada saksi mata mungkin?
Agrav menambahkan kembali. “Kakek gak salah. Dia gak masuk dalam semua tragedi yang terjadi sama keluarga kamu. Ini murni gara-gara kelicikan si kepala koki itu. liciknya lagi, dia justru nuduh kakek-lah dalang dibalik semua ini gara-gara selisih paham dulu.” Ia kembali mengangsurkan surat itu pada Joe. “Kakek juga minta maaf kalo dia bodoh karena udah pernah suka sama ibu kamu. Tapi sebenernya kakek gak sengaja, dia bilang rasa sukanya itu cuma sebatas karena ibumu baik banget sama pribumi kayak kakek, dia bener-bener sayang sama kamu dan keluargamu. Dia gak pernah ngelakuin apa yang selama ini jadi 'mimpi buruk' buat kamu. Dia gak bunuh orangtua kamu, dia juga gak bunuh kamu. Kakek bener-bener sayang sama kalian, karena Cuma kalian yang mau memperkerjakan kakek yang seorang pribumi satu-satunya di rumah kalian, apalagi sebagai asisten pribadi ayah kamu.”
Joe hanya menatap diam kertas yang dipegang Agrav. “Darimana pribumi itu tau semuanya? Dia lihat? Tapi tidak berusaha menghentikannya?!” pekiknya.
***
Maaf, dihapus sebagian untuk kepentingan penerbitan 🌱
KAMU SEDANG MEMBACA
My Friendly Ghost [TERBIT]
Fantastique[Sudah Terbit] Aku tidak pernah menyangka jika rumah peninggalan orangtuaku, ternyata sudah lebih dulu berpenghuni sebelum kami datang. Aku bukan seorang indigo, apalagi memiliki kemampuan semacam sixth sense. Tapi entah kenapa, aku justru bisa meli...
![My Friendly Ghost [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/109770917-64-k88256.jpg)